Selasa, 10 Oktober 2017

Prewangan?

Prewangan?

Teks: Markus 11:28
dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?"

Shalom, selamat malam saudaraku terkasih. Hari minggu kemarin, ibadah di gereja kami dipimpin oleh seorang pendeta senior dari salah satu kota di Jawa Timur.* Ia menegaskan bahwa orang-orang Kristen saat ini jangan mau berpuas diri menjadi orang Kristen biasa-biasa saja, melainkan hendaklah kita berani berjalan dalam iman dan dalam kuasa Roh Kudus.
Saya agak tertegun sekaligus terharu mendengar khotbah yang blak-blakan itu. Sudah begitu lama tidak ada yang berani berkhotbah menekankan berjalan dengan iman dan dalam kuasa Tuhan, mungkin karena di gereja kami segala sesuatu cenderung diukur melalui rasio. Bahkan kalau mau menggunakan ungkapan yang tajam, "spiritualitas seringkali direduksi menjadi rasionalitas."
Tidak hanya itu, beliau juga menyatakan bahwa sudah cukup lama mengalami kegalauan dan frustrasi karena banyak rekan-rekan sejawatnya, para pendeta, yang menuduhnya menggunakan "prewangan."
Mengenai istilah prewangan, demikian penjelasan singkat beliau melalui pesan elektronik: "Prewangan itu roh halus, tuyul, gendruwo, jin, dsb. Banyak orang memanfaatkan hal itu untuk bantu supaya orang itu menjadi cepat sukses."

Kuasa
Padahal beliau hanya berdoa dan terus berdoa tiap kali ada jemaat yang sakit, dan satu per satu mujizat dan kuasa Tuhan dinyatakan.(1)
Kini ia mengadakan khotbah penyembuhan seminggu sekali di gerejanya, dan selain itu beliau mengucap syukur bahwa anak-anaknya juga dikaruniai berbagai kemampuan supernatural yang luar biasa. Misalnya, anaknya yang bungsu dapat memerintahkan kepada galon air isi ulang untuk pergi ke sana atau ke sini, hanya dengan mengatakan,"Dalam nama Yesus, pergi ke sana!"
Bukankah hal-hal ini memang pernah dinubuatkan oleh Yesus bahwa para murid akan melakukan hal-hal yang jauh lebih besar?

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yoh. 14:12)

"Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Mat, 17:20)

Seusai dari ibadah, kami sempat berbincang-bincang sejenak, dan saya sempat menyinggung bahwa seringkali gereja masa kini terlalu mengandalkan kemampuan rasional manusia khususnya otak kiri, padahal spiritualitas yang sejati seringkali melampaui rasio. Tentu itu tidak berarti menjadi anti-rasio, melainkan "supra-rasional."

Penutup
Kiranya artikel ini dapat menguatkan iman pembaca sekalian. Seperti ditulis oleh John Ortberg, jika Anda ingin mengalami kuasa Tuhan dan berjalan di atas air, langkah pertama adalah Anda mesti melangkah keluar dari "perahu" Anda. (2)(3)
Perahu itu bukan hal-hal fisik seperti gereja atau kantor atau pabrik, namun batasan yang Anda buat dalam pikiran Anda sendiri.
Selamat berjalan dalam iman.

Versi 1.0: 10 oktober 2017, pk. 17:22
Versi 1.1: 10 oktober 2017, pk. 18:14
VC

*Terimakasih kepada Pdt. Untung Irwanto.

Referensi:
(1) Ken Blue. Authority to Heal. Jakarta: Yayasan Pancar Pijar Alkitab, 2010
(2) John Ortberg. If you want to walk on water..., url: http://www.zumbrolutheran.org/uploads/worship/sermons/2011-worship/3.9.11-walkonwater1.pdf
(3) John Ortberg. Jika anda ingin berjalan di atas air, keluarlah dari perahu. Surabaya: Literatur Perkantas, 2016.





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Singkong

Singkong

Teks: 1 Tesalonika 5:18
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Shalom, selamat malam saudaraku yang terkasih. Mulai pekan lalu di gereja kami sedang berlangsung bulan keluarga. Lalu sabtu pagi tempo hari (7/10) staf gereja mencabut sebatang pohon singkong yang ditanamnya beberapa bulan lalu.*
Ternyata umbinya lumayan besar, lalu kami foto bersama dan saya mengunggah foto itu di akun IG saya dengan tagline "panen singkong di gereja." Ternyata banyak juga yang menyukai foto sederhana itu.
Tentu bukan maksud saya untuk pamer singkong yang tidak seberapa itu, namun kami belajar mensyukuri berkat dari Tuhan, sekecil apapun itu. Bukankah sebagai gereja kadang kita terlalu sering menggerutu akan berbagai hal: khotbah yang tidak menyapa umat, pejabat gerejawi yang melakukan kesalahan ini itu, lalu sesama jemaat yang melukai hati kita, atau ucapan seorang pengunjung yang kurang enak, dst.
Pokoknya selalu saja ada 100 alasan untuk menggerutu, lalu kita jadi mirip seperti bangsa Israel ketika keluar dari perbudakan Mesir. Padahal, selalu ada 1000 alasan untuk mengucap syukur. "Hitunglah berkatmu setiap hari," demikian syair sebuah lagu.
Tuhan begitu rindu untuk melimpahkan berkat-Nya setiap hari, terutama kepada umat-Nya yang tahu mengucap syukur atas segala berkat yang mereka terima dari Tuhan.
Tuhan yang kita sembah bukan saja Tuhan atas peristiwa-peristiwa besar, namun juga Tuhan atas berkat-berkat kecil. Ia tidak hanya berbicara dalam badai dan tiang api, namun juga melalui angin sepoi-sepoi, artinya melalui hal-hal kecil setiap hari.

Sola Gratia + Soli Deo Gloria.

Versi 1.0: 10 oktober 2017, pk. 18:32
VC

*Terimakasih kepada pak Andreas.







Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Kamis, 05 Oktober 2017

Michelin

Michelin

Teks: Lukas 9:25
"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?"

Shalom, selamat malam saudaraku. Michelin adalah sejenis bintang penghargaan bagi restoran-restoran berkualitas di Perancis. Bintang 1 sudah bagus, bintang 2 artinya kualitas luar biasa, bintang 3 artinya chef kelas dewa. Ada link yang menyebut bahwa hanya ada 27 restoran di Perancis yang meraih bintang 3 Michelin. (1)
Yang unik dengan bintang Michelin ini adalah stres yang luar biasa bagi chef yang menyandangnya.
Begitu stresnya, sampai-sampai ada chef bintang 3 bernama Sebastien Bras yang baru-baru ini menjadi berita lantaran meminta Michelin untuk mengambil kembali ketiga bintangnya.(2)
Mungkin saja, meski belum pasti, bahwa langkah Sebastien itu terinspirasi dari film tentang chef di Perancis, berjudul The Hundred-Foot Journey.(3) Kebetulan kemarin film ini ditayangkan ulang di salah satu saluran tv kabel.

Kisah ringkas
Film ini dibuka dengan Hassan dan keluarganya yang baru tiba di Perancis, namun mobilnya mengalami kerusakan rem di sebuah desa. Mereka berasal dari India. Dan peristiwa ini menjadi inspirasi bagi ayah Hassan untuk membuka restoran India di desa itu.
Ternyata lokasi restoran yang mereka buka berhadapan dengan resto Perancis yang dimiliki oleh seorang wanita Perancis yang sangat konservatif (dimainkan dengan sangat apik oleh Helen Miller).
Tentu saja terjadi persaingan baik terbuka maupun tersembunyi antara pemilik maupun pegawai-pegawai kedua restoran itu. Namun akhirnya, Hassan membantu restoran Perancis di seberang resto ayahnya itu sehingga meraih dua bintang Michelin.
Selanjutnya, Hassan ingin menjajal keahliannya sebagai chef di Paris, kota idaman para chef kelas dunia. Dia bergabung dengan sebuah resto modern, yang menerapkan ilmu gastronomi (bukan astronomi) untuk mengembangkan cita rasa yang spektakuler. Akhirnya Hassan berhasil menjadi chef terkemuka di seluruh Perancis, dan mendapat Michelin ketiga.
Namun, suatu kali ia teringat kembali dengan masakan India, dengan keluarganya, dan akhirnya ia memutuskan kembali ke desa dan restoran tempat ia dulu meraih bintang Michelinnya.

Komentar
Memang ini film tentang bagaimana suka dukanya meraih bintang Michelin, namun saya kira ada pesan yang sangat penting juga disisipkan dalam film ini, yakni: betapapun kerasnya persaingan antara dua restoran yang berhadapan, namun lebih indah kerjasama dan persahabatan. Lihat juga (4).
Pesan penting lainnya, menjadi orang yang berprestasi cemerlang dan dikagumi orang banyak itu memang bagus, tapi lebih bagus lagi menjadi diri sendiri dan hidup dalam sukacita bersama keluarga dan orang-orang yang kita kasihi.
Pada akhirnya, film ini merupakan kisah yang baik tentang filsafat "anti-utilitarianisme," yang sangat berbeda dengan utilitarianisme (Benthamism) yang sangat mewarnai teori-teori ekonomi modern.(5)(6)
Bagi penulis, ajaran-ajaran Yesus sangat bernuansa anti-utilitarian(7), lihat misalnya perumpamaan berikut:

15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk. 12:15-21)

Penutup
Film The Hundred-Foot Journey ini sangat direkomendasikan untuk disaksikan sekeluarga, karena banyak pelajaran berharga tentang nilai-nilai kehidupan dan persahabatan.

Versi 1.0: 5 oktober 2017, pk. 11:07
VC

Referensi:
(1) https://www.eater.com/maps/the-27-michelin-three-star-restaurants-of-france
(2) https://www.nytimes.com/2017/09/21/world/europe/sebastien-bras-michelin-star.html
(3) http://www.imdb.com/title/tt2980648/
(4) Samuel Bowles & Herbert Gintis. A cooperative species. Princeton: Princeton University Press, 2011.
(5) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Utilitarianism
(6) http://www.efm.bris.ac.uk/het/sidgwick/bentham0.htm
(7) http://commons.cc/antropi/wp-content/uploads/2013/02/Anti-utilitarianism-Economics-and-the-Gift-paradigm.pdf



Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Rabu, 06 September 2017

Kepemimpinan

Kepemimpinan

Shalom, selamat sore saudaraku yang terkasih. Memang sudah banyak buku yang diterbitkan tentang topik yang satu ini, baik untuk kepemimpinan dalam organisasi bisnis dan pemerintahan, dan juga kepemimpinan dalam lembaga rohani seperti misi atau gerejawi. Namun toh topik ini sepertinya tetap aktual untuk dibahas.

Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan adalah sebuah konsep yang sangat beragam dan luas. Namun, para penulis masalah-masalah kepemimpinan pada umumnya mengaitkan konsep ini dengan pengaruh. John C. Maxwell misalnya, menuliskan hal itu dalam bab pertama yang dengan jelas diberinya judul: The definition of leadership: influence (1993). Peter Northouse merumuskan agak berbeda, yaitu bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses ketika seseorang memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama.(10)
Namun agaknya kedua definisi tersebut dipengaruhi oleh pemikiran di barat yang terlalu menumpukan proses perubahan pada diri seorang pemimpin yang kharismatik. Peter Senge memberikan definisi yang mungkin lebih sehat dan lebih tepat dalam konteks Asia yang lebih menekankan harmoni dalam masyarakat, sebagai berikut: "Kepemimpinan adalah kapasitas suatu komunitas untuk mewujudkan realitas-realitas baru menjadi kenyataan." (Leadership is the capacity of community to bring forth new realities.) Pada hemat saya pendapat Senge ini lebih dekat dengan corak kepemimpinan gereja perdana yang mencerminkan gaya kepemimpinan Trinitarian.(1)
Lalu bagaimana dengan kepemimpinan gerejawi di banyak lembaga rohani kristen saat ini?

Kepemimpinan gerejawi
Sebenarnya, cukup lama saya menghindari untuk menulis artikel tentang kepemimpinan, karena saya merasa masih muda untuk membahas topik yang "berat" ini. Namun kira-kira satu bulan lalu saya menjadi tertarik dengan isyu bagaimana kepemimpinan gerejawi dikembangkan sejalan dengan pemikiran kontemporer tentang Allah Tritunggal?
Terpicu oleh sebuah percakapan gerejawi dalam forum persidangan klasis di gereja kami sekitar bulan Juni lalu, saya jadi mulai terpikir, mungkinkah selama ini kita agak keliru membaca gaya kepemimpinan Yesus?
Barangkali sebagian kita ketika membaca sekilas kitab Injil, mendapat kesan bahwa Yesus menggunakan gaya kepemimpinan kharismatik yang cenderung agak otoriter. Dan persepsi itu agaknya ikut mempengaruhi gaya kepemimpinan yang kerap kita jumpai dalam (maaf) kebanyakan gereja kharismatik-pentakostal. Mengapa saya berpendapat demikian?
Karena format kepemimpinan yang diadopsi kerap seperti ini: "Senior Pastor-Junior Pastor-Penatua-Diaken," dengan kata lain hampir semua keputusan penting diarahkan oleh kepemimpinan tunggal yaitu pastor senior. Mungkin saya keliru, namun di gereja-gereja arusutama, kepemimpinan lebih bersifat kolektif-kolegial, dengan menekankan fungsi majelis (penatua+pendeta) sebagai pengambil keputusan secara kolektif.
Saya tidak bermaksud mengatakan gaya kepemimpinan yang satu lebih unggul dari yang lain, karena masing-masing pola memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun mari kita bertanya: adakah gaya alternatif kepemimpinan yang bercorak Trinitarian, dan barangkali lebih dekat dengan gaya kepemimpinan Yesus dan juga para rasul dalam gereja perdana?
Saya sempat menanyakan hal ini via sms kepada seorang pendeta dan teolog senior yang juga saya anggap sebagai salah satu mentor saya, yaitu Pdt. Dr. Joas Adiprasetya dari STT Jakarta, dan jawaban sms beliau adalah seperti berikut:

"Kepemimpinan trinitarian sedang saya kembangkan lewat kepemimpinan sahabat. Cuma saya tidak ingin paksakan masuk ke tager."*

Karena itu, kali ini izinkan saya merangkum beberapa ciri yang bisa kita pelajari dari gaya kepemimpinan sahabat yang diterapkan Yesus, setidaknya sejauh yang saya pahami.

7 ciri kepemimpinan sahabat dengan meneladani Yesus

a. Dialogis (partisipatif)
Jika kita membaca Keempat Injil sebagai satu kesatuan, banyak sekali terjadi dialog yang terbuka dan jujur, misalnya antara Yesus dan Petrus, antara Yesus dan pemuda kaya, antara Yesus dan Nikodemus, antara Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub. Tampaknya, Yesus senang menggunakan gaya dialogis seperti ini ketimbang memerintahkan sesuatu. Atau jika meminjam Martin Buber, gaya kepemimpinan Yesus adalah I-Thou, atau dalam bhs Jawa kerap disebut "ngewongke" (memanusiakan).

b. Mengutamakan pengalaman (experiential)
Alih-alih mengajar kelas intensif selama 14 hari, tampaknya Yesus lebih suka berjalan-jalan di bukit, naik perahu dan ikut membantu para murid menjala ikan. Ia tercatat beberapa kali mengajar langsung dari perahu, menyembuhkan 10 orang kusta, bahkan membangkitkan Lazarus yang sudah masuk kubur 3 hari, hanya supaya para murid "belajar percaya."
Sungguh suatu pengalaman belajar yang sungguh asyik dan hidup bagi para murid, itu sebabnya dikatakan bahwa para nabi begitu iri akan para murid yang bisa begitu dekat hidup bersama Sang Mesias. Pengalaman langsung seperti ini menurut psikologi jauh lebih efektif dalam menanamkan pesan ketimbang menjejalkan informasi tanpa melihat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Bayangkan jika para dosen dan profesor mengajar ilmu ekonomi bukan di ruang kelas, melainkan langsung di pasar tempat orang berdagang misalnya. Atau mengajar kelas teologi langsung dengan bertanya jawab di jalanan. Bisa jadi dampaknya akan dahsyat juga seperti pengajaran Yesus.

c. Chaordik (spontan)
Menurut Gary Goodell, Yesus meneladankan kepemimpinan dengan hidup dan berjalan bersama para murid-Nya, orang-orang yang Dia jumpai sehari-hari, dan para pemimpin agama pada zaman-Nya. Para pemimpin gereja saat ini seharusnya dapat meniru Dia dengan gaya kepemimpinan yang lebih mengutamakan hubungan. Gaya kepemimpinan ini lebih bersifat "chaordik" (kacau tapi teratur), atau lebih spontan. Gaya chaordik ini bukan sekadar berdasarkan pada naskah, teks, atau khotbah formal yang disampaikan dari mimbar, melainkan interaksi dua arah yang dapat membantu para murid bertumbuh dan berkembang dalam karunia mereka melalui pemuridan sederhana. (11)

d. Berorientasi pada aksi
Yesus sungguh memberikan penekanan pada aksi nyata, sebagai bagian dari proses pembelajaran yang hidup. Termasuk ketika Ia mengubah air menjadi anggur, ketika Ia memberi makan 5000 orang laki-laki, ketika Ia mendatangi para murid saat badai, bahkan ketika Ia sedang cemas menyongsong masa penderitaan-Nya. Saya tidak tahu apakah para guru tentang kepemimpinan seperti John Maxwell pernah memberi contoh berjalan di atas air? Rasanya kok tidak.
Maksud saya tentu bukan mengecilkan peran para guru kepemimpina kontemporer, namun ada seni mengajar yang hilang dalam sejarah gereja.
Seingat saya, dalam sejarah gereja hanya ada beberapa orang Kristen yang hidup begitu dekat dengan alam dan mengajar sambil berjalan keliling dari desa ke desa, di antaranya Franciskus dari Asisi dan Sadhu Sundar Singh.

e. Lembut namun juga lugas dan tegas
Yesus senantiasa bersikap lembut secara konsisten, seperti kepada Lazarus, Nikodemus, dan kepada perempuan yang pendarahan dan lancang menyentuh jubah-Nya. Ia tidak marah ketika diurapi oleh perempuan tidak dikenal, dan juga ketika dikerubuti anak-anak yang mungkin agak lusuh. Namun Ia juga bisa tegas ketika melihat bagaimana Bait Suci dijadikan pasar hewan dan penjual riba.

f. Dipimpin Roh Kudus
Teks berikut dalam Lukas kiranya menggambarkan dengan jelas bahwa keteladanan dan semua aksi yang dilakukan Yesus senantiasa diilhami oleh Roh Kudus yang senantiasa tinggal di dalam diri-Nya.

"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara..." (Yes. 61:1)

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda membiarkan Rob Kudus berkarya dengan bebas melalui hidup Anda, atau Anda lebih sering berupaya memadamkan roh?

19 Janganlah padamkan Roh,
20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (I Tes. 5:19-20)

g. Dalam relasi intens dengan Sang Bapa
Ciri yang terakhir dan bahkan yang terpenting adalah hubungan yang begitu intens yang dibangun dengan doa setiap subuh dan malam. Yesus senantiasa hidup dalam penghayatan yang tulus bahwa hidup-Nya tidak lama di dunia, dan Ia persembahkan seluruh hidup untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa-Nya, yaitu menyelamatkan seisi dunia.

Penutup
Demikian sekelumit pemaparan tentang kepemimpinan Trinitarian yang bercorak dialogis-persahabatan, kirnya bergun bagi kita semua.
Tentunya ketujuh ciri kepemimpinan sahabat yang diteladankan Yesus ini masih dalam tahap eksplorasi awal penulis. Namun kiranya dapat menjadi bahan pemikiran bagi pengembangan gaya kepemimpinan yang lebih bercorak Trinitarian, ketimbang model otoriter yang kerap diadopsi pemimpin gereja masa kini"
Bagaimana dengan gaya kepemimpinan Anda?

versi 1.0: 5 september 2017, pk. 22:02
versi 1.0: 6 september 2017, pk. 16:07
VC

catatan:
*Terimakasih kepada bp Pdt. Dr. Joas Adiprasetya.
*Artikel ini ditujukan kepada kolega saya yang sedang menulis disertasi tentang kepemimpinan, Pdt. Philipus.

Referensi:
(1) Len Hjalmarson. Trinitarian nature of leadership. Crucible 5:2. Url: http://www.ea.org.au/site/DefaultSite/filesystem/documents/Crucible/5-2%20November%202013/Hjalmarson%20-%20Trinitarian%20Nature%20of%20Leadership%20-%20Crucible%205-2%20November%202013.pdf
(2) http://www.nextreformation.com/wp-admin/resources/Trinitarian_Leadership.pdf
(3) Gregory Baxter. A leadership training manual for 21st century church. Url: http://digitalcommons.liberty.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1478&context=doctoral&sei-redir=1
(4) Uche Anizor. Url: https://rdtwot.files.wordpress.com/2010/07/anizor-uche_a-spirited-humanity-the-trinitarian-theology-of-colin-gunton.pdf
(5) Elmer M. Colyer. Url: http://www.vaumc.org/ncfilerepository/AC2014/Colyer3.pdf
(6) Nicholas Jesson. Url: https://www.ecumenism.net/archive/jesson_volf.pdf
(7) Ian T. Douglas. Url: http://www.gemn.org/documents/Missiongoal_docs/MATheology.pdf
(8) Novita L. Sahertian. Url: http://www.ijsrp.org/research-paper-0416/ijsrp-p52104.pdf
(9) Milan Homola. Unitarian relational leadership: the myth! (2008) Url: http://consumingjesus.org/wp-content/uploads/milan_homola_-_trinitarian_leadership.pdf
(10) Sigit Setyawan. Menyusun leadership training untuk remaja. Yogyakarta: Andi Offset, 2017
(11) Gary Goodell. Cara Yesus memimpin: sebuah studi dalam meneladani kepemimpinan Yesus yang chaordic. Yogyakarta: Andi Offset, 2017
(12) Benjamin Agustinus Abednego. Pak Abed Berbicara. Surabaya: Penerbit Berderaplah satu, 2011


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Jumat, 01 September 2017

Milenial

Milenial

Tanggal: 2 september 2017
Topik: Prolog untuk lokakarya penjangkauan kaum muda generasi Milenial
Teks: Lukas 24:13-31

Pendahuluan
Selamat sore, bapak ibu dan adik-adik terkasih. Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersama-sama memikirkan tanggung-jawab gereja dalam melayani kaum mudanya. Tanggung-jawab ini tentu bukan saja demi keperluan regenerasi kepemimpinan gerejawi, namun juga karena alasan yang lebih esensial, yaitu perintah Yesus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
Dan generasi kini sungguh haus akan sapaan dari gereja yang ramah dan mampu memahami dunia mereka. Tentu banyak masalah yang dihadapi gereja, bukan saja faktor kurangnya pemahaman akan dunia teknologi komunikasi yang begitu mendominasi dunia orang muda, namun juga gereja sering tidak memiliki arah yang jelas.

Gereja yang gamang melayani orang-orang muda?
Seperti kita ketahui bersama, gereja-gereja arus utama akhir-akhir ini merasakan menurunnya partisipasi pemuda dalam aktivitas gerejawi. Mengapa demikian? Sebagian mencoba menyalahkan gereja-gereja gelombang ketiga yang begitu aktif menjangkau pemuda, namun saya kira persoalan yang ada lebih mendalam dari itu. Kalau mau jujur, gereja seringkali kurang tanggap dalam memahami kebutuhan remaja dan pemuda saat ini, sehingga mereka mungkin lebih suka hang out bersama teman-teman mereka di kafe atau melaluI gawai yang begitu responsif dalam menyediakan segala macam konten.
Lalu apa yang dapat dilakukan oleh gereja?
Berikut ini adalah suatu perenungan dari salah satu tokoh pelayan pemuda di Gereja Katolik, kiranya membantu.(1)

Permasalahan orang muda
- Identitas diri
Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri. Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi permasalahan ini.
Tahun 1992 Keuskupan Agung Jakarta membuat suatu penelitian dengan hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang muda:
Orang muda yang ber umur 13-17 tahun, masalah terbesarnya adalah soal identitas diri. Sedang yang berumus 17-25 tahun umumnya menghadapi permasalahan menentukan karier. Dan mereka yang berumur 25 tahun. plus umumnya bergulat dengan masalah perjodohan.

- Aktualisasi diri
Kecuali kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, orang memerlukan kemudahan dan pendampingan dalam mengaktualisasikan dirinya. Secara sederhana orang muda butuh waktu dan tempat serta teman untuk dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal. Orang dewasa sebetulnya lebih dibutuhkan kehadiran dan keberadaannya lebih sebagai teman daripada sebagai penasihat.

- Pendampingan
Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri. Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping. Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain, maka bila pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya justru dengan aktualisasi dirinya.

Namun, selain ketiga hal tersebut yang memang baik dan perlu, rasanya ada hal yang justru lebih fundamental, yakni bagaimana memperkenalkan orang muda dalam suatu pengalaman perjumpaan yang nyata dengan Tuhan. Hal ini jauh lebih penting daripada sekadar 10 seri pertemuan KTB yang hanya mencekoki mereka dengan informasi namun tanpa pengalaman perjumpaan. Mari kita lihat teks berikut.

Belajar dari Perjumpaan di Emaus
Mari kita lihat teks yang sangat terkenal ini, Lukas 24:13-31

13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

Apa yang kita baca dari teks di atas? Kedua orang ini sedang berbicara tentang peristiwa-peristiwa penting di sekitar Yerusalem, namun mereka gagal memahami makna peristiwa itu dalam terang Alkitab. Bukankah orang-orang muda juga kerap membicarakan berbagai peristiwa yang tampak menakjubkan bagi mereka? Namun, seperti kata-kata bijak berikut: "orang-orang biasa membicarakan orang-orang, orang-orang cerdas membicarakan peristiwa, namun orang-orang besar membicarakan konsep-konsep." Namun kata-kata bijak itu masih kurang satu tahap lagi, yakni orang-orang benar menjumpai Yesus Kristus yang Hidup.
Jadi di sinilah Yesus masuk dalam percakapan mereka, dan Ia menjelaskan kitabsuci kepada mereka, sampai akhirnya mereka mengalami hati yang berkobar-kobar dan pada titik puncak, tabir yang menghalangi mereka diangkat, dan mereka mengenali sang Guru dan Mesias yang dari tadi mereka bicarakan.
Itulah salah satu tugas Gereja yang sesungguhnya, yakni mengantar generasi Z dan milenial agar mereka juga mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus secara personal. Sudahkah kita memikirkan hal ini?

Tantangan Gereja: Membuat ruang bagi Tuhan bersama generasi Milenial(2)
Don Postema mengatakan,"Allah membuat ruang bagi kita dalam komunitas kovenan. Kita dirangkul sebagai anak. Kita menjadi bagian di dalamnya. Kita menanggapinya dengan membuat ruang bagi Allah dengan menjadi terbuka dalam hidup kita, dan dengan hidup dalam rasa syukur."
Tuhan telah membuat ruang bagi kita dan Dia memanggil kita untuk membuat ruang bagi Dia. Dia juga menggerakkan kita untuk menciptakan ruang bagi anak-anak muda agar mereka bisa terlibat di dalamnya. Kita menciptakan ruang itu dengan meneladani penerimaan Allah terhadap diri kita, memberi mereka kasih yang mengatakan: "Engkau adalah milik Allah."
Kita menciptakan ruang itu dengan membentuk kesempatan bagi anak-anak muda kita untuk menjumpai Allah secara pribadi dan langsung. Kita menciptakan ruang itu dengan membimbing anak-anak muda kepada kedewasaan yang seharusnya dimiliki orang dewasa dan melalui itu mereka belajar membuat ruang mereka sendiri bagi Allah.
Lily Endowment mendanai Youth Ministry and Spiritually Project, suatu eksperimen "membuat ruang" bagi anak-anak muda postmodern. Disponsori bersama oleh Youth Specialties dan San Fransisco Theological Seminary, proyek ini berfokus pada membiasakan 16 kelompok anak muda di Amerika Serikat dalam praktik kontemplasi - "praktik untuk menghasilkan kepekaan yang lebih dalam akan kehadiran Allah." praktik kontemplasi ini di dalamnya merenungkan pembacaan Kitab Suci, doa yang berfokus pada mendengarkan Allah, pengekspresian seni lewat puisi dan lukisan, dan disiplin rohani yang lebih tradisional seperti menenangkan diri dalam keheningan, kesendirian, berpuasa, dan berdoa.
Model-model yang dipakai di masa lalu dalam mendekati Alkitab dan doa seperti "lectio divina", kepekaan terhadap Allah yang dipakai oleh kaum Ignatian dalam bentuk examen, dan doa yang berpusat pada kepekaan akan Allah juga dipakai.
Mark Yaconelli menjelaskan alasan di balik diadakannya proyek itu: "Mereka membutuhkan kita untuk memperlengkapi mereka dengan keahlian yang dapat mengembangkan relasi yang intim dan mengubahkan antara mereka dengan Allah."
Seperti kata Jen Butler, seorang asisten pendeta di Oregon: "Kita seharusnya tidak perlu terkejut ketika program seperti ini berjalan dengan baik. Ini sangat sederhana. Jika Anda membuat ruang, Roh akan hadir."
Dengan perkataan lain, para pembimbing rohani kaum muda adalah para pembuat ruang.

Penutup
Mari kita sebagai pembina atau pengurus badan pelayanan belajar untuk mendekati anak-anak muda bukan dengan segunung aktivitas yang dijejalkan, namun dengan menawarkan keramahan dan persahabatan serta mengajak mereka untuk menciptakan ruang bagi Tuhan.
Pertanyaan untuk direnungkan: "Bagaimana kita membuat ruang yang kudus bagi anak-anak muda postmodern ini?"

versi 1.0: 31 agustus 2017, pk. 12:59
VC

Referensi:
(1) Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Url: http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/
(2) Richard R. Dunn. Membentuk kerohanian anak muda di era postmodern. Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2012.


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Sabtu, 05 Agustus 2017

Sekularisme

Sekularisme

Shalom, selamat malam saudaraku. Izinkan saya kali ini menulis sedikit tentang sekularisme dalam pendidikan dan juga dalam gereja. Sekularisme (atau sekulerisme) dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.(1) Bagaimana menurut pendapat Anda, cocokkah paham sekularisme diterapkan di negeri Pancasila ini?

Sekularisme dalam Pendidikan
Sekilas hal ini tampak baik-baik saja, namun implikasinya sungguh luas, misalnya dalam bidang pendidikan tampak ada indikasi di beberapa kampus ke arah menghilangkan matakuliah pendidikan agama. Bahkan saya mendengar bahwa di kota kami, ada kampus swasta yang cukup terkenal tidak mengizinkan aktivitas persekutuan mahasiswa di lingkungan kampus dengan berbagai alasan.
Kira-kira sebulan lalu saya membaca berita online bahwa ada politisi yang memang menganjurkan agar pelajaran agama dihapuskan dalam kurikulum sejak sekolah dasar, dengan alasan agar bangsa ini lebih cepat maju seperti Singapura atau Australia.
Pada hemat saya, negeri ini telah menetapkan dasar negara yakni Pancasila yang berarti mengakui sila keTuhanan yang Maha Esa, dengan kata lain asas tersebut merupakan jalan tengah di antara dua ekstrem yakni negara agama dan negara sekuler.
Memang di negara-negara maju, paham sekularisme kerap diterapkan bahkan hingga ke titik ekstrem. Misalnya dalam film berjudul "God is not dead seri 2", dikisahkan tentang seorang guru SMA yang menjawab pertanyaan dari seorang siswanya tentang apakah gerakan yang dipelopori Gandhi dan Martin Luther King, Jr. memang terinspirasi dari Khotbah di atas Bukit yang diajarkan Yesus? Guru tersebut menjawab dengan antusias bahwa memang gerakan aksi tanpa-kekerasan mereka terinspirasi dari ajaran Yesus, namun karena jawaban tersebut dia harus menghadapi sidang yang panjang yang mempertanyakan pandangan religiusnya.(2)
Seorang profesor yang saya kenal bercerita hal yang serupa, yakni seorang guru SMA yang menolak mengajarkan teori evolusi karena dia adalah seorang kristen yang taat. Dan pengadilan mengatakan bahwa dia dibayar untuk mengajarkan Ilmu alam, termasuk di dalamnya teori evolusi.
Mungkin permasalahan tidak akan sebegitu rumit, jika guru tadi juga diijinkan untuk mengajar teori evolusi melainkan juga bagaimana pandangan iman kristennya tentang penciptaan, sehingga siswa dapat memilih pandangan mana yang lebih baik. Persoalannya, seringkali guru dilarang bercerita tentang pandangan imannya dan kitab suci, kecuali di kelas agama.
Hal ini juga merupakan salah satu keprihatinan yang disampaikan oleh Rabbi Jonathan Cann dalam pidatonya menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden. Rabbi tersebut antara lain mengatakan bahwa selain Israel, hanya Amerika negara yang menjadi besar karena membawa nama Tuhan dalam konstitusinya.(3) Bahkan matauang Amerika bertuliskan: "Dalam Tuhan kami percaya." Namun ironis sekali, situasi pendidikan di AS sangat mengkhawatirkan, karena sepertinya hukum negara mengesahkan untuk mengeluarkan Tuhan dari ruang-ruang kelas dan perguruan tinggi.
Cahn mengimbau agar Trump dapat mengijinkan kembali diskusi mengenai Tuhan dan penciptaan oleh para guru dan dosen tanpa harus takut dibawa ke pengadilan. Tentu maksudnya adalah agar teori penciptaan diberikan ruang sebagaimana dengan teori evolusi.
Dalam tradisi ilmiah modern, khususnya dalam bidang sosiologi dan antropologi, juga dikenal prinsip sekularisasi yang sama, yang dikenal sebagai "ateisme metodologis." (4) Prinsip ini diperkenalkan oleh Peter L. Berger, seorang sosiolog terkemuka. Intinya, kajian dan penelitian tentang kepercayaan suku-suku kuno tidak boleh melibatkan unsur iman yang bersifat irasional.
Dalam ilmu sejarah, juga dikenal prinsip bahwa sejarah mesti dipelajari sebagai proses yang sepenuhnya bersifat ilmiah dan rasional. Jadi semua unsur mitologi mesti dikeluarkan dari diskusi sejarah. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa teolog-teolog abad 18 dan 19 seperti F.C. Baur mengajarkan teori dialektika sejarah untuk menjelaskan sejarah gereja perdana. Juga Bultmann menganjurkan untuk melakukan "demitologisasi" terhadap narasi-narasi PB.
Dalam ilmu-ilmu alam seperti biologi dan fisika, prinsip ateisme metodologis juga tampaknya merupakan aturan meski tidak tertulis. Karena itu ilmuwan ateis fundamentalis seperti Richard Dawkins sering mengatakan bahwa menjadi seorang ateis merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi ilmuwan yang serius. Benarkah demikian? Cobalah membaca buku Prof. Alister McGrath: The Dawkins delusion.(5)

Sekularisme dalam Gereja
Proses sekularisasi tampaknya juga terjadi dalam praktek gerejawi kita. Yang saya maksudkan tidak hanya dampak negatif dari teologi kemakmuran, teologi sukses dan lain-lain dalam kerangka berpikir kharismatik. Namun, juga tampaknya ada praktek sekularisasi dalam hidup bergereja di gereja-gereja arus utama.
Salah satu contoh, gereja-gereja arus utama tampaknya menghindari diskusi tentang kesembuhan Ilahi, dan mengklaim bahwa teknologi medis merupakan cara yang digunakan Tuhan untuk menyembuhkan manusia. Tampaknya ini agak dipengaruhi oleh rasionalisme barat. Walaupun demikian, penulis dari Fuller Seminary seperti C. Peter Wagner (alm.) telah menulis buku tentang munculnya pelayanan kesembuhan di gereja-gereja gelombang ketiga.
Hal lain yang patut dicermati adalah gereja-gereja arus utama agak alergi untuk membicarakan tentang pertumbuhan jemaat. Entah bagaimana dengan gereja Anda, namun di gereja tempat saya bernaung, istilah yang digunakan adalah "pembangunan jemaat."
Mesti diakui, bahwa istilah PJ pada awalnya dikenal dengan istilah Pembangunan Gereja ("kerkopbouw") di kalangan Nederlandse Hervormde Kerk pada awal tahun 1930an.(6)
Memang istilah PJ kerap dipertentangkan dengan gerakan pertumbuhan gereja yang antara lain dimotori oleh Donald McGavran dan Rick Warren, namun saya memperoleh jawaban yang agak berbeda ketika menanyakan hal ini kepada seorang pendeta senior: Dr. Joas Adiprasetya.* Beliau memang sempat memposting di fb tentang ketidaksetujuan akan konsep pembangunan jemaat karena diwarnai oleh sekularisme di gereja-gereja Belanda, namun beliau juga tidak sependapat dengan model pertumbuhan gereja. Demikian jawaban beliau via sms:

"Saya tidak suka dengan church growth. Yang saya usulkan lebih ke model-model yang muncul dari congregational studies."

Sejauh ini penulis hanya menemukan sebuah paper yang membahas tentang studi kongregasional, dari John Williams.(7) Mungkin studi-studi kontemporer tentang kongregasional bisa dibandingkan juga dengan pemikiran tentang kesehatan gereja.(8)

Penutup
Ada beberapa hal yang kiranya layak untuk dicatat bagi para pemimpin di gereja-gereja:
a. Para pimpinan gereja maupun lembaga pendidikan kristen hendaknya lebih peka akan praktek-praktek sekularisme dalam institusi mereka, yang mungkin tidak cocok dengan semangat kristiani.
b. Para pimpinan sinode kiranya lebih peka akan dampak sekularisme yang merupakan warisan gereja-gereja induk ketika proses Zending dahulu, termasuk penggunaan konsep pembangunan jemaat (PJ) dalam tata gereja.
c. Para pimpinan gereja, baik dari denominasi arus utama, karismatik-pentakostal, maupun gelombang ketiga dan keempat, kiranya membuka diri akan perkembangan pemikiran seputar pertumbuhan kongregasional dan kesehatan gereja, berdasarkan studi-studi yang lebih cocok untuk kondisi di negara dunia ketiga dan Asia.
Kiranya tulisan ini dapat sedikit menyumbang ke arah diskusi yang lebih sehat seputar pertumbuhan dan kesehatan gereja.

versi 1.0: 5 agustus 2017, pk. 21:56
VC

*Catatan: terimakasih atas tanggapan dari bp. Pdt. Dr. Joas Adiprasetya

Referensi:
(1) https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekularisme
(2) https://en.m.wikipedia.org/wiki/God%27s_Not_Dead_2
(3) https://harituhan.wordpress.com/2017/01/28/kata-kata-nubuat-atas-obama-dan-amerika-pada-hari-pelantikan-donald-trump/
(4) http://www.academia.edu/8634356/Must_a_Scholar_of_Religion_Be_Methodologically_Atheistic_or_Agnostic
(5) http://svetlost.org/podaci/the_dawkins_delusion.pdf
(6) Purboyo W. Susilaradeya. Pertumbuhan gereja atau pembangunan jemaat? dalam Bergumul dalam warisan tradisi, editor: Natanael Setiadi.
(7) John Williams. Congregational studies as resource for mission-shaped church. Url: https://biblicalstudies.org.uk/pdf/anvil/26-3_243.pdf
(8) Scott B. McKee. The relationship between church health and church growth in evangelical presbyterian church. Url: http://place.asburyseminary.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1185&context=ecommonsatsdissertations&sei-redir=1


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Selasa, 18 Juli 2017

Prepper

Prepper

Teks: Matius 24:23
"Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan kata "prepper"? Prep artinya: yang berhubungan dengan persiapan. Jadi prepper maksudnya adalah sekelompok orang yang sangat antusias untuk melakukan berbagai persiapan untuk menyongsong segala macam bentuk bencana. Bencana yang dimaksud agak bervariasi, ada yang mengkhawatirkan bencana nuklir, bencana finansial, kelaparan, virus, banjir dsb. Bahkan beberapa waktu lalu ada serial khusus, kalau tidak salah di NatGeo TV, tentang para prepper ini.
Bagaimana dengan negeri ini? Sepertinya tidak banyak orang di sini yang sibuk menimbun bahan makanan karena memang tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hal-hal yang tidak jelas. Dan akan hal ini saya sangat setuju, seperti kalimat Yesus yang sangat terkenal:

"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat. 6:34)

Elenin atau ISON?
Di antara video-video setengah ilmiah yang beredar di youtube, ada yang membahas tentang kemungkinan komet sebesar patung Liberty menabrak lokasi tertentu di bumi sekitar bulan september. Di antaranya disebut tentang komet Elenin yang ditemukan oleh astronom Rusia, Leonid Elenin.(4)
Tidak hanya itu saja, ada lagi ramalan tentang komet ISON atau bahkan planet misterius yang kerap disebut Nibiru. Lihat (5).
Barangkali para peramal dadakan itu lalu menghubungkan kemungkinan bencana dari luar orbit bumi tersebut dengan pengangkatan umat pilihan. Bahkan seorang teman memberikan tautan Youtube yang berisi pesan dari Yusak Elisha yang mengabarkan bahwa pengangkatan akan terjadi tgl 23 september. Dan pesan itu menjadi viral dan menghebohkan banyak umat Tuhan di gereja tertentu.
Kalau Anda mau percaya akan hal itu ya terserah saja, namun yang jelas NASA telah mengkonfirmasi bahwa tidak akan ada peristiwa kataklismik apapun pada bulan september dan oktober tahun ini. (1)
Jika Anda memang punya teleskop dan berniat mengamati benda-benda langit, cobalah lacak sendiri komet-komet yang baru ditemukan sejak 2015. (6)
Sebagai catatan, ada beberapa belas ramalan yang beredar di internet sejak 2007-2015 yang bahkan berani menyebut tanggal terjadinya kiamat, namun semuanya itu meleset.(2)
Sekte Mormon juga percaya bahwa kiamat akan terjadi tgl 28 september tahun ini, dan mereka melakukan persiapan khusus untuk itu.(7)
Memang tahun 2017 ini bertepatan dengan tahun 5777 dalam kalender Yahudi dan memang akan terjadi banyak perubahan besar, tapi bukan dalam artian karaklismik.

Hal-hal yang dinubuatkan akan berubah
Tahun ini adalah 2017, seperti yang dinubuatkan oleh Cindy Jacobs angka 17 berarti kemenangan yang lengkap (8). Termasuk perubahan dalam gereja, dalam keluarga, dalam masyarakat, bangsa maupun hubungan internasional.
Berikut kutipan nubuat dari Cindy Jacobs:

"This John 17 move will extend to families as well as there is a "focus on the family" where longstanding breaches between siblings, and between parents and their children are healed. God is calling for families to pray together and "light" the family altar. Strongholds in family systems are going to be broken in powerful and supernatural ways. This will even extend to strongholds of poverty, disease, alcoholism, and drug abuse.
The John 17 movements will align against injustice and religious strongholds as they decide together that they want a new move of the Holy Spirit.
We are hearing the words, New Wine, New Wine!"

Ada beberapa hal yang jelas dinyatakan oleh Tuhan kepada saya hari ini setelah saya berdoa memohon petunjuk Tuhan, dan saya kira hal-hal ini selaras dengan nubuat yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan yang memiliki karunia itu seperti Cindy Jacobs:(8)
a. Tahun ini bertepatan dengan peringatan 500 tahun gerakan Reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther, dan telah ada yang menulis buku bahwa setiap 500 tahun gereja sebagai Tubuh Kristus akan mengalami pembaharuan secara dramatis
b. Tahun ini memang akan terjadi perubahan besar namun lebih ke arah sistem finansial. Dalam artikel Cindy Jacobs: "There will be many, many changes in this coming year. Changes in locations, houses, buildings, and the breaking off of generational systems of debt."(8)
c. Tahun ini anak-anak Tuhan akan dinyatakan. Lihat juga (3).
d. Tahun ini kuasa-kuasa gelap akan dipatahkan.
e. Tahun ini Injil akan diberitakan kepada segala makhluk tanpa halangan yang berarti.

Apa yang harus kita lakukan?
Jika kita percaya dengan segenap hati akan janji pemulihan dari Tuhan akan bangsa yang mau belajar untuk mendengarkan suara Tuhan dan taat akan perintah-perintah-Nya:

1 "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.
2 Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:
3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. (Ul. 28:1-3)

Maka janji di atas juga berlaku kini dan di sini untuk bangsa ini, karena itu kepada para pemimpin baik di gereja-gereja maupun pemimpin bangsa berusahalah sungguh-sungguh agar berkenan di hadirat Tuhan, serta memperoleh karunia untuk mendengar suara Tuhan. Ini bukanlah hal yang aneh atau hanya terjadi di zaman dahulu, namun dapat terjadi juga sekarang bagi Anda dan saya yang hidup dalam kekudusan dan bergaul akrab dengan Tuhan seperti Musa, Nuh, Abraham, Elia dll.
Setelah itu belajarlah untuk berdoa syafaat secara tekun sedemikian rupa sehingga doa-doamu menjadi doa yang berkenan di hadirat Tuhan dan penuh kuasa.
Untuk mempelajari bagaimana mendengar dan memberitakan suara Tuhan serta bagaimana memiliki doa yang berkuasa, lihatlah 2 buku Cindy Jacobs (9)(10).

Penutup
Tahun ini memang tahun perubahan-perubahan besar, namun ke arah yang lebih baik khususnya bagi gereja sebagai Tubuh Kristus, karena itu stop kecemasan yang tidak menentu dan perasaan tidak berdaya, sebab itu semua datangnya dari si Jahat.
Jangan mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.
Jika Anda ingin mendengar pesan Tuhan untuk tahun ini, maka berdoalah dan mintalah petunjuk langsung dari Roh Kudus, atau setidaknya dengarlah nubuat-nubuat dari orang-orang yang memang memiliki karunia untuk itu.
Tuhan memberkati Anda semua. Amin.

versi 1.0: 18 juli 2017, pk. 15:41
VC

Referensi:
(1) http://www.ibtimes.co.in/nasa-says-worlds-not-coming-end-september-dismisses-asteroid-apocalypse-prediction-635529
(2) http://www.religioustolerance.org/end_wrl18.htm
(3) https://www.hiskingdomprophecy.com/i-will-elevate-you/
(4) https://en.m.wikipedia.org/wiki/C/2010_X1
(5) https://www.nasa.gov/content/goddard/timeline-of-comet-ison-s-dangerous-journey/
(6) http://www.ast.cam.ac.uk/~jds/coms15.htm
(7) http://www.inquisitr.com/2420612/mormons-have-scheduled-the-apocalypse-for-sept-28-but-theyre-probably-wrong/
(8) Cindy Jacobs. Word of the Lord for 2017. Url: https://www.generals.org/articles/single/word-of-the-lord-for-2017/
(9) Cindy Jacobs. Suara Tuhan: bagaimana mendengar dan mengucapkan perkataan dari Tuhan. Light Publishing, 2016
(10) Cindy Jacobs. Kuasa dari doa yang tekun. Light Publishing, 2011


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation