Sabtu, 24 Juni 2017

Dr.Augusto Quiala Maquengo

*DR. AUGUSTO QUIALA MAQUENGO - LIHAT SHOFAR ITU, TUHAN DATANG, TUHAN SUDAH SAMPAI PENGANGKATAN*

Kesaksian Augusto Maquengo, Pengangkatan.

Saudara-saudara,

Seketika itu juga, para jemaat di gereja melihat sebuah cahaya yang sangat besar di atas bumi dan sebuah shofar (terompet) yang sangat besar turun dari langit dan bergerak terus ke tanah dan setiap orang di gereja mulai berteriak dengan keras : 

Lihat shofar itu...!, TUHAN datang, TUHAN sudah sampai.

Apa yang saya lihat kemarin, pada hari Kamis pukul 3:25, itu begitu nyata. Setelah berdoa dengan sungguh-sungguh, saya merasa pengurapan ROH KUDUS seperti api di atas tubuh saya dan saya bisa merasakan bahwa urapan itu sangat kuat. Ketika sedang berdoa, saya memberitahu istri dan saudara ipar saya yang tinggal dengan kami, untuk berhenti berdoa dan setiap orang tetap diam sampai TUHAN berbicara kepada kami. Kami tetap diam untuk kira-kira beberapa menit dan ternyata ini begitu dahsyat. Setelah berdoa saya pergi dan mencoba berbaring di tempat tidur dan setelah beberapa menit saya melihat saya dan keluarga saya sedang berada di gereja dan pada waktu itu adalah tengah malam dengan sangat banyak orang di situ. Kami di sana berkumpul menunggu pengangkatan. Saya di sana bersama istri saya dan kelima anak saya. Ada sangat banyak orang dan saya melihat beberapa orang yang saya tahu dan bahkan saya berpikir bahwa ketika kami menunggu kedatangan TUHAN, mereka juga siap dan akan diangkat, TETAPI MEREKA TERTINGGAL.

Seketika itu juga, para jemaat di gereja melihat sebuah cahaya yang sangat besar di atas bumi dan sebuah shofar (terompet) yang sangat besar turun dari langit dan bergerak terus ke tanah dan setiap orang di gereja mulai berteriak dengan keras : Lihat shofar itu, TUHAN datang, TUHAN sudah sampai. Ketika saya berlari ke jendela untuk melihat shofar yang datang dari surga, saya melihat sebuah shofar yang sangat, sangat besar dan saya juga melihat Tuhan sendiri di udara di atas bumi tepat sejajar dengan tingkat ketiga dari sebuah bangunan begitu dekat dan begitu dekat dengan kira-kira dua malaikat yang dikirim ke gereja di mana kami berada. Seketika itu juga satu persatu dari kami mulai bertransformasi sebelum orang banyak melihatnya, termasuk orang-orang di Gereja. Setiap orang yang diangkat, pakaiannya tertinggal di tempat di mana dia duduk di gereja. Saya melihat orang-orang yang tertinggal mencoba untuk melompat dan merubah diri mereka sendiri tetapi tidak bisa, ini *TERLALU TERLAMBAT! MEREKA TERTINGGAL DI BANGUNAN GEREJA.* Saya kenal mereka dan ketika saya berubah saya bahkan meneriakkan nama-nama mereka untuk memanggil mereka dan saya mulai berteriak : mengapa kamu tetap tinggal? Apakah kamu belum mempersiapkan dirimu ketika kita berdoa? Saya sedang dalam tubuh spiritual saya dan sangat terkejut mengapa saudara-saudara yang sedang berdoa di gereja TERTINGGAL.

Ketika kami sedang bergerak dan terbang di udara, saya melihat istri saya juga bertransformasi, anak-anak saya dan saya bertanya kepada istri saya di mana anak-anak kecil yang lain, dan dia menjawab bahwa dia memberikan mereka kepada malaikat-malaikat yang datang bersama TUHAN untuk mengambilnya bersama mereka ke surga sementara kami terbang sendiri. Kami mulai bergerak melalui bumi dengan ratusan orang yang bertransformasi ke tubuh spiritual dan semua orang menyanyikan puji-pujian yang berisi ucapan syukur kepada TUHAN dengan penuh sukacita. Semua orang begitu memakai pakaian yang sangat indah dengan dress yang warna-warni dan memuji TUHAN, ini begitu nyata dan begitu baik dan memuaskan. Sukacita meluap di dalam hati saya dan saya sangat senang dengan pemikiran bahwa sekarang segalanya sudah berakhir. Saya terus meneriakkan tawa dan sukacita ketika saya terbang. Saya jauh lebih bersukacita ketika saya melihat seluruh keluarga saya diangkat dan begini, kami terbang menuju surga bersama-sama. 

Begitu nyata..., begitu nyata..., begitu nyata... Sukacita..! Sukacita..! Saya melihat itu dengan jelas.

Ketika kami bergerak semakin tinggi, saya melihat malaikat-malaikat menyentuh begitu banyak orang dan mereka mentransformasikan diri mereka satu per satu dengan sangat jelas dan sangat nyata. Kami mulai bergerak naik dan terbang normal di udara dan ini adalah sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan untuk terbang bersama TUHAN di sebuah perjalanan yang benar-benar penuh dengan kemuliaan. Di penglihatan ini, saya melihat waktunya adalah sekarang dan saat ini juga, saudara-saudara. Persiapkan, persiapkan, dan bersiaplah. Waktunya adalah sekarang, TUHAN berkata: sekaranglah waktunya, kata TUHAN. 

apakah kau akan datang atau kau mau tidur bersama dengan dunia...?

Saudara-saudara,

Saya melihat ini begitu nyata saat ini juga seperti tidak pernah sama dengan sebelumnya. Ketika penglihatan ini berakhir, saya bangun untuk menulisnya dan ROH KUDUS berkata: sekarang waktunya, sekarang waktunya, sekarang waktunya. ROH KUDUS dan para Mempelai berkata: Datanglah TUHAN...!

PERINGATAN SEKARANG adalah untuk anda supaya *BENAR-BENAR BANGUN SAUDARA-SAUDARA. KUMPULKAN KELUARGAMU DAN PERSIAPKAN DENGAN SERIUS* ketika mentaati Tuhan melalui Perkataan-Nya.

Saudara-saudara, beritahu semua orang bahwa kita akan segera pergi dari dunia ini dengan Tuhan kita. Bersiaplah dan bersemangatlah. Ini akan terjadi sekarang, seperti yang TUHAN katakan.

Semoga Tuhan memberkati kita semua dengan berlimpah.

TUHAN YESUS Memberkati
#robertsitumorang
Sumber : TUHAN YESUS terang dunia

Pesan Tuhan tentang penampian di akhir zaman

*PESAN TUHAN TENTANG PENAMPIAN DI AKHIR ZAMAN, BERJAGA-JAGALAH*

Kesaksian oleh : Pdt. Yoel

Dalam doa malam hari Minggu TUHAN YESUS memperlihatkan bumi dari angkasa. Bulatan bumi terlihat seluruhnya beserta seluruh penduduk yang ada di dalamnya diliputi awan kelam. TUHAN YESUS berdiam melihat apa yang terjadi di muka bumi.

Yang sedang terjadi adalah roh-roh setan bekerja dengan keras terhadap satu persatu orang-orang Kristen di seluruh muka bumi. Mereka mendatangkan berbagai masalah, penderitaan, dukacita dan berbagai-bagai pencobaan.

Semua hal itu sekarang ini terjadi melanda setiap orang Kristen untuk MENAMPI mereka, memisahkan gandum dari ilalang dan domba dari kambing. TUHAN YESUS mengijinkan setan bekerja untuk menguji hati setiap orang Kristen apakah teguh mengasihi TUHAN atau menggerutu dan mengutuki TUHAN.

Gandum - ilalang / kambing - domba

Ini adalah masa penampian bagi orang Kristen di seluruh dunia untuk memisahkan berkas-berkas gandum dan ilalang, sebagai persiapan masa penuaian jiwa-jiwa pada saat TUHAN YESUS datang yang kedua kali.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku. (Matius 13:30)

Gandum dan Ilalang

Diperlihatkan, ada orang Kristen di luar negri yang tadinya hidup mapan berkecukupan tiba-tiba kehilangan pekerjaannya. Untuk menopang hidupnya harus mengandalkan bantuan pemerintah yang setiap tahun dikurangi karena krisis ekonomi semakin parah melanda seluruh negeri. Dalam keputusasaannya dia melarikan diri dari hidup dengan mengkonsumsi miras, dan di tengah kekacauan perasaannya dia mulai mengutuki TUHAN. Kata-kata makian mengutuki nasibnya maupun TUHAN seperti yang sering terdengar di film-film terus keluar dari mulutnya.

Pada saat itu setan yang bertugas menampi orang itu berseru kepada penghulu udara yang mengawasinya, "Satu orang sudah selesai!" Ketika tanda itu diteriakkan, terlihat banyak roh setan yang berwarna hitam langsung menyerbu dan masuk ke dalam diri orang itu dan menetap di dalamnya mendatangkan kehancuran dan penderitaan yang lebih parah.

Ada lagi orang Kristen yang terbaring di rumah menderita sakit. Setan terus menyerang dengan menimpakan rasa sakit yang pedih, tetapi dia menyerahkan hati dan hidupnya kepada TUHAN. Walaupun tubuhnya lemah, dia terus memuji TUHAN dan percaya bahwa semua yang terjadi adalah seijin TUHAN untuk kebaikannya. Dari mulutnya tidak keluar sumpah serapah atau mengutuki TUHAN tetapi selalu penyerahan diri dan ucapan syukur.

Pada saat dia tetap *menjaga hati dan mulutnya untuk bersyukur dan memuji TUHAN*, maka serangan setan digagalkan dan kemudian ROH KUDUS menolong memulihkan kesehatan dan keadaan keluarganya.

Menampi di Titik Lemah

Dalam menampi, setan tidak hanya mendatang malapetaka, sakit penyakit atau penderitaan tetapi juga segala macam pencobaan yang merupakan kelemahan hidup. Pada titik yang lemah ini, setan terus menerus melakukan serangan gencarnya.

Orang Kristen yang memiliki hati yang sombong, oleh setan justru diberikan segala macam kesuksesan dalam hidup dan jabatan yang tinggi sehingga dia melupakan TUHAN. Orang yang hatinya penuh kekuatiran, ditimpakan berbagai masalah pekerjaan dan keuangan sehingga dicekam oleh ketakutan akan masa depan.

Orang yang hatinya penuh iri, diperhadapkan dengan teman kerja yang sukses sehingga setiap hari hatinya merana karena tidak mendapat apa yang diingininya. Orang yang pendendam dipertemukan dengan orang-orang yang selalu memojokkan dan melemparkan fitnah, sehingga hatinya pahit.

Anak-anak orang Kristen yang tadinya bersikap manis, sekarang ini menjadi susah diatur dan memberontak. Suami istri mendapati bahwa masalah sedikit saja bisa menjadi pertengkaran yang besar. Orang yang bekerja merasakan teman-teman di kantor tiba-tiba memusuhinya. Di sekolah, anak-anak orang Kristen dikucilkan dari pergaulan dan dimusuhi. Mertua menjadi tidak bisa memahami menantunya dan bersikap keras. Semua yang tadinya biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi begitu rumit dan menyusahkan.

Setiap orang Kristen di seluruh dunia dari anak-anak, orang dewasa sampai lansia, orang perorang dicobai dan diserang oleh setan untuk menampi, memisahkan orang Kristen gandum dan orang Kristen ilalang. Orang Kristen yang tidak tahan dan dari hati dan mulutnya keluar sumpah serapah, kutukan, bersungut-sungut, maka mereka langsung diberkas, dikumpulkan secara roh dalam kelompok ilalang. Orang Kristen yang tetap mengucap syukur dan memuji TUHAN di tengah semua masalah yang dihadapi, dikumpulkan TUHAN YESUS sebagai gandum.

Akan tetapi yang menyedihkan adalah, di dalam masa penampian ini ada lebih banyak orang Kristen di seluruh dunia yang bersungut-sungut dan mengutuki TUHAN dalam hati dan mulutnya. Lebih banyak orang Kristen yang menggerutu dan menyesali hidupnya yang dilanda berbagai masalah. Banyak orang Kristen di seluruh dunia yang menjadi dingin imannya dan sibuk dengan berbagai urusan duniawi seperti mengejar karier di kantor, jabatan di gereja, sibuk sekolah, sibuk kuliah, sibuk mempersiapkan masa depan, sibuk berinvestasi – semuanya sibuk dengan berbagai hal yang mengalihkan fokus iman Kristennya akan kekekalan hidup. Sekarang ini sangat banyak orang Kristen yang imannya sudah dingin dan apinya padam.

Melihat itu semua TUHAN YESUS sedih, karena ternyata di masa penampian ini Dia lebih banyak mendapati orang Kristen ilalang daripada gandum. Padahal penampian ini tidak akan berhenti sampai TUHAN YESUS datang. Hanya anak-anak TUHAN yang bertahan di masa penampian ini yang akan diangkat ke surga pada saat Rapture dan diluputkan dari aniaya iblis di masa Tribulasi yang melanda seluruh bumi. Hanya anak-anak TUHAN yang setiap hari *bergaul intim dengan TUHAN* saja yang dapat melewati masa penampian yang keras ini.

*Pelindungan khusus :*

Dalam vision ini, ternyata TUHAN YESUS memperlihatkan adanya orang-orang Kristen yang menghadapi penampian oleh setan ini dengan lebih mudah. Setan tidak bisa mendekati mereka dan hanya bisa menyerang dari jauh, tidak seperti orang-orang Kristen yang diserang setan dari dalam tubuhnya pada penglihatan sebelumnya.

Ternyata anak-anak TUHAN ini memiliki tubuh rohani yang berbeda. Mereka memakai baju perang seperti tentara romawi, memakai *ikat pinggang, baju zirah, kasut, ketopong, perisai*dan membawa pedang. Tubuhnya juga dibungkus oleh cahaya yang melindungi secara tertutup.

Terhadap mereka ini, setan tidak bisa mendekat dan hanya menembakkan panah-panah dari jauh. Dan panah itu lenyap ketika sampai pada cahaya yang meliputi seluruh bagian tubuh anak TUHAN itu. Serangan-serangan setan tidak mempan atas mereka karena pelindungan dari TUHAN yang berlapis-lapis.

Bukan hanya tidak mempan terhadap serangan setan, anak-anak TUHAN ini justru memiliki *kuasa untuk menyerang dan mengalahkan setan dengan doa, pujian dan ketika memperkatakan Firman TUHAN*. Hidup mereka penuh kuasa yang nyata dari surga.

Kemudian TUHAN YESUS menjelaskan, mereka ini adalah anak-anak Tuhan yang sekarang ini *mempersiapkan diri* dengan menjaga *kekudusan hidup dan berkomitmen untuk menjadi pelaku Firman dengan setia*. Mereka ini setiap hari *membaca Firman TUHAN dengan tekun, merenungkan dan melakukannya dengan setia*. Mereka selalu merendahkan diri di dalam doa dan puasa, dan *bertemu secara pribadi dengan TUHAN YESUS dalam pujian dan penyembahan*.

Pada saat semua orang Kristen disibukkan oleh segala macam urusan duniawi dan kekuatiran hidup, tetapi ternyata ada anak-anak TUHAN yang mau *membayar harga dengan kekudusan hidup dan berkomitmen melakukan Firman TUHAN*. Di seluruh dunia ada anak-anak TUHAN seperti ini, tetapi jumlah sangat sedikit sekali.

Mereka adalah *laskar-laskar Kristus di akhir jaman*, yang sekarang ini giat bersama-sama dengan TUHAN YESUS berperang di dalam doa dan puasa untuk merebut *jiwa-jiwa diselamatkan*. Setiap hari mereka membentengi tubuh Rohnya dengan *seluruh perlengkapan senjata Allah mulai dari ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, ketopong keselamatan, perisai iman dan pedang Roh*. *Setiap kali doa itu diucapkan, di dalam Roh semua perlengkapan perang ALLAH itu muncul dan melindungi tubuhnya* (Efesus 6:14-17).

Bertahan Dalam Penampian Sampai Pengangkatan (Rapture)

Ternyata di tengah masa penampian terhadap semua orang Kristen di seluruh dunia, *TUHAN YESUS melindungi anak-anakNYA yang mau berkomitmen untuk merenungkan Firman TUHAN dan tekun melakukannya*. TUHAN YESUS sangat menghargai anak-anakNYA yang mau membayar harga *memilih hidup dalam kekudusan dan merendahkan diri dalam doa puasa*. Mereka ini bukan hanya dilindungi dan diluputkan tetapi bahkan diberi kuasa untuk berperang dan mengalahkan setan.

*Karena engkau menuruti Firman-KU, untuk tekun menantikan AKU, maka AKU-pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi* (Wahyu 3:10)

Dalam vision ini TUHAN YESUS mengingatkan semua orang Kristen bahwa *masa penampian ini sedang berlangsung atas satu persatu orang Kristen di seluruh dunia, untuk memisahkan orang Kristen gandum dan ilalang*. Penampian ini dilakukan secara keras oleh setan karena mereka tahu *masanya sudah semakin singkat*. TUHAN YESUS meminta semua orang Kristen untuk bertahan dan menang dengan *menjaga hati dan mulutnya tidak bersungut-sungut, mengeluh, menggerutu atau bahkan mengutuki TUHAN karena berbagai masalah hidup yang dialami*. Orang Kristen gandum adalah orang Kristen yang selalu *mengucap syukur dan mengandalkan TUHAN YESUS* dalam menjalani kehidupannya.

Penampian ini akan berlangsung terus menerus berlangsung sampai nanti TUHAN YESUS datang yang kedua pada saat Rapture (Pengangkatan). Hanya orang-orang Kristen yang bertahan dalam *kesetiaan iman dan menang*, yang akan diangkat ke surga.

Jumat, 23 Juni 2017

How you can get a ticket to heaven

How you can get a ticket to heaven

Shalom, some people ask about how to get a ticket to Heaven, especially in this time when the Second Coming is near.
Just few days ago, there was a question by a young person named Harry from USA. Our conversations are summarized as follows:

- Harry: Peace in Christ, dear sisters and brothers. On highway, one sister from USA asked me: my spirit is full of sins, so how can i become ad a child and enter the heaven? If we do not become as a child, can we enter the heaven? Dear sisters and brothers, what is your opinions? Can you share your views with us?

- me: Dear Harry, tell your friend that to become like a child, she should repent, ask for forgiveness then invite Jesus to come to her heart. She should believe that the blood of Jesus can wash away all her sins. This is called "born again." Read John chapter 3. And pls find a guide to help her repent at http://www.twelvegates.tk

- Maureen: hello Mr. Harry and everyone... Being a child of God is continue action. Everyday we trying even we are always falling. But we always have to try and do what God wants to us to do. It is not only about being 100% good. It is not too about trying to enter the heaven. Because a child of God is not about it. But your action.

- Harry: dear friend, thanks for your sharing, but I don't think that the blood of Jesus can make us be a child, because the Lord Jesus said: we should become as a child, not said that His blood makes us be a child. We should pursue to be a child, not the blood. The Lord Jesus's blood can forgive our sins and than give us a chance can be a child. What do you think of my view, my friend?

- me: Harry, what I meant was one cannot be a child again, unless it is given to him/her. All is grace. Read John chp. 3, that was the question of Nicodemus. The answer by Jesus is that one should be born again. It is as simple as that: repent, ask for forgiveness to our Father in heaven, then pray and receive Jesus. Being a child is not a result of our works, that is why it is called Gospel (Good news).

- Harry: born again can enter the heaven, it is true. Nobody doubts it. But do you know what is true born again, is it as simple as your thinking? Do you think that your understanding and knowledge is pure?

- me: Dear Harry, greetings to you. Thank you for your comments, they made me thinking what are your objections.
First of all, let us return to your initial question. You told us that you met a woman (or a girl?) who admits she is a sinner. And she asked you which way to go to heaven? And whether she will be forgiven?
We also read some answers in this group who advise that to enter to heaven, one should be 100% perfect.
Well, that is one answer, but if we talk like that to a man or woman who really admits they are sinners and they are willing to repent, does it mean we will repell all of them?
I agree that the standard of Jesus is very high. Only a true perfect person can meet His standards. But we should also understand that God is also full of grace, and He offers eternal life to whoever regrets their sins and believe in Jesus. That is the true meaning of Good news: salvation is for free! Read John 1:1-14.
And if you think that the above teaching is from me or NT writers like St. Paul, it is not true. Read the phrases from Isaiah 53:3-5.
Read carefully "with his stripes we are healed." this prophecy came into reality when Jesus is crucified. That is the essence of theology of cross (crucis).
Pls be noted that it does not mean that I lowered Jesus's standards. But you should know the differences between:
a. Getting in
b. staying in

Getting into relation with Jesus is always free. It starts with a leap of faith, just like the story of Zaccheus and other tax collectors who befriended with Jesus. All of them were sinners by your standards.
Staying in is the process to become a true disciple of Jesus. We should work hard through our life time to become 100% pure and holy just like Jesus Himself.
If we mix up between the requirements of getting in and staying in, we will get into a trap, either to lower the standards of Jesus, or to create unsurpassable high criteria which nobody can do.
Hopefully you will find the above explanations useful.

Jbu,

Version 1.0: 24th june 2017, pk. 11:05
VC

Further reading:
(1) John Piper. The future of justification. Wheaton: Crossway Books, 2007
(2) Markus Barth. Justification. Oregon: Wipf & Stock, 1971
(3) Alister McGrath. A brief history of heaven. Malden: Blackwell Publishing, 2003
(4) Scot McKnight. Jesus and His death. Waco: Baylor University Press, 2005.


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Sabtu, 17 Juni 2017

Trinitas

Trinitas

Teks: Kej. 1:1-2:4, Mat. 28:16-20

Shalom, selamat pagi saudaraku. Minggu ini kita memasuki pekan Trinitas dalam kalender gerejawi. Minggu Trinitas dalam kalender gerejawi adalah satu hari minggu setelah perayaan Pentakosta. Jadi ini saat yang tepat untuk menulis sedikit untuk meluruskan dan menjawab beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh para saudara dan sahabat yang non-Kristen mengenai konsep Trinitas.
Doktrin Trinitas adalah sangat penting bagi iman Kristen, meskipun orang-orang Kristen sendiri acapkali mengalami kesulitan untuk mengerti hal ini. Sebenarnya, kesalahpahaman tersebut sering terjadi karena kita berusaha memahami Allah secara matematis. Padahal, mungkinkah kita menghitung Tuhan yang omnipresent? Konsep tentang identitas matematis lalu menjadi tumpul.
Secara garis besar, setidaknya ada 5 hal yang kerap ditanyakan berhubungan dengan Trinitas:
a. Benarkah Trinitas baru dikenal pada abad ke-3?
b. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas pada PB?
c. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas dalam PL? Apakah teologi Trinitas dapat diperdamaikan dengan monoteisme Israel?
d. Bagaimana memahami Yesus sebagai Anak Allah namun tetap menjunjung tinggi keesaan Allah?
e. Bagaimana relasi Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa?
Artikel ini akan berupaya membahas beberapa pertanyaan tersebut berdasarkan beberapa sumber yang tersedia pada penulis, selain dari sumber googling. Penulis berusaha memaparkan sejelas dan seringkas mungkin pokok-pokok iman Kristen tentang Trinitas, dengan sedapat mungkin meminimalkan penggunaan istilah-istilah filosofis yang sulit dimengerti.
Perlu ditegaskan bahwa artikel ini ditujukan untuk membantu meluruskan berbagai kesulitan dalam memahami konsep Trinitas, namun tentunya tidak akan menjawab semua keberatan yang mungkin muncul. Mari kita mulai.

a. Benarkah Trinitas baru dikenal pada abad ke-3? (8)
Salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan adalah bahwa Trinitas adalah gagasan abad ke-3 dan tidak ada landasannya dalalm Alkitab. Benarkah demikian?
Meski memang doktrin Trinitas baru diformulasikan dalam konsili Nicea pada 325AD, lewat sebuah konsili yang diadakan oleh Kaisar Constantine, dan lalu diteguhkan dalam Konsili Konstantinopel (381AD), namun konsepnya sesungguhnya bersumber dari Alkitab, termasuk dalam PL secara parsial. Pewahyuan lengkap muncul di PB.
Dalam konsili Nicea, para delegasi setuju bahwa Tuhan eksis dari kekekalan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dari konsili ini lahirlah Pengakuan Iman Nicea. Kita bisa merangkum pengajaran Alkitab ke dalam 3 pernyataan:
(1) Tuhan adalah 3 pribadi/person
(2) Setiap pribadi adalah Tuhan seutuhnya
(3) Hanya ada satu Tuhan (Ul. 6:4)
Trinitas sebagai tiga pribadi Tuhan yang sepenuhnya setara, harus dengan hati-hati diseimbangkan dengan kesatuan Tuhan. Terminology yang lebih akurat untuk dipakai menjelaskan hal ini adalah: "Tuhan Trinitas."

b. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas pada PB?
Meski ada beberapa teks yang dapat dirujuk, secara sederhana ada 2 teks di mana ketiga figur Trinitas dinyatakan secara paling jelas, berkaitan dengan Injil Sinoptik:

(1)Teks Mat. 28:19
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,"
Jelas dalam ayat ini bahwa Yesus memerintahkan para murid untuk membaptis dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus. Perintah Yesus tersebut ingin menekankan adanya ketunggalan karya Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan berdasarkan batasan ruang dan waktu. Ketiganya saling berpartisipasi untuk mewujudkan karya Allah yang sempurna bagi ciptaan-Nya.(12) 

(2 Teks Luk. 3:21-22
     21  Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit  
    22  dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."  
Kiranya cukup jelas dalam teks ini bahwa ada 3 pribadi yang terlibat: Allah Bapa yang bersabda, Yesus (Allah Anak) yang sedang dibaptis, dan Roh Kudus yang turun ke atas Yesus.

c. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas dalam PL? Apakah teologi Trinitas dapat diperdamaikan dengan monoteisme Israel?
Ada beberapa petunjuk dalam PL yang menyiratkan Trinitas walaupun tidak se-eksplisit dalam PB:

(1) Teks Kej. 1:1-3
    2  Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.  
    3  Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.  
Dari teks ini, para teolog menyimpulkan bahwa Trinitas terlibat secara utuh dalam proses penciptaan: Bapa yang berkarya, Roh Allah yang mengerami, dan Firman Allah yang melaksanakan.
Kisah penciptaan yang terdapat dalam Kejadian 1 menggambarkan betapa indahnya relasi yang terjalin di dalam Allah Trinitas. Joas Adiprasetya mengatakan bahwa penciptaan alam semesta adalah kehendak Allah untuk membagikan apa yang dialami oleh ketiga pribadi tersebut. Alam semesta tidak diciptakan oleh Sang Bapa sendirian. Semua karya Allah di dalam dunia adalah karya bersama ketiga pribadi Allah. Jadi, semua itu berlangsung di dalam Sang Anak. Ia menjadi penampung seluruh karya Ilahi. Bandingkan dengan hymne Kristus dalam Kol. 1:15-17 berikut:
    15  "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,  
    16  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.  
    17  Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."  

(2) Teks Kej. 1:26
    26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  
Meski teks ini oleh para ahli blblika biasa ditafsirkan sebagai bentuk ungkapan jamak sebagai sapaan penghormatan (pluralis majestatis), namun sebenarnya juga tidak menutup kemungkinan penafsiran bahwa memang yang dimaksud dengan "Kita" di sini adalah pribadi Allah yang esa sekaligus jamak. Mungkin ini salah satu dasar yang kuat akan konsep "complex monotheism."

(3) nama Elohim, walaupun merupakan nama diri Tuhan yang esa (singular), namun secara gramatikal bermakna jamak (plural). Ini menyiratkan pemahaman Israel akan kejamakan yang tunggal dari Tuhan (plural identity), mirip dengan Kej. 1:26.

(4) ada juga banyak orang yang berusaha membuktikan bahwa teks Ul. 6:4 yang berbunyi sebagai berikut:
"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! "
Bahwa ikrar Israel yang biasa disebut Shema tersebut lalu diklaim oleh sebagian orang sebagai petunjuk akan plural identity, karena kata "echad" bukan berarti satu yang numeris (bilangan), karena untuk satu yang bilangan ada kata Ibrani yang lain yaitu "yachid." 
Sejujurnya saya bukan ahli bahasa Ibrani, jadi saya tidak memastikan apakah benar demikian halnya, namun saya telah menanyakan hal ini kepada 3 orang hamba Tuhan dan saya mendapat 3 jawaban yang berbeda sebagai berikut:*
- editor LAI: echad rasanya tak seperti itu. Satu, tunggal. Kalau Elohim ya, satu tapi seperti jamak.
- pendeta senior GKJW: echad dalam ul. 6:4 itu satu dalam kerangka omni-present bukan locally present. 
- pendeta muda: kata echad bentuknya plural, satu bukan matematik, lebih Keluar ada unity, yang sederajat sama dalam keberadaannya mungkin kalau dalam ciptaan seperti air, udara, api.
Untuk diskusi yang lebih lengkap, pembaca yang berminat akan diskusi seputar makna kata echad dipersilakan melihat (1)-(7).

d. Bagaimana memahami Yesus sebagai Putera Allah namun tetap menjunjung tinggi keesaan Allah?(8)
Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Yesus adalah Putra Tuhan. Yesus adalah batu penjuru dan pusat iman kita. Di dalam Dialah terletak keyakinan kita. 
Kedua gelar-Nya, Putra Tuhan dan Firman Tuhan, memastikan bahwa kita memahami Dia sebagai manifestasi personal keilahian, dan yang setara dengan Bapa. Dia adalah ekspresi akurat dari kemuliaan dan pribadi Tuhan sendiri. Yesus tidak hanya serupa dengan Bapa-Nya, tetapi Ia pun "satu substansi dengan Bapa-Nya." dia dan Bapa adalah satu. Ia digambarkan sebagai Sang Firman, pre-eksistensi Kristus, dalam suatu relasi yang unik dengan Bapa. Simaklah dua ayat berikut untuk lebih memahami Yesus:

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yoh. 1:14)

"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,..." (Kol. 2:9)

e. Bagaimana relasi Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa?(8)
Kata "diperanakkan" (begotten), bukan "dibuat" (made) dipakai untuk menggambarkan kedatangan Kristus ke dalam dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa Ia bukan diciptakan, sebagaimana halnya para malaikat. Di sini kita bisa melihat natur kekal ketuhanan Kristus. Ia adalah Putera Tuhan bahkan sebelum waktu dimulai. 
Dalam Yoh. 1:18 kita membaca:
"Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. "

Yoh. 17:5 mengatakan: 
"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."

Dan dalam I Yoh. 4:9 kita membaca:
"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya."

Dalam Yohanes 1:1, istilah "logos" atau "firman" atau "kalam" diaplikasikan kepada pribadi yang sama.
Hubungan ke-Putra-an Ilahi Yesus sebagai Firman Allah itu, dalam tulisan-tulisan patristik, yang antara lain dari murid-murid para rasul sendiri, lalu direnungkan, didalami dan direfleksikan dalam kehidupan iman gereja pada zamannya. Permenungan itu, sudah dimulai sejak era kekristenan yang paling dini, seperti tampak dalam doa kesyahidan Mar Polikarpus, seorang murid rasul Yohanes, yang memuji Allah Bapa dan Yesus, Sang Imam Surgawi yang kekal, serta memuliakan Roh Kudus-Nya.(9)**
Begitu juga, Mar Ignatius al-Anthaki (67–100M), murid langsung Rasul Petrus dan Patriarkh gereja Antiokhia, yang menulis lebih konseptual: "Sesungguhnya Allah itu Esa, Ia telah menyatakan Diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putra-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal." Dalam suratnya kepada orang-oang Efesus, Mar Ignatius juga menyebut Yesus sebagai "Manunggaling kawula Gusti."(en anthropo theos).(9)
Dalam konteks inilah penegasan akan keilahian Yesus harus kita pahami, bahwa frase-frase kontra Arian dalam konsili Nicea antara lain berbunyi:
"Putra Allah yang tunggal yang lahir dari Sang Bapa yang sehakekat dengan Dzat Sang Bapa...dilahirkan, tidak diciptakan, satu dengan Sang Bapa dalam Dzat-Nya, yang melalui-Nya segala sesuatu baik di langit dan di bumi telah diciptakan."(9)
Pembaca yang agak sulit memahami bagaimana proses fisika dari Sabda Tuhan dapat menjadi benda-benda langit, mungkin akan merasa terbantu dengan artikel saya yang mencoba memahami Yoh. 1 dalam terang ilmu "cymatic" (visible sound). Lihat (10).
 
Penutup
Secara ringkas, para bapa gereja membayangkan Trinitas bagaikan kesatuan sebuah kelompok tari yang bergerak saling melingkar, berjejalin, berkelindan membentuk kesatuan yang harmonis nan indah. Gagasan tentang tarian Trinitas yang indah tersebut kerap disebut "perichoresis."(12) Lihat juga (13)(14).
Sebagai catatan akhir, meski penulis bukanlah ahli bahasa, namun tidaklah sulit untuk menemukan padanan dari ide tentang kesatuan yang kompleks-plural itu setidaknya dalam 3 hal berikut:
(a) uncountable noun: dalam bahasa Inggris misalnya, air atau kopi tidak dapat dihitung, jadi untuk menyebut digunakan, jadi digunakan ungkapan: a glass of water atau a cup of coffee dst
(b) plural unity: misalnya dalam ungkapan sehati, sepikir, seia sekata, sekeluarga dst tersirat makna sekumpulan yang menjadi satu.
(c) unity in diversity: ide keesaan gereja, ungkapan "bhinneka tunggal ika" juga memuat ide akan kesatuan dalam keberbedaan. Lihat artikel penulis (11).
Demikianlah pemaparan sederhana di atas kiranya dapat menolong pembaca untuk lebih memahami konsep Trinitas. Sekali lagi perlu ditegaskan di sini, bahwa artikel ini ditujukan untuk membantu meluruskan berbagai kesulitan dalam memahami konsep Trinitas, namun tentunya tidak akan menjawab semua keberatan yang mungkin muncul. 
Jika ada hal-hal yang masih samar atau belum begitu jelas, silakan Anda cari seorang pendeta di daerah Anda yang mau berdialog dengan Anda. Namun jika tidak ada, silakan Anda berdoa mohon pencerahan langsung dari Gusti Allah. Ia akan menjawab Anda jika Anda memohonkan doa dengan bersungguh-sungguh. Tuhan menyertai langkah Anda. Jbu

Versi 1.0: 10 juni 2017, pk. 16:49
Versi 1.1: 14 juni 2017, pk. 18:29
Versi 1.2: 15 juni 2017, pk. 3:05
VC

catatan:
* terimakasih kepada Dr. Paskalis Edwin, Pdt. Chrysta Andrea, dan pak Iran
** terimakasih kepada Mas Bambang Noorsena.

Referensi:
(8) Rosemary Sookhdeo. Breaking through the barriers. McLean: Isaac Publishing, 2010
(9) Bambang Noorsena. Answering Misunderstanding. Malang: Rumah Boekoe, 2016.
(10) Victor Christianto. A theo-cymatic reading of prolegomena of St. John's Gospel. Scientific God journal. Url: http://scigod.com/index.php/sgj/article/view/544/595
(11) Victor Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam gereja perdana. IJT vol. 2 no. 2. Url: https://journalteologi.files.wordpress.com/2015/02/05-ijt2-2-kesatuandanperbedaandalamgerejaperdana.pdf
(12) Pdt. Samuel Dian Pramana. Partisipasi yang sempurna. Panduan khotbah minggu 11 juni 2017 (Minggu Trinitas)
(13) Joy Ann McDougall. Pilgrimage of love: Moltmann on the Trinity and Christian life. Oxford: Oxford University Press, 2005.
(14) John Polkinghorne. Science and the Trinity: The Christian encounter with reality. Yale University Press, 2004.
-------

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at: 
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Pancasila

Pancasila dari perspektif hermeneutika dan logika 
(The five principles from hermeneutics and logic perspectives.)

Oleh: 
Victor Christianto
Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com

Pendahuluan
Beberapa hari yang lalu seorang rekan membagikan sebuah artikel yang sangat menarik dari K.H. Ma'ruf Amin, berjudul: "Mencegah upaya sekularisasi Pancasila." Meski artikel itu diterbitkan sekitar 11 tahun silam di salah satu harian ibukota, namun agaknya masih sering dikutip dan ditampilkan di berbagai situs. Jadi penulis akan coba memberikan tanggapan yang semoga cukup akademis dan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi para pemimpin bangsa ini.
Namun terlebih dahulu, perlu penulis sampaikan beberapa catatan awal:
a. Pertama, bidang kompetensi penulis bukanlah hukum ketatanegaraan afau filsafat yang rumit-rumit itu, melainkan lebih ke arah matematika dan teologi. Penulis juga bukan ahlinya bidang filsafat Pancasila, ada banyak orang yang lebih kompeten soal ini.
b. Kedua, penulis tidak mengikuti wacana mengenai sosiologi atau ideologi dunia kontemporer. Bacaan penulis ya paling-paling harian Kompas, dan itupun hanya baca sekali-sekali.
Dengan mempertimbangkan bidang minat dan kompetensi tersebut, maka izinkan penulis menyoroti Pancasila sebagai problem logika dan matematika, meski dalam artikel ini penulis juga menyertakan diskusi ringkas tentang tema-tema yang lazim diperdebatkan, misalnya wacana khilafah atau negara agama dst.
Penulis juga akan sedikit mengomentari Pancasila dalam perspektif hermeneutika. Memang ada beberapa artikel yang membahas tentang hermeneutika Dilthey untuk membaca proses lahirnya Pancasila, namun kali ini penulis akan menggunakan pembacaan yang lebih ringan.
Harapan penulis, kiranya perspektif matematika dan hermeneutika dapat sedikit menyumbang untuk menjernihkan persoalan yang menghangat kembali akhir-akhir ini.

Perspektif Hermeneutika
Sebaga permulaan, izinkan penulis berkomentar sedikit tentang Pancasila dari sudut pandang ilmu hermeneutika.
Pertama, kita sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki falsafah bernegara yang begitu indah dan harmonis, yang tidak banyak negara di dunia ini yang memilikinya.
Kedua, penulis sedih jika mendengar di kampung-kampung tertentu dipasang spanduk: "Pancasila sudah gagal, saatnya untuk mempertimbangkan negara agama." Apakah yang menulis spanduk semacam itu sadar resiko apa yang akan terjadi?
Dari pembacaan penulis, Pancasila mengajarkan prinsip "jalan tengah" setidaknya dalam 3 hal:
a. Negara berke-Tuhan-an, namun bukan negara agama. Namun sekaligus sila pertama juga menolak konsepsi negara sekuler.
b. Demokrasi melalui musyawarah dan mufakat, namun bukan demokrasi liberal.
c. Bangsa yang berjuang untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial, namun bukan sekadar sosialisme.
Dalam konteks ini, kita patut menyimak artikel Munir Majid bahwa Indonesia dan juga Asia Tenggara sedang berada dalam proses tarik ulur antara kepentingan USA dan RRC. USA mengusung ideologi kapitalisme dan demokrasi liberal, yang digadang-gadang sebagai ciri-ciri akhir sejarah oleh Fukuyama. Namun di pihak lain, ada ideologi sosialisme komunis dari RRC, meskipun telah bermutasi dengan mengambil aspek-aspek kapitalisme modern.
Kalau mau lebih menggeneralisir, baik kapitalisme maupun sosialisme komunis, keduanya bercirikan materialisme dan sekularisme, artinya manusia direduksi menjadi persoalan ekonomi semata dan lagi peran agama dipinggirkan menjadi sekadar asesori atau hiburan hari Jumat atau Minggu saja. 
Materialisme dalam memandang problem manusia juga dapat kita jumpai pada psikoanalisis Freudian, misalnya. Dan pandangan ini sangat tidak lengkap dalam melihat problem manusia, dan telah dikritik misalnya oleh Carl Jung.
Di sisi lain, ada beberapa ideologi berbasis agama, sebut misalnya ide khilafah yang tampaknya dipromosikan oleh K.H. Ma'ruf Amin dalam artikel yang dibahas di bagian depan artikel ini.
Lalu bagaimana ideologi Pancasila ini dapat terus bertahan di tengah pelbagai arus ideologi tersebut? Kalau mau jujur, mengusung Pancasila di negeri ini saja susah apalagi di Asia Tenggara.
Memang di beberapa sosial media ada rumor bahwa salah satu penyebab demo-demo yang marak beberapa waktu ini adalah adanya sinyalemen bahwa kabinet Kerja pak Jokowi terlalu memberi angin ke RRC. Benarkah demikian? Saya yakin pak Jokowi tidak segegabah itu. 
Untuk mengimbangi tarik-menarik ideologi antara USA dan RRC tersebut (sekularisasi), dan juga antara negara sekuler versus negara agama, pad hemat kami perlu digencarkan revitalisasi Pancasila sebagai Jalan Ketiga, mirip "third way" yang digagas oleh Anthony Giddens beberapa tahun lalu. Namun juga perlu disosialisasikan secara konkrit dalam kehidupan ekonomi, misalnya melalui aktualisasi Pasal 33 UUD 1945. Tentu ini pekerjaan rumah besar bagi para ekonom dan filsuf di negeri ini.

Perspektif Logika Neutrosofi
Yang mesti dicermati oleh kita sebagai bangsa adalah bahwa ketegangan yang dimunculkan oleh berbagai kubu ideologi tersebut tampaknya membawa motif "pesanan" yaitu sebagai upaya disengaja untuk memecah-belah persatuan dan kesatuan dan kerukunan bangsa Indonesia, dengan tujuan agar negara-negara adikuasa dapat mengambil alih kekuasaan secara halus dengan mengatasnamakan "pemulihan perdamaian." Bukankah itu alasan yang sering diajukan untuk membenarkan intervensi negara-negara adikuasa kepada negara-negara berkembang?
(Bukankah telah menjadi rahasia umum, bahwa bertepatan dengan Pilkada DKI beberapa waktu lalu, ada kapal induk USA dan RRC yang melintas di dekat perairan Indonesia..apakah ini kebetulan belaka? Rasanya kok tidak.)
Jadi kita perlu mencari suatu titik temu yang adil dan dapat diterima oleh berbagai aliran pemikiran, salah satunya adalah gagasan bahwa Pancasila adalah pembagi bersama (common denominator) seperti yang kerap diungkapkan oleh mendiang Cak Nur.
Dari sudut pandang logika-matematika, persoalan dikhotomi antara berbagai ideologi dapat ditelusuri hingga ke logika Aristotelian, di mana A disebut berbeda dengan non-A. Logika klasik ini masih digunakan di kelas-kelas logika dan filsafat ilmu hingga sekarang, dengan menekankan bahwa tidak ada jalan tengah (the principle of excluded middle).
Namun sejak tahun 1920an telah dikembangkan berbagai alternatif teori logika yang berusaha mennyempurnakan prinsip "excluded middle" tersebut, misalnya oleh matematikawan Polandia, Lukasiewics. Tahun 1970an hingga kini kita juga mengenal teori logika fuzzy, yang dikembangkan oleh Prof. Lotfi Zadeh dari UCLA.
Entah suatu kebetulan atau bukan, sejak 2005 hingga 2010 penulis berkenalan dengan seorang profesor matematika asal Romania, namanya Prof. Florentin Smarandache. Beliau mengembangkan sebuah teori yang memadukan filsafat dan logika matematika bertolak dari Intuitionistic Fuzzy Logic, yang disebutnya: Logika Neutrosofi (Neutrosophic Logic). Lihat (14).
Yang menarik adalah bahwa teori Neutrosofi ini mempelajari berbagai implikasi dari ide netralitas. Ringkasnya, hipotesis utama teori ini adalah bahwa selain A dan non-A, ada elemen ketiga yang berada di tengah-tengah yaitu neut-A. Implikasi gagasan yang sungguh segar ini sangat luas, termasuk dalam bidang jaringan syaraf buatan (neural network), fusi informasi, teori statistik bahkan kalkulus diferensial. Karena itu, bulan lalu penulis memberanikan diri mengusulkan nama Prof. Smarandache sebagai salah satu kandidat penerima Breakthrough Prize dalam bidang matematika.
Implikasi teori Neutrosofi kiranya cukup jelas, yakni di dunia nyata sangat sulit ditemui kasus yang mutlak A atau mutlak non-A. Dengan kata lain senantiasa akan ada spektrum yang menyiratkan posisi jalan tengah atau netralitas. 
Misalnya, sebagai orang Kristen, iman saya merupakan campuran yang jika mau disederhanakan mungkin terdiri dari 50% reform-calvinis, 20% injili, 10% pentekostal, 10% katolik, dan sisanya 10% adalah campuran berbagai pengaruh yang agak ruwet untuk dijelaskan.
Demikian juga, tidak sulit menjumpai orang-orang Islam tulen namun yang setia dengan budaya slametan, serta jika ada keluarga yang meninggal mereka juga mengadakan peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya. Apakah itu mengindikasikan bahwa mereka kurang Islami dibandingkan dengan saudara-saudara mereka yang menolak upacara-upacara tersebut? Saya kira tidak demikian juga. Bukankah Sunan Kalijogo juga memperkenalkan Islam ke tanah jawa menggunakan pendekatan budaya?
Demikian juga, apakah para pemikir dan bapak bangsa kita yang telah merumuskan dan menyepakati Pancasila sebagai landasan hidup berbangsa, kurang islami dengan mereka yang kini gencar mengusung khilafah atau negara agama?
Artinya, penerapan teori Neutrosofi dalam kehidupan spiritual kita kiranya menyarankan agar kita lebih bijak menyikapi spektrum netralitas, artinya tidak perlu seorang bermegah diri sekalipun dia misalnya lulusan terbaik dari Universitas Vatikan atau keturunan nabi sekalipun. Pada akhirnya, spiritualitas kita adalah soal relasi dan perjumpaan kita dengan Tuhan dan itu bersifat personal, dan bukannya soal-soal tetek bengek legitimasi ragawi. 
Lebih lanjut, logika Neutrosofi telah dikembangkan dan dipadukan dengan teori permainan menjadi suatu teori permainan neutrosofik. Ini merupakan terobosan lebih lanjut dalam pendekatan penyelesaian konflik secara teoretis,(1)(2).
Ringkasnya, Neutrosofi mengajak kita memahami betapa absurdnya prinsip "excluded middle" dalam dialog dan penyelesaian konflik apapun, termasuk konflik antara berbagai ideologi yang saling berebut panggung di negeri ini.

Menjawab argumen K.H. Mar'uf Amin
Kini saatnya untuk memberikan respons terhadap argumen utama yang mendukung negara agama yang umumnya diajukan sebagai "alternatif" terhadap Pancasila. Izinkan saya mengutip sedikit dari artikel pak Mahfud MD di harian Kompas tgl 26 mei yang lalu:(13)

"Khilafah sebagai sistem pemerintahan adalah ciptaan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Di dalam Islam tidak ada sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang baku. 
Umat Islam Indonesia boleh mempunyai sistem pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Indonesia sendiri. Para ulama yang ikut mendirikan dan membangun Indonesia menyatakan, negara Pancasila merupakan pilihan final dan tidak bertentangan dengan syariah sehingga harus diterima sebagai "mietsaagon ghaliedzaa" atau kesepakatan luhur bangsa."

Pada bagian akhir artikel yang sangat bagus ini, beliau menutup sebagai berikut:
"Kalau ide khilafah diterima, di internal umat Islam sendiri akan muncul banyak alternatif yang tidak jelas karena tidak ada sistemnya yang baku berdasarkan Al Quran dan Sunah. Situasinya bisa saling klaim kebenaran dari ide khilafah yang berbeda-beda itu. Potensi kaos sangat besar di dalamnya. Oleh karena itu, bersatu dalam keberagaman di dalam negara Pancasila yang sistemnya sudah jelas dituangkan di dalam konstitusi menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia."(13)

Mencegah merebaknya ISIS
ISIS yang menyebarkan pengaruhnya secara luas dalam beberapa tahun ini di banyak negara, juga diawali dengan cita-cita akan khilafah. Ini merupakan bagian dari "eskatologi" mereka yang lalu memotivasi mereka untuk menduduki kota-kota di Timur Tengah, termasuk di Filipina baru-baru ini.
Untuk lebih memahami bagaimana ide khilafah itu berjejalin dengan eskatologi yang agak nyeleneh, berikut ini saya kutip dari seorang teman:
"Perlu kita ketahui bahwa ISIS merupakan bagian dari keyakinan akan nubuat khilafah akhir zaman. Mereka percaya pada nubuat nabi seperti tercantum dalam hadist berikut: 
Dari Abdullah bin Mas'ud ram dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Raha Islam akan berkobar pada tahun tiga puluh lima, tiga puluh enam, atau tiga puluh tujuh. Apabila mereka binasa, maka itulah jalan orang-orang yang binasa, namun apabila mereka menegakkan agamanya, maka akan bertahan hingga tahun ke tujuhpuluh." Lalu aku bertanya, "Akankah kurang dari itu atau lebih?" Beliau menjawab, "Lebih dari itu." (Shahih: Ash-Shahihah).
Berdasar hadist tersebut diyakini bahwa Perang Islam tidak akan terjadi sebelum adanya khilafah Islam. Itu sebabnya khilafah Islam yang memerintah dunia dengan cara islami harus didirikan, dan ISiS ditegakkan untuk memulai misi khilafah Islam di bumi, yakni memerangi kekafiran di bumi dan menegakkan hukum syariah Islam.
Usia dari khilafah Islam akhir zaman seperti dinubuatkan dalam hadist tersebut hanya 35 tahun atau lebih sedikit. Tapi ada yang menafsir hanya 9th. Itu sebab ISIS harus bekerja cepat dalam segala hal yang diperlukan untuk pemerintahan Islam di seluruh dunia. Waktu mereka sangat singkat, dan mereka harus bekerja keras membuktikan kepada dunia, khilafah yang menegakkan syariah bagi Alloh SWT. Sungguh luar biasa ISIS berhasil merekrut anggotanya dari berbagai negara, bahkan termasuk Inggris, Perancis, Jerman, Kanada, dan USA."
Sebagai penutup, di Indonesia ide khilafah atau negara agama juga kian santer didengungkan oleh berbagai kalangan yang menginginkan negara Islam. Persoalannya, disinyalir bahwa para pendukung gagasan negara agama tersebut menganggap diri mereka yang paling benar, lalu mengharamkan para ulama NU dan Muhammadiyah. Bahkan menurut sebuah buku yang ditulis dari keresahan kalangan NU, banyak masjid di desa-desa yang diambil alih secara paksa atau setengah paksa oleh mereka dari imam-imam NU yang telah merintis masjid-masjid itu selama puluhan tahun. Lihat buku yang dirilis semasa hidup Gus Dur.(15)

Catatan penyimpul
Sekali lagi mengutip Mahfud MD, bersatu dalam keberagaman di dalam negara Pancasila yang sistemnya sudah jelas dituangkan di dalam konstitusi menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia.
Kiranya artikel ini dapat berguna untuk memetakan berbagai masalah sekitar ide khilafah di tengah negara Pancasila. Untuk diskusi yang lebih ke arah filsafat hukum dan lain-lain, silakan lihat (4)(5)(6)(7)(9)(10).

Versi 1.0: 7 juni 2017, pk. 20:05
VC
IG: ThirdElijah, Line: ThirdElijah

Referensi:
(12) Sulastomo. Cita-cita negara Pancasila. KPG, 2008.
(13) Moh. Mahfud MD. Menolak ide khilafah. Kompas, 26 mei 2017.
(14) Kami juga sempat menulis beberapa makalah ilmiah dan juga buku, yang bisa diakses secara cuma-cuma di http://fs.gallup.unm.edu
(15) K.H. Abdurrahman Wahid, Ilusi Negara Islam: ekspansi gerakan islam transnasional di Indonesia. The Wahid Institute, 2007.
-------

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at: 
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Perjumpaan

Perjumpaan

Teks: Matius 28:9
Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.

Shalom, selamat siang saudaraku. Pernahkah Anda mendengar kisah dari sahabat atau mengalami sendiri perjumpaan dengan Tuhan? Perjumpaan itu bisa saja melalui mimpi, diselamatkan dari suatu bencana atau penyakit berat, atau melalui dialog dengan orang yang tidak dikenal. Tentu ada semacam perasaan bahwa kita begitu kecil ketika mengalami Allah yang begitu dahsyat. Dan biasanya pengalaman perjumpaan itu terus kita kenang hingga akhir hayat.
Pagi ini izinkan saya berbicara tentang perjumpaan beberapa tokoh iman dalam Alkitab.

Belajar dari Gideon
Saya kira Gideon yang agak penakut tentu tidak menyangka akan disapa oleh Malaikat Tuhan dengan kalimat: "TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani!" Dan Gideon segera memberikan respon, walau awalnya ia meminta tanda lebih tegas. Dia lalu menghancurkan patung berhala di rumah ayahnya.

Belajar dari Yesaya
Mari kita lihat kisah Yesaya ketika berjumpa dengan Tuhan dalam kemuliaan-Nya:

    1  Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.  
    2  Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.  
    3  Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"  
    4  Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.  
    5  Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."  
    6  Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.  
    7  Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."  
    8  Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"  
    9  Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!  

Mari kita lihat dari teks di atas dampak perjumpaan dengan Tuhan:
a. Menguduskan: Yesaya melihat Tuhan di atas Bait Suci dan ia juga melihat para serafim, lalu ia menyadari betapa ia begitu hina dan najis bibir. Celakalah dia, pikirnya. Namun ternyata bibirnya ditahirkan, dan dosanya diampuni.
b. memulihkan: seperti dalam kisah Gideon, Musa, Abraham dan lain-lain, ketika kita berjumpa dengan Tuhan, maka kehidupan kita dipulihkan, demikian juga hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan. Kita akan kembali memiliki pergaulan yang karib dengan Tuhan.
c. Mengubahkan: perjumpaan dengan Tuhan senantiasa bersifat mengubahkan. Yesaya yang hanya orang biasa, lalu diubahkan menjadi seseorang yang kudus dan utusan Tuhan.
d. Mengutus: perjumpaan dengan Tuhan senantiasa bersifat mengutus kita pada suatu tugas penting dalam hidup kita, dan seringkali jauh di luar kemampuan kita sendiri sebagai manusia. Tuhan bertanya kepada Yesaya: "Siapakah yang akan Kuutus?" Pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita. Lalu bagaimana respon kita?
e. menguatkan: sebagaimana dengan Gideon dan Musa dan Abraham dan Yesaya dan lain-lain, ketika kita menyambut perjumpaan dan pengutusan Tuhan dengan sukacita, Ia berjanji akan menyertai kita dengan tangan-Nya yang kuat.

Belajar dari Petrus
Menurut Ortberg, banyak kisah perjalanan dalam Alkitab, misalnya perjalanan Abraham dan Sarai ke tanah perjanjian, perjalanan Musa memimpin bangsa Israel yang bandelnya nggak ketulungan. Namun mungkin perjalanan yang paling unik adalah ketika Petrus memutuskan untuk keluar dari perahu dan melangkah ke atas air yang sedang bergelora untuk menyongsong Tuhan dan Guru yang dikasihinya.(5)
Mari kita renungkan sejenak: apa yang ada di benak Petrus ketika memutuskan untuk melakukan hal itu? Yang jelas, ia tidak sedang menyombongkan diri di depan para murid lainnya, ia tahu resikonya ketika melangkah keluar dari perahu saat badai bergelora. Ia hanya mengandalkan Yesus sebagai mercusuar dalam hidupnya, sebagai pusat dari imannya. Karena itu Petrus bertanya: 

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (Mat. 14:28)

Bagaimana dengan kita? Jika kita berjumpa dengan Tuhan dalam mimpi atau melalui peristiwa badai dalam hidup kita, apakah kita berdoa dan minta kepada Dia: suruhlah aku melangkah satu langkah lebih tinggi dalam perjalanan imanku, ajarlah aku lebih sungguh-sungguh percaya kepada-Mu?
Ada ungkapan yang menarik dari seorang bapak yang putusasa ketika anaknya sakit:

Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Mark. 9:24)

Bukankah kita mesti mengakui bahwa kita juga kurang percaya? Sesungguhnya kita perlu minta tolong kepada Tuhan untuk melepaskan kita dari ketidakpercayaan kita.

Kisah seorang teman lama
Hari senin yang lalu (22/5) saya bercakap-cakap dengan seorang teman SD yang ayahnya baru saja meninggal dan dalam persiapan untuk dikremasi. Kami memang sudah lama tidak berjumpa sejak lulus SD.
Dia bercerita bahwa ketika remaja dulu ia sangat nakal, bahkan waktu SMA sempat tidak naik kelas. Namun suatu kali, ia tersentuh dengan sebuah pujian rohani, yaitu Mazmur 23. Ia merasakan keindahan baik melodi maupun syair lagu tersebut, dan ketika mendengarnya berulang-ulang, lalu ia mulai menjadikan lagu itu sebagai doanya. Dari sejak itulah ia mulai berubah, lalu ia mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Kini ia berprofesi sebagai ahli boiler di beberapa pabrik gula.*
Saya jadi teringat akan seminar yang saya ikuti beberapa minggu sebelumnya di GKT di kota kami. Yang menjadi pembicara adalah seorang pastor senior dari Taiwan, namun namanya saya lupa. 
Beliau antara lain mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang membiasakan diri untuk membaca Alkitab setiap hari, misalnya 3-5 pasal. Meskipun itu tidak keliru, namun seringkali kita membacanya terburu-buru, dan pasal-pasal tersebut kurang meresap dalam hati.
Beliau menganjurkan untuk memulai metode yang meskipun kuno namun jauh lebih efektif, dan metode ini sudah dikenal sejak zaman para biarawan abad pertengahan.
Metode untuk saat teduh yang efektif kira-kira begini menurut beliau:
- mulailah dengan puji-pujian rohani dengan bebas dan rileks, ulangi bagian-bagian yang syairnya menyentuh hati Anda.
- lalu lakukan pembacaan Alkitab dengan satu dari 3 cara ini;
(a) memilih perikop yang dikotbahkan minggu ini, lalu renungkan lagi
(b) dari perikop yang dikotbahkan, carilah dengan apps Anda beberapa ayat yang memiliki kata atau frase yang sama, misalnya "persembahkan tubuhmu..." dll.
(c) pilih perikop tertentu yang Anda temukan dari renungan harian 
- bacalah 4-5 kali perikop tersebut, sampai Anda merasa nyaman
- berdoalah berdasarkan perikop itu, hubungkan dengan situasi Anda saat itu. Misalnya Anda membaca Mazmur 23, berdoalah misalnya: "Tuhan, saya percaya bahwa bersama-Mu aku tidak akan kekurangan. Engkau adalah sandaran hidupku, gunung batuku. Engkau akan memimpinku dalam rapat di kantor hari ini, Engkau juga akan melindungi keluargaku." dst
- belajarlah peka mendengar suara Tuhan.
- ulangi dan resapkan ayat-ayat penting dalam perikop itu dan jadikan itu bahan perenungan Anda sepanjang hari
Jika Anda melakukan hal ini terus-menerus, niscaya kehidupan iman Anda akan bertumbuh, dan Anda akan mengalami pengalaman perjumpaan yang intens dengan Tuhan setiap hari.

Penutup
Kiranya artikel ini membantu Anda mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara spiritual. Sebagai ayat penutup, izinkan saya mengutip pemazmur:

"Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:8)

versi 1.0: 24 mei 2017, pk. 11:36
VC

*Note: terimakasih kepada Hadi Tjahjono.

Referensi:
(5) John Ortberg. Jika anda ingin berjalan di atas air, keluarlah dari perahu. Surabaya: Literatur Perkantas, 2016
-------

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at: 
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Berharga

Berharga

Teks: Yesaya 43:4
"Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu...". 

Shalom, selamat siang saudaraku. Dua hari yang lalu kami mengikuti seminar yang dipimpin oleh Pdt. Erastus Sabdono.* Tema seminar beliau kali ini sangat menarik yaitu tentang gambar diri. Berikut ini adalah refleksi saya tentang seminar tersebut.

Gambar diri
Memang menurut psikologi, gambar diri manusia adalah konsep yang berbeda antara: a. siapa diri kita menurut orang lain, b. siapa diri kita menurut diri sendiri, dan c. bagaimana diri kita sendiri yang sesungguhnya. Anda perlu tahu bahwa itu adalah konsep gambar diri yang dipengaruhi oleh humanisme.
Pdt. Erastus menekankan bahwa yang lebih penting adalah mengenali siapa diri kita menurut Allah. Menurut Kej. 1, manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah (tselem dan demuth). Maksud sebenarnya bukanlah manusia "adalah" gambar Allah, melainkan manusia diciptakan menurut Sang Gambar Allah sejati yaitu Yesus Kristus.
Demikianlah yang tertulis dalam surat Kolose dan Ibrani:

"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan," (Kolose 1:15)

"Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi," (Ibrani 1:3)

Jika kita menyadari bahwa kita diciptakan seturut dengan Yesus Kristus, maka kita akan mulai melihat bahwa sebagai murid-murid Kristus kita juga dapat melakukan hal-hal seperti yang Yesus lakukan, dan bahkan lebih dari itu.
Yesus sendiri bernubuat untuk para murid-Nya:

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yoh. 14:12)

Inilah sumber kepercayaan diri yang sehat, yaitu bahwa kita diciptakan oleh Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaan hebat jauh melebihi yang dapat kita harapkan jika kita hanya mengandalkan gambar diri kita menurut orang-orang di sekitar kita. Banyak hal dahsyat yang dapat kita kerjakan jika saja kita bersandar kepada Allah, dan bukan kepada diri kita sendiri.
Percayakah Anda akan hal ini? Mari kita lihat kisah Michael Jordan, pemain bolabasket legendaris itu.

Kisah pencerahan bagi Michael Jordan kecil (3)
Berikut ini adalah sebuah kisah yang sudah sering dikutip, namun mungkin ada pembaca yang belum pernah mendengarnya.** Jadi saya mengutip lengkap di sini.
Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, sementara upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. 
Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.
Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya, "Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?"
Jordan menjawab, "Mungkin 1 dollar."
Ayahnya kembali berkata, "Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu."
Jordan menganggukkan kepalanya, "Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil."
Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu. Kini ia memegang lembaran uang 2 dollar dan berlarilah ia pulang.
Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian. Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, "Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?"
Kata Jordan, "Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar."
Ayahnya kembali memberikan inspirasi, "Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan."
Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya. Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dolar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.
Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, "Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?" Mata ayahnya tampak berbinar.
Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun. Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer "Charlie Angels", Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya. Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu.
Jordan pun berteriak dengan sangat gembira, "Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh Miss Farah Fawcett, harga jualnya 200 dollar!" Ia pun melelang pakaian itu, hingga seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar.
Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, "Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!"
Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki. Ayahnya bertanya, "Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?"
Jordan menjawab dengan rasa haru, "Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya."
Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, "Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya?"
Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri?
Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan. Potensi diri kita begitu besar, jangan dipandang kecil hanya karena kita terlihat lecek, kumal, dan belum "diasah". Tetaplah berusaha dan teruslah mengasah kecerdikan dalam melakukannya.

Berjalan dengan iman
Ortberg menulis buku yang sangat inspiratif tentang bagaimana kita bisa belajar berjalan di atas air.(4) Ini hanya mungkin jika kita belajar melangkah dengan iman, atau lebih tepat lagi: berjalan menurut roh.
Dalam hubungan ini, Pak Erastus menyampaikan hal yang menarik, yaitu Roma 8:1

    1  "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.  
    2  Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. "

Alkitab versi KJV hanya berhenti di sini, tapi teks asli dalam Yunani Koine menambahkan frase tambahan yang artinya sbb: "yang berjalan menurut roh, bukan menurut daging..." Artinya: jika Anda masih berjalan menurut daging, sesungguhnya Anda belum bebas dari kutuk (condemnation). 
Inilah kunci sebenarnya agar setiap umat percaya agar dapat melakukan hal-hal hebat seperti yang dilakukan Yesus: belajarlah untuk terus setia dan berjalan menurut roh, bukan menurut daging.

Penutup
Akhirnya, kita perlu merenungkan hal berikut: bagaimana seandainya Abraham memutuskan untuk tetap tinggal di Ur? Atau Musa tidak mau kembali ke Mesir? Atau Gideon menolak panggilan Tuhan untuk membebaskan umat-Nya? Atau Daud tetap menggembalakan kambing domba ayahnya? Atau Petrus dan para murid tetap menjadi nelayan?
Jawabnya: sejarah akan berubah dramatis jika umat percaya menolak untuk melangkah dengan iman dan mengemban tanggungjawab untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan Bapa di bumi ini.
Kita mesti berdoa agar dianugerahi Bapa hati dan mata seperti Yesus:

Yoh. 4:34 
"Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."

Yoh. 17:4
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya."

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 22 mei 2017, pk. 18:30
Versi 1.1: 24 mei 2017, pk. 11:39

*Note: terimakasih kepada bp. Pdt. Dr. Erastus Sabdono
**Note: terimakasih kepada Hadi Salis dan Mada.

Referensi:
(5) John Ortberg. Jika anda ingin berjalan di atas air, keluarlah dari perahu. Surabaya: Literatur Perkantas, 2016.
(6) Erastus Sabdono. Gambar diri. Rehobot Literature, 2017.
(7) Carl Gustav Jung. Psychology and religion. New Haven: Yale University Press, 1938.

---

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at: 
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation