Jumat, 29 April 2016

Persepuluhan

a. Pendahuluan
Shalom, saudaraku
Topik persepuluhan bagi banyak di antara kita sudah kita anggap jelas, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi. Begitu juga hang saya pikir waktu saya mendengar tentang seminar dengan topik persepuluhan. Tapi karena saya ingin tahu juga apa yang akan disampaikan, akhirnya saya ikut seminar tersebut hari Senin dan Selasa tempo hari (24-25 Agustus 2015). Ternyata topik ini masih cukup aktual dan hangat untuk dikupas. Jadi saya ingin berbagi apa hang saya dapatkan dari seminar tersebut. Namun karena pembicara menolak untuk disebut namanya, jadi saya akan lebih banyak refleksikan apa yang saya dapat dari seminar tersebut.

b. Wajibkah persepuluhan bagi orang Kristen?
Bagi sebagian gereja, persepuluhan merupakan salah satu hal yang diwajibkan. Sementara bagi sebagian gereja lainnya, persepuluhan tidak wajib, meski mungkin dianjurkan. Lalu apa dasarnya bagi yang mewajibkan dan bagi yang tidak mewajibkan persepuluhan? 
Berikut ini adalah 3 kemungkinan pendapat yang diajarkan kepada Anda selama ini:
(1) persepuluhan tetap berlaku selamanya, termasuk gereja masakini. Banyak gereja khususnya yang kharismatik masih menganut pakem ini.
(2) persepuluhan tidak berlaku lagi, tapi berguna. Atau dalam ungkapan lain, 10% bukanlah standar tapi suatu permulaan. Yang menganjurkan pandangan ini di antaranya adalah Murni Sitanggang [3].
(3) persepuluhan mutlak tidak ada hubungannya dengan gereja/PB. 
Mari kita simak asal usul persepuluhan.

c. Imamat orang Lewi
Ketika Yosua membagi tanah Kanaan, hanya suku Lewi yang tidak mendapatkan ganah. Mereka hanya memperoleh bagian 48 kota. Dari aturan ini lalu Tuhan mengatur supaya persepuluhan yang seharusnya untuk Tuhan, diberikan kepada suku Lewi. Bil. 35:7, 18:24, 18:26
Persepuluhan tersebut diberikan di kota masing-masing. Neh. 10:37
Fakta yang mengejutkan: persepuluhan itu tidak pernah dalam bentuk uang, tapi berupa hasil ternak (herds) dan tanaman (herbs).
David Croteau yang menulis disertasinya tentang analisis biblika terhadap persepuluhan menyatakan bahwa kualifikasi produk yang layak dijadikan persepuluhan adalah: bisa dimakan (eatable), milik pribadi, dan produk tanah. [1] Artinya Tuhan sengaja mengatur agar hanya hasil bumi dan hasil ternak saja yang dikenai persepuluhan. Dengan kata lain, tidak dijumpai catatan bahwa Tuhan mewajibkan persepuluhan bagi pekerja seni, pedagang, nelayan, imam dan orang miskin yang tidak mempunyai tanah. 
Ada 3 macam persepuluhan:
(1) persepuluhan imamat: Im. 27:30-33
(2) persepuluhan perayaan/festival tithing: Ul. 12:17-19, 14:22-27, 26:10-16
(3) persepuluhan amal/charity tithing: Ul. 14:28-29, diberikan setiap akhir tiga tahun, ditujukan kepada kelompok yang tidak mampu termasuk orang Lewi. Merupakan bagian dari ibadah sosial pada masa itu.
Prinsip penting: karena persepuluhan merupakan bagian dari aturan perayaan (ceremonial law), bukan aturan moral (moral law), maka kematian Yesus Kristus di atas kayu salib telah menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat tersebut. Itulah sebabnya baik Yesus maupun Paulus dan rasul-rasul lainnya tidak pernah mengatur tentang persepuluhan lagi, karena pada dasarnya pengorbanan Yesus di kayu salib sudah lebih dari cukup. Sekali untuk selama-lamanya.

d. Refleksi
Saat saya mengikuti seminar tersebut, saya baru menyadari bahwa alam bawah sadar saya selama ini mewajibkan saya untuk berusaha menepati standar 10% tersebut setiap bulan, walau pun sejujurnya seringkali saya juga luput menepati standar tersebut. Saya serasa mendapat pencerahan dari seminar ini yang langsung menohok pada alam bawah sadar saya, khususnya tentang bagaimana saya memahami relasi saya dengan Tuhan. Intinya, saya belajar memahami bahwa Tuhan begitu baik dan setia sehingga tidak pernah bermaksud membebani saya dengan peraturan yang tidak sanggup saya ikuti.  Kini saya mulai belajar mengendalikan alam bawah sadar saya agar tidak terus merasa bersalah jika selama sebulan saya ternyata tidak memenuhi 'target' memberikan 10% penghasilan saya.

e. Abraham dan Yakub
Salah satu argumen yang sering diangkat untuk mewajibkan persepuluhan adalah kisah tentang Abraham dan Melkisedek (Kej. 14:17-20). Tapi ada beberapa catatan yang wajib dikemukakan: merupakan persembahan sukarela, hasil rampasan perang bukan hasil bumi atas hasil ternak Abraham, diberikan hanya sekali, dan kemungkinan merupakan bagian dari budaya perang Timur Tengah. Demikian juga dengan nazar Yakub (Kej. 28:20) diucapkan dengan sukarela dan bukan kewajiban: "Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."  Dengan kata lain, persepuluhan Abraham kepada Melkisedek dan juga nazar Yakub tidak berhubungan dengan aturan persepuluhan yang ditetapkan Musa. Itu sebabnya Musa atau penulis PB tidak pernah menyebut peristiwa Abraham dan Yakub dalam kaitannya dengan kewajiban memberikan persepuluhan. 
Ibr. 7:1-10 yang paling banyak menyebut tentang persepuluhan sebenarnya tidak membahas tentang pentingnya persepuluhan, tapi hanya berbicara tentang Melkisedek sebagai tipologi dari Kristus yang akan datang.

f. Maleakhi 3:8-10
Ayat ini sering dipakai untuk mengancam umat Tuhan agar setia dalam memberikan persepuluhan ke kas gereja tertentu, dengan janji bahwa Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit untuk mencurahkan berkat. Tapi sebenarnya kitab Maleakhi adalah sebuah kritik sosial terhadap seluruh kehidupan bangsa Israel termasuk para imam dan pemimpinnya (lihat Maleakhi 1 dan 2:8). Jadi para pemimpin dan imam yang korup dan memberikan persembahan cemar merupakan sasaran utama kritik sosial, sehingga penekanan sesungguhnya adalah "ya kamu, seluruh bangsa" (Mal. 3:9) 
Kalau kita mau mempelajari kritik sosial terhadap kehidupan agamawi yang serba legalistik dan hanya mengutamakan peraturan yang berlaku tanpa mengindahkan spiritnya, hal ini sering muncul dalam kitab nabi-nabi misalnya Yeremia. Yohanes Pembaptis dan Yesus juga memberikan kritik yang serupa kepada orang-orang Farisi yang setia memberikan persepuluhan tapi mengabaikan belas kasihan kepada orang miskin. (Lihat Mat. 23:23)

g. Simpulan dan Aplikasi
Prinsip penting: karena persepuluhan merupakan bagian dari aturan perayaan (ceremonial law), bukan aturan moral (moral law), maka kematian Yesus Kristus di atas kayu salib telah menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat tersebut. Itulah sebabnya baik Yesus maupun Paulus dan rasul-rasul lainnya tidak pernah mengatur tentang persepuluhan lagi, karena pada dasarnya pengorbanan Yesus di kayu salib sudah lebih dari cukup. Sekali untuk selama-lamanya.  Mengutip Irenaeus, bapa gereja: "For if we still live according to the Jewish law, we acknowledge that we have not receive grace." Demikianlah banyak bapa-bapa gereja yang menolak persepuluhan diwajibkan, misalnya Martin Luther. Dari 3 bapa Kapadokia, hanya Basil yang memerintahkan persepuluhan. Sementara itu, Ambrosius, John Crysostomus dan Agustinus setuju persepuluhan tapi untuk orang miskin bukan untuk gereja. Persepuluhan diwajibkan kembali kepada umat baru pada Konsili Macon II (585M), diduga waktu itu karena gereja membutuhkan banyak dana. Jadi bukan karena pertimbangan teologis murni.
Yesus dan para rasul lebih mengutamakan pentingnya belas kasihan dan memberikan seluruh hidup sebagai persembahan kepada Tuhan. Artinya ibadah kepada Tuhan mesti diiringi juga dengan ibadah sosial. Lihat "ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, adalah mengunjungi (baca: menolong) yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka." Yak. 1:27. Dengan kata lain, PB banyak menekankan persembahan sukarela, bukan mewajibkan persepuluhan. Dan persembahan dalam PB tidak lagi diatur dengan hukum (law) tapi dengan hati (heart).

Aplikasi: daripada berusaha setiap bulan atau setiap tahun memenuhi target 10% disetor ke kas gereja, kita bisa belajar lebih bijak dalam membagi alokasi persembahan  sesuai dengan pertimbangan manusiawi kita. Misalnya, seseorang berkomitmen memberikan 8% dari pendapatan bulanannya untuk pekerjaan Tuhan, dan itu nilainya taruhlah 400000 rp. Bisa saja dia mengatur bahwa 200rb dari total jumlah itu akan diberikan ke kas gereja di mana dia beribadah, lalu 100rb diberikan kepada salah satu gereja di desa yang berkekurangan, dan 100rb lagi diberikan ke panti asuhan. Bulan depan mungkin tujuan persembahan bisa dirotasi ke organisasi misi atau parachurch lainnya. Alokasi semacam ini kiranya lebih bijak dan sesuai dengan makna belas kasihan. Pada akhirnya, alokasi persembahan yang kita akan berikan kepada Tuhan terpulang kepada pertimbangan nurani kita masing-masing.

Demikian sekelumit catatan seputar persepuluhan, kiranya dapat membuka wawasan kita bersama tentang pertimbangan teologis di baliknya. Bagaimana pendapat Anda?

Jika ada komentar dan saran, silakan kirim ke email: victorchristianto@gmail.com

versi 1.0: 28 agustus 2015
VC

Referensi:
[1] David Croteau. A Biblical and Theological Analysis of Tithing: toward a theology of giving in the new covenant era. PhD Dissertation in SBTS, North Carolina. Dec, 2005. Url:  http://digitalcommons.liberty.edu/fac_dis/17/
[2] Joas Adiprasetya. Persepuluhan: kewajiban atau disiplin rohani? GKI Pondok Indah, 15 Nov. 2010. Url: https://www.academia.edu/11337922/Persepuluhan_Sebuah_Tinjauan
[3] Murni H. Sitanggang, Teologi Biblika mengenai perpuluhan. Veritas 12/1(April 2011) 19-37

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar