Rabu, 13 September 2017

Yerusalem

Yerusalem

Teks: Mat. 23:37
37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. "

Shalom, selamat siang saudaraku yang terkasih. Beberapa minggu yang lalu saya memperoleh surel dari seorang peneliti asal Australia, isinya agak kurang lazim bagi saya. Dia ingin menjajagi siapa saja kandidat Mesias bagi umat Israel. Awalnya, saya mengabaikan surel tersebut, meski ada imbalan sejumlah uang. Namun setelah saya renungkan secara mendalam, akhirnya saya memutuskan untuk menjawab pertanyaan peneliti tersebut dengan sebuah artikel.
Tentu jawaban saya adalah Mesias yang dinantikan oleh umat Israel selama ribuam tahun itu sudah datang dan menyatakan diri-Nya secara terbuka sekitar 2000 tahun lalu, yaitu Yesus Kristus. Dan saya juga mengutip pernyataan wasiat seorang rabbi yang terkenal, yaitu alm. Rabbi Kaduri. Selengkapnya jawaban saya bisa dilihat di "The True Name of the Messiah," http://www.vixra.org/abs/1704.0137

Hak kesulungan
Sudah beberapa tahun ini ada kerinduan pada saya untuk berkunjung selama beberapa hari ke kota suci Yerusalem. Bukan, bukan untuk berwisata atau istilah kerennya "berziarah," namun saya ingin bertemu dengan para rabbi dan beberapa kenalan profesor di sana. Tidak lain, maksud saya hanya mau mengingatkan saja, bahwa sudah 2000 tahun berlalu sejak mereka menolak Mesias, Anak Allah yang Hidup, dan memilih seorang penjahat dalam pengadilan Pilatus.
Kini saatnya telah semakin dekat dengan kedatangan Yesus Kristus kedua kali sebagai Raja di atas segala raja. Dan jika orang Israel tidak menggunakan waktu yang singkat ini sebagai kesempatan emas untuk berbalik kepada Sang Mesias yang dijanjikan oleh nubuat para nabi, maka mereka akan tersisihkan dari hak kesulungan sebagai keturunan Abraham.
Saya telah berusaha menghubungi beberapa rabbi dan lembaga untuk menyatakan maksud tersebut, namun sayangnya hingga kini belum ada lembaga atau yayasan yang menyanggupi untuk mendukung perjalanan saya ke Israel. Yang terakhir adalah lembaga JAFI, yang menjawab surel saya dengan menulis bahwa mereka dapat membantu saya melakukan "aliyah" (kembali ke Israel), asalkan saya dapat menunjukkan bukti sebagai salah satu keturunan Israel secara genealogis.
Tentu saya tidak dapat menunjukkan bukti riwayat genealogis itu, namun bukankah ada tertulis bahwa:
a. Yerusalem akan menjadi rumah doa bagi segala bangsa?

"...mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa." (Yes. 56:7)

b. Saatnya akan tiba bahwa pintu-pintu gerbang Yerusalem yang telah tertutup selama berabad-abad akan dibuka agar orang-orang dari seluruh penjuru bumi dapat datang dan beribadah kepada the Lord of Israel?

Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup." (Yes. 45:1)

"Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa!" (Yes. 62:10)

Tentu, masih bisa diperdebatkan siapakah yang dimaksud dengan Koresh dalam teks di atas? Apakah raja Koresh yang mengembalikan umat Israel dari pembuangan? Ataukah Koresh masa kini, misalnya Donald J. Trump?
Sebagai pelengkap, di bagian setelah penutup artikel ini saya sertakan jawaban lengkap dari JAFI yang saya terima hari senin lalu (4 sept).

Penutup
Kiranya ada hamba-hamba Tuhan di negeri ini yang juga terpanggil untuk berkunjung ke Israel, bukan sekadar untuk jalan-jalan, selfie, lalu pulang. Namun untuk mewujudkan kerinduan Bapa dan Tuhan Yesus agar bangsa Israel kembali kepada induk mereka yang telah menunggu kembalinya umat kesayangan tersebut sejak berabad-abad.
Bagaimana pendapat Anda?

*Jawaban dari JAFI (The Jewish Agency for Israel):

Shalom Victor

Thank you for contacting the Jewish Agency.
Firstly, in order to make aliyah you have to be eligible. Under the Law of Return, to make aliyah you need to have a Jewish parent and/or grandparent. please note that certain restrictions do apply to the law of return. for more information please see the link below.

https://www.knesset.gov.il/laws/special/eng/return.htm

In order to prove Jewishness, you need to have a letter from a Rabbi stating that a parent or grandparent is Jewish. If there is no Rabbi who can do this, burial records can be used if the cemetery is for Jewish people only and a community Rabbi can confirm this.
If you are eligible for a parent or grandparent, you need to show original birth certificates showing the linage.
If you need any further information, please do not hesitate to contact us on, gci-en@jafi.org

Sincerely,

Debbie
The Jewish Agency for Israel
Global Service Center

versi 1.0: 9 september 2017, pk. 11:21
VC


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

XQ

XQ

Teks: Mikha 5:4
"Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, ..."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Izinkan kali ini saya berkomentar sedikit tentang pentingnya tindakan, bukan sekadar analisis. Mengapa demikian? Bukan saja karena analisis yang berlebihan cenderung melumpuhkan (paralysis analysis), namun juga dengan bertindak maka kita akan belajar melangkah dengan iman bersama Tuhan. Itu sebabnya saya suka dengan tagline dari judul buku John Ortberg: jika Anda ingin berjalan di atas air, keluarla dari perahumu.
Mungkin Anda pernah mendengar kisah ini:

"Alkisah, sebuah pesawat sedang bertolak ke Nepal, mengangkut 3 tim pasukan khusus, satu tim dari Amerika, satu dari Jepang, dan satu dari Indonesia. Di tengah perjalanan, pilot mendadak mengumumkan kepada para penumpangnya bahwa pesawat mengalami kerusakan mesin, dan akan menabrak tebing dalam 10 menit. Kapten tim Amerika langsung memanggil timnya, dan berkata: pesawat akan jatuh, mari kita bagi parasut dan terjun dalam 2 menit. Kapten tim Jepang juga memanggil timnya, dan berkata: pesawat akan jatuh, mari kita bagi parasut dan terjun dalam 3 menit.
Dan terakhir, kapten tim Indonesia juga mengumpulkan timnya, lalu berkata: "saudara-saudara, pesawat akan jatuh, mari kita bentuk tim penyelamatan. Tono, kamu jadi ketua. Hadi sekretaris. Badi bendahara...dst."

Pentingnya tindakan
Menurut Ram Charand: "Execution is the great unaddressed issue in the business world today."(4) Karena itulah akhir-akhir ini dikembangkan teori xQ (exeqution quotient), intinya adalah mengukur sejauh mana ada gap antara visi perusahaan terhadap realitas di lapangan.
Meski para pemimpin bisnis telah menyadari pentingnya mengubah visi dan strategi menjadi serangkaian tindakan nyata, namun hal ini belum banyak dirasakan oleh para pemimpin di lingkungan gerejawi dan organisasi religius lainnya.(5) Buktinya? Bisa dijumpai dengan mudah gereja-gereja yang memiliki visi tertulis setinggi langit, namun kelakuannya minus.
Bahkan ada gereja tertentu di kota besar (ini nyata), yang warta gerejanya dari minggu ke minggu hanya berisi kisah "kesaksian" sang gembala sidang yang diangkat naik ke surga ke-7. Dan hal itu terus diulang-ulang setiap ibadah, sehingga akibatnya jemaat menjadi terbius dan terbuai oleh berbagai bujukan manisnya. Tidak heran jika budaya organisasi berubah menjadi budaya cult (pengkultusan). Kenyataannya budaya cult ini sering terjadi di gereja-gereja beraliran kharismatik, meski tidak semua seperti itu.
Hal-hal ini tentunya perlu dibenahi, terutama jika gereja di Indonesia ingin serius dalam menanggapi perubahan jaman, bukan sekadar menjadi "penjual minyak urapan." (maafkan kata-kata keras ini)

Bagaimana dengan Indonesia?
Dalam konteks berbangsa, saya kira humor ttg pesawat jatuh tadi masih cukup relevan, bukti gampangnya para birokrat dan teknokrat sering hanya sibuk press rilis dan seminar ini itu, tapi minim aksi nyata. Rasanya hanya sedikit pimpinan negeri ini yang patut diacungi jempol karena aksi nyata di lapangan, sebagian besar juga terjebak dengan budaya cult dan ABS dari para eselon di bawahnya.
Omong-omong tentang situasi darurat, saya menulis dalam artikel sebelumnya bahwa ekspor nonmigas kita ke negara-negara Asean merosot lebih dari 40% sejak 2015 hingga sekarang.(2)
Apakah ini disebabkan oleh merosotnya daya saing, atau oleh salah kebijakan ekspor, atau mungkin karena dampak MEA? Memang mesti diingat bahwa MEA dimulai sejak desember 2015, dan banyak ahli yang mengingatkan bahwa liberalisasi perdagangan tidak baik bagi ekonomi dalam negeri. Tapi kok ya diteruskan?
Apakah kita hanya ingin disebut sebagai negara paling neolib di Asia? (6)
Tentu saya tidak bermaksud mempromosikan kebijakan super-protektif seperti Trump yang membatalkan perjanjian perdagangan bebas Trans-Pasifik (TPP). (7)(8),(8)
Namun setidaknya perlu juga para pemimpin memikirkan 2 hal:
A. nasib pedagang dan petani kecil, yang produknya kerap tergeser oleh buah dan sayuran yang lebih segar dan besar, padahal mungkin itu adalah produk transgenik,
B. nasionalisme belum lagi punah sebagai peninggalan abad 19, digantikan oleh regionalisme dan liberalisasi.
Sekali lagi, mungkin kita perlu belajar lebih banyak tentang xQ.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 14 september 2017, pk. 9:43
VC

Referensi:
(1)http://www.evancarmichael.com/library/ben-nash/Do-you-know-your-organizations-Execution-Quotient.html
(2) http://sabdaspace.org/oranye
(3) https://www.researchgate.net/publication/260748033_Execution_Quotient_EQ
(4) http://www.franklincovey.ca/FCCAWeb/mmedia/pdf/library/xQWhitePaper.pdf
(5) M. Shanlian. Transformational leaders for revitalizing churches. Url: http://www.tntemple.edu/application/files/Academics/DMin/M.Shanlian.pdf
(6) dampak MEA. Url: https://kadexyogi.blogspot.co.id/2016/03/perkembangan-mea-di-indonesia-dan.html
(7) http://time.com/4255900/donald-trump-trade-tariffs/
(8) https://www.nytimes.com/2017/01/23/us/politics/tpp-trump-trade-nafta.html


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Oranye

Oranye

Selamat siang saudaraku. Kali ini izinkan saya bercerita tentang persoalan ekonomi Indonesia dalam konteks geostrategi.
Ceritanya, kemarin saya sempat singgah selama beberapa jam di kotea gudeg, Yogya, untuk menemui seorang kolega lama. Beliau adalah seorang ekonom, namanya Dr. David Widihandojo, dan kini beliau mengajar di pascasarjana UKDW. Saya pertama kali bertemu beliau ketika saya memenuhi undangan dari pascasarjana Studi Pembangunan di UKSW sekitar oktober 2008. Waktu itu saya diminta mempresentasikan buku kami berjudul Cultural Advantage For Cities (1). Saya sangat menghargai integritas beliau sebagai ekonom yang menekuni ekonomi politik, namun tidak hanya menjadi idealis, beliau juga kerap terjun mengembangkan desa-desa binaan. Artinya seorang ekonom yang tidak puas hanya mengajar di ruang kulihah, namun juga berjuang dalam persoalan riil masyarakat. Beliau mengingatkan saya akan Prof. Amartya Sen (India) atau Prof. Muhammad Yunus (Bangladesh).

Deindustrialisasi
Kebetulan kemarin pagi, waktu berangkat naik kereta, saya sempat membeli majalah Gatra edisi khusus menyambut 72 th kemerdekaan Indonesia, yang mengambil topik Ekonomi Kerakyatan.(2) Saya salut dan sangat mengapresiasi akan "keberanian moral" majalah tersebut yang mengangkat topik yang kerap dianggap sudah tidak relevan, dan di luar arus utama pemikiran ekonomi.
Ketika, ketemu dengan pak David, saya langsung membuka salah satu halaman di majalah Gatra yang mengungkapkan bahwa meski ekspor migas Indonesia ke Asean menunjukkan peningkatan, namun ekspor nonmigas Indonesia ke Asean turun lebih dari 40% sejak 2015. Lalu saya menanyakan apakah pendapat beliau sebagai ekonom, tentang faktor-faktor penyebab kemunduran ekspor tersebut: apakah mismanagement, industri yang tidak kompetitif, kelesuan ekonomi dunia, oversupply atau faktor geostrategis.
Jawaban beliau sebagai seorang ekonom profesional sungguh mengejutkan, beliau mengatakan bahwa sejak reformasi 1998, tidak ada masterplan besar pengembngan ekonomi nasional. Dan itu menyebabkan industri kita tidak memiliki arah yang jelas. Beliau menggambarkan bahwa Orde Baru sebenarnya juga tidak punya arah kebijakan ekonomi waktu Suharto mulai memerintah. Namun sebagai pemimpin, ia menyadari perlunya tim ekonom yang profesional, karena yang dilakukan Suharto pada prinsipnya adalah 2 hal pokok: a. mengadopsi kerangka pembangunan ekonomi yang digagas di era Orde Lama, b. menunjuk tim ekonomi yang terdiri dari lulusan Berkeley (disebut mafia Berkeley) termasuk di antaranya Widjojo Nitisastro dll serta membebaskan mereka untuk berkarya tanpa intervensi politis.
Sehingga ekonomi bertumbuh pesat, dan mencapai banyak kemajuan signifikan, termasuk meluasnya partisipasi pendidikan, kesehatan yang membaik, barang-barang terjangkau, dan produksi pertanian meningkat. Hingga pada tahun 1980an Indonesia menjadi negara swasembada pangan.
Memang prestasi manis itu tidak berlangsung lama, karena agaknya Suharto yang mulai menjadi lanjut usia kurang tegas kepada intervensi militer dan juga masuknya kroni (sanak familinya) yang tumbuh menjadi konglomerat dengan berbagai fasilitas. Itulah yang akhirnya menjadi pemicu kesenjangan ekonomi yang membesar, dan akhirnya berujung pada Reformasi.
Namun, setidaknya pemerintahan beliau berusaha keras mencapai kemajuan sesuai dengan pedoman yang digariskan dalam GBHN.
Lalu bagaimana situasi pasca reformasi? GBHN dihapuskan, demokrasi mengarah ke corak parlementer dan ekonomi secara umum berubah haluan menjadi didominasi oleh kapitalisme global yang bercorak neoliberalisme.
Tentu ada hal-hal positif juga yang dicapai selama reformasi, misalnya keberhasilan tim ekuin masa SBY dalam menghindarkan negeri ini dari dampak resesi global saat 2008-2009 ketika ekonomi Amerika dan Eropa dilanda krisis secondary mortgage akibat utang properti yang digelembungkan (Ponzi ekonomi).
Namun, pak David mengatakan, tidak ada upaya strategis untuk mengarahkan ekonomi Indonesia, sehingga praktis yang terjadi adalah hal-hal baik yang diraih negeri ini dalam konteks fundamental ekonomi itu mulai mengalami decay (merapuh). Ini bisa dilihat misalnya, pada melesunya kinerja ekspor serta defisit yang membengkak sejak masa pemerintahan kedua SBY.
Dan tampaknya pada era Jokowi kini, juga tidak seorang ekonom pun yang sekaliber Widjojo atau mafia Berkeley yang dipercaya untuk mengarahkan roda kebijakan ekonomi nasional. Masih belum ada masterplan strategi nasional. Dan juga belum ada GBHN yang diterima sebagai kerangka acuan ekonomi.
Namun saya juga membaca dalam edisi Gatra tersebut ada beberapa inisiatif positif, misalnya yang dipelopori oleh Dr. Din Syamsuddin dengan mengajukan uji materi terhadap produk perundangan yang bercorak neolib dan tidak sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa seperti tertuang dalam UUD 1945.
Tentu kita berharap bahwa upaya untuk mengoreksi pelbagai kebijakan yang keliru produk reformasi itu dapat terus dilakukan dengan didorong oleh Mahkamah Konstitusi.
Salah satu pekerjaan rumah, menurut hemat saya, mungkin adalah menganulir amandemen pasal 33 UUD, karena tambahan beberapa ayat produk amandemen itu justru terkesan dipaksakan dengan tujuan mementahkan dan mengaburan cita-cita ekonomi kekeluargaan melalui koperasi.

Problem struktural
Selain membahas secara deskriptif apa yang sedang terjadi, kami kemarin juga berusaha memikirkan apa yang bisa dilakukan dalam tataran praktis.
Memang strategi pembangunan infrastruktur masif yang ditempuh pemerintahan sekarang perlu untuk jangka menengah dan panjang, namun apakah mungkin pemerintah agak terlena sehingga kurang memikirkan upaya riil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat, khususnya lapisan akar rumput? Selain itu, pembangunan infrastruktur menyedot secara masif sumberdaya ekonomi kita, namun efek multipliernya minimal karena jalan tol pada hakekatnya hanya menguntungkan pemilik mobil pribadi, jadi tidak menyentuh persoalan ekonomi riil.
Mungkin itu salah satu penyebab mengapa terjadi kemerosotan signifikan dalam kinerja ekspor nasional ke Asean sejak 2015. Tentu ada juga faktor-faktor lain misalnya:
a. Indonesia terlalu berkiblat ke Amerika, padahal ekonomi dunia sedang bergerak ke timur. Sebagai contoh, China baru saja merampungkan rute transportasi darat ke Burma dan ke Pakistan, dan di ujungnya dibangun dua pelabuhan besar. Sehingga praktis selat Malaka tidak lagi menjadi rute perdagangan laut. Dengan kata lain, menurut pak David, perubahan geostrategi ini berpotensi untuk menjadikan rute tol laut yang sedang dikerjakan secara masif oleh pemerintahan Jokowi menjadi obsolete, karena Indonesia jadi terpojok mirip usus buntu..
b. oversupply dunia: selain itu juga ada gejala meningkatnya produksi manufaktur dunia, yang menjadikan situasi kini adalah oversupply (kelebihan produksi). Ini mungkin juga menjadi pemicu turunnys harga barang di pasar internasional.(5)
c. deindustrialisasi: selain itu di dalam negeri juga terjadi proses deindustrialisasi, artinya menurunnya daya saing produksi lokal di tengah negara-negara Asia yang makin maju dan kompetitif.(4)
Lalu apa solusinya untuk memulihkan resiliensi ekonomi nasional?

Ekonomi oranye sebagai solusi alternatif
Menurut pak David, memang Indonesia tidak dapat mengandalkan manufaktur berteknologi tinggi yang memerlukan tenaga kerja dengan skill tinggi, selain juga modal yang besar.
Namun ada banyak teknologi sederhana yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ekspor dengan cepat dan riil, tanpa banyak investasi awal. Beliau menyarankan teknologi tepat guna untuk pertanian, peternakan , perikanan, serta industri kreatif.
a. Perikanan: Misalnya, teknologi penyimpanan dingin (cold storage) untuk hasil perikanan dapat membuat ikan lebih awet, sehingga bisa dijual di pasar internasional dan harganya bisa mencapai $20 per kg. Bandeng juga digemari oleh orang Jepang, dan ini dapat menjadi peluang ekspor karena harga yang bagus dapat mencapai $30-$40 per kg.
b. pertanian: Koes Plus menyanyikan lagu sejak dulu bahwa di negeri ini tongkat bisa tumbuh menjadi tanaman. Tapi kok ya nasib petani tidak kunjung membaik.
c. Peternakan: sudah lama diketahui bahwa pabrik susu membentuk kartel yang tidak sehat dan cenderung mendikte harga kepada koperasi susu yang dimiliki peternak sapi perah. Harga susu di tingkat koperasi ditekan ke nilai yang membuat peternak sapi sulit memperoleh keuntungan yang wajar
d. Industri kreatif: merupakan sektor informal yang berpotensi besar untuk dikembangkan karena Indonesia sangat kaya dan beragam dengan warisan budaya di tiap daerah. Sayang sekali, menurut beliau, Departemen Industri Kreatif sudah dibekukan, dan pemerintah agaknya tidak memiliki masterplan untuk mendorong industri kreatif menjadi salah satu pilar penghasil devisa. Memang sudah ada Bekraf, tapi ya kok sepertinya lebih sering seminar daripada mengembangkan upaya nyata. (Ada kisah, bahwa AS sudah punya teknologi roket sampai ke bulan, Thailand sudah mengembangkan pertanian yang maju, namun Indonesia juga tidak mau kalah...lalu menumpuk makalah seminar sampai mencapai bulan.)
Padahal buku Orange Economy menunjukkan bahwa potensi ekonomi kreatif (ekonomi oranye) itu sungguh dahsyat dan luarbiasa, dan ini tidak membutuhkan teknologi yang terlalu tinggi. (3)

Penutup
Demikianlah sekelumit diskusi kami berdua kemarin, yang sempat terrekam dalam memori saya. Kiranya berguna bagi para pembaca. Syukur-syukur kalau dibaca oleh pengambil kebijakan ekonomi nasional.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 25 agustus 2017, pk. 12:06
VC

Referensi:
(1) V. Christianto & F. Smarandache. Cultural advantage for cities: an alternative for developing countries. USA: InfoLearnQuest, 2008. Url: http://www.vixra.org/abs/1003.0200
(2) Majalah Gatra, Ekonomi Kerakyatan. edisi khusus 72 tahun kemerdekaan RI. Jakarta: agustus 2017
(3) Felipe Buitrago Restrepo & Ivan Duque Marquez. Orange economy: potensi kreativitas yang tak terbatas. Jakarta: Noura Books : PT Mizan Publika, 2015.
(4) Stephen Elias and Clare Noone. The growth and development of indonesia economy. Url: http://www.rba.gov.au/publications/bulletin/2011/dec/pdf/bu-1211-4.pdf
(5) The Age of Oversupply: overcoming the greatest challenge. Url: https://www.goodreads.com/book/show/17707716-the-age-of-oversupply


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Rabu, 06 September 2017

Kepemimpinan

Kepemimpinan

Shalom, selamat sore saudaraku yang terkasih. Memang sudah banyak buku yang diterbitkan tentang topik yang satu ini, baik untuk kepemimpinan dalam organisasi bisnis dan pemerintahan, dan juga kepemimpinan dalam lembaga rohani seperti misi atau gerejawi. Namun toh topik ini sepertinya tetap aktual untuk dibahas.

Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan adalah sebuah konsep yang sangat beragam dan luas. Namun, para penulis masalah-masalah kepemimpinan pada umumnya mengaitkan konsep ini dengan pengaruh. John C. Maxwell misalnya, menuliskan hal itu dalam bab pertama yang dengan jelas diberinya judul: The definition of leadership: influence (1993). Peter Northouse merumuskan agak berbeda, yaitu bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses ketika seseorang memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama.(10)
Namun agaknya kedua definisi tersebut dipengaruhi oleh pemikiran di barat yang terlalu menumpukan proses perubahan pada diri seorang pemimpin yang kharismatik. Peter Senge memberikan definisi yang mungkin lebih sehat dan lebih tepat dalam konteks Asia yang lebih menekankan harmoni dalam masyarakat, sebagai berikut: "Kepemimpinan adalah kapasitas suatu komunitas untuk mewujudkan realitas-realitas baru menjadi kenyataan." (Leadership is the capacity of community to bring forth new realities.) Pada hemat saya pendapat Senge ini lebih dekat dengan corak kepemimpinan gereja perdana yang mencerminkan gaya kepemimpinan Trinitarian.(1)
Lalu bagaimana dengan kepemimpinan gerejawi di banyak lembaga rohani kristen saat ini?

Kepemimpinan gerejawi
Sebenarnya, cukup lama saya menghindari untuk menulis artikel tentang kepemimpinan, karena saya merasa masih muda untuk membahas topik yang "berat" ini. Namun kira-kira satu bulan lalu saya menjadi tertarik dengan isyu bagaimana kepemimpinan gerejawi dikembangkan sejalan dengan pemikiran kontemporer tentang Allah Tritunggal?
Terpicu oleh sebuah percakapan gerejawi dalam forum persidangan klasis di gereja kami sekitar bulan Juni lalu, saya jadi mulai terpikir, mungkinkah selama ini kita agak keliru membaca gaya kepemimpinan Yesus?
Barangkali sebagian kita ketika membaca sekilas kitab Injil, mendapat kesan bahwa Yesus menggunakan gaya kepemimpinan kharismatik yang cenderung agak otoriter. Dan persepsi itu agaknya ikut mempengaruhi gaya kepemimpinan yang kerap kita jumpai dalam (maaf) kebanyakan gereja kharismatik-pentakostal. Mengapa saya berpendapat demikian?
Karena format kepemimpinan yang diadopsi kerap seperti ini: "Senior Pastor-Junior Pastor-Penatua-Diaken," dengan kata lain hampir semua keputusan penting diarahkan oleh kepemimpinan tunggal yaitu pastor senior. Mungkin saya keliru, namun di gereja-gereja arusutama, kepemimpinan lebih bersifat kolektif-kolegial, dengan menekankan fungsi majelis (penatua+pendeta) sebagai pengambil keputusan secara kolektif.
Saya tidak bermaksud mengatakan gaya kepemimpinan yang satu lebih unggul dari yang lain, karena masing-masing pola memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun mari kita bertanya: adakah gaya alternatif kepemimpinan yang bercorak Trinitarian, dan barangkali lebih dekat dengan gaya kepemimpinan Yesus dan juga para rasul dalam gereja perdana?
Saya sempat menanyakan hal ini via sms kepada seorang pendeta dan teolog senior yang juga saya anggap sebagai salah satu mentor saya, yaitu Pdt. Dr. Joas Adiprasetya dari STT Jakarta, dan jawaban sms beliau adalah seperti berikut:

"Kepemimpinan trinitarian sedang saya kembangkan lewat kepemimpinan sahabat. Cuma saya tidak ingin paksakan masuk ke tager."*

Karena itu, kali ini izinkan saya merangkum beberapa ciri yang bisa kita pelajari dari gaya kepemimpinan sahabat yang diterapkan Yesus, setidaknya sejauh yang saya pahami.

7 ciri kepemimpinan sahabat dengan meneladani Yesus

a. Dialogis (partisipatif)
Jika kita membaca Keempat Injil sebagai satu kesatuan, banyak sekali terjadi dialog yang terbuka dan jujur, misalnya antara Yesus dan Petrus, antara Yesus dan pemuda kaya, antara Yesus dan Nikodemus, antara Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub. Tampaknya, Yesus senang menggunakan gaya dialogis seperti ini ketimbang memerintahkan sesuatu. Atau jika meminjam Martin Buber, gaya kepemimpinan Yesus adalah I-Thou, atau dalam bhs Jawa kerap disebut "ngewongke" (memanusiakan).

b. Mengutamakan pengalaman (experiential)
Alih-alih mengajar kelas intensif selama 14 hari, tampaknya Yesus lebih suka berjalan-jalan di bukit, naik perahu dan ikut membantu para murid menjala ikan. Ia tercatat beberapa kali mengajar langsung dari perahu, menyembuhkan 10 orang kusta, bahkan membangkitkan Lazarus yang sudah masuk kubur 3 hari, hanya supaya para murid "belajar percaya."
Sungguh suatu pengalaman belajar yang sungguh asyik dan hidup bagi para murid, itu sebabnya dikatakan bahwa para nabi begitu iri akan para murid yang bisa begitu dekat hidup bersama Sang Mesias. Pengalaman langsung seperti ini menurut psikologi jauh lebih efektif dalam menanamkan pesan ketimbang menjejalkan informasi tanpa melihat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Bayangkan jika para dosen dan profesor mengajar ilmu ekonomi bukan di ruang kelas, melainkan langsung di pasar tempat orang berdagang misalnya. Atau mengajar kelas teologi langsung dengan bertanya jawab di jalanan. Bisa jadi dampaknya akan dahsyat juga seperti pengajaran Yesus.

c. Chaordik (spontan)
Menurut Gary Goodell, Yesus meneladankan kepemimpinan dengan hidup dan berjalan bersama para murid-Nya, orang-orang yang Dia jumpai sehari-hari, dan para pemimpin agama pada zaman-Nya. Para pemimpin gereja saat ini seharusnya dapat meniru Dia dengan gaya kepemimpinan yang lebih mengutamakan hubungan. Gaya kepemimpinan ini lebih bersifat "chaordik" (kacau tapi teratur), atau lebih spontan. Gaya chaordik ini bukan sekadar berdasarkan pada naskah, teks, atau khotbah formal yang disampaikan dari mimbar, melainkan interaksi dua arah yang dapat membantu para murid bertumbuh dan berkembang dalam karunia mereka melalui pemuridan sederhana. (11)

d. Berorientasi pada aksi
Yesus sungguh memberikan penekanan pada aksi nyata, sebagai bagian dari proses pembelajaran yang hidup. Termasuk ketika Ia mengubah air menjadi anggur, ketika Ia memberi makan 5000 orang laki-laki, ketika Ia mendatangi para murid saat badai, bahkan ketika Ia sedang cemas menyongsong masa penderitaan-Nya. Saya tidak tahu apakah para guru tentang kepemimpinan seperti John Maxwell pernah memberi contoh berjalan di atas air? Rasanya kok tidak.
Maksud saya tentu bukan mengecilkan peran para guru kepemimpina kontemporer, namun ada seni mengajar yang hilang dalam sejarah gereja.
Seingat saya, dalam sejarah gereja hanya ada beberapa orang Kristen yang hidup begitu dekat dengan alam dan mengajar sambil berjalan keliling dari desa ke desa, di antaranya Franciskus dari Asisi dan Sadhu Sundar Singh.

e. Lembut namun juga lugas dan tegas
Yesus senantiasa bersikap lembut secara konsisten, seperti kepada Lazarus, Nikodemus, dan kepada perempuan yang pendarahan dan lancang menyentuh jubah-Nya. Ia tidak marah ketika diurapi oleh perempuan tidak dikenal, dan juga ketika dikerubuti anak-anak yang mungkin agak lusuh. Namun Ia juga bisa tegas ketika melihat bagaimana Bait Suci dijadikan pasar hewan dan penjual riba.

f. Dipimpin Roh Kudus
Teks berikut dalam Lukas kiranya menggambarkan dengan jelas bahwa keteladanan dan semua aksi yang dilakukan Yesus senantiasa diilhami oleh Roh Kudus yang senantiasa tinggal di dalam diri-Nya.

"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara..." (Yes. 61:1)

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda membiarkan Rob Kudus berkarya dengan bebas melalui hidup Anda, atau Anda lebih sering berupaya memadamkan roh?

19 Janganlah padamkan Roh,
20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (I Tes. 5:19-20)

g. Dalam relasi intens dengan Sang Bapa
Ciri yang terakhir dan bahkan yang terpenting adalah hubungan yang begitu intens yang dibangun dengan doa setiap subuh dan malam. Yesus senantiasa hidup dalam penghayatan yang tulus bahwa hidup-Nya tidak lama di dunia, dan Ia persembahkan seluruh hidup untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa-Nya, yaitu menyelamatkan seisi dunia.

Penutup
Demikian sekelumit pemaparan tentang kepemimpinan Trinitarian yang bercorak dialogis-persahabatan, kirnya bergun bagi kita semua.
Tentunya ketujuh ciri kepemimpinan sahabat yang diteladankan Yesus ini masih dalam tahap eksplorasi awal penulis. Namun kiranya dapat menjadi bahan pemikiran bagi pengembangan gaya kepemimpinan yang lebih bercorak Trinitarian, ketimbang model otoriter yang kerap diadopsi pemimpin gereja masa kini"
Bagaimana dengan gaya kepemimpinan Anda?

versi 1.0: 5 september 2017, pk. 22:02
versi 1.0: 6 september 2017, pk. 16:07
VC

catatan:
*Terimakasih kepada bp Pdt. Dr. Joas Adiprasetya.
*Artikel ini ditujukan kepada kolega saya yang sedang menulis disertasi tentang kepemimpinan, Pdt. Philipus.

Referensi:
(1) Len Hjalmarson. Trinitarian nature of leadership. Crucible 5:2. Url: http://www.ea.org.au/site/DefaultSite/filesystem/documents/Crucible/5-2%20November%202013/Hjalmarson%20-%20Trinitarian%20Nature%20of%20Leadership%20-%20Crucible%205-2%20November%202013.pdf
(2) http://www.nextreformation.com/wp-admin/resources/Trinitarian_Leadership.pdf
(3) Gregory Baxter. A leadership training manual for 21st century church. Url: http://digitalcommons.liberty.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1478&context=doctoral&sei-redir=1
(4) Uche Anizor. Url: https://rdtwot.files.wordpress.com/2010/07/anizor-uche_a-spirited-humanity-the-trinitarian-theology-of-colin-gunton.pdf
(5) Elmer M. Colyer. Url: http://www.vaumc.org/ncfilerepository/AC2014/Colyer3.pdf
(6) Nicholas Jesson. Url: https://www.ecumenism.net/archive/jesson_volf.pdf
(7) Ian T. Douglas. Url: http://www.gemn.org/documents/Missiongoal_docs/MATheology.pdf
(8) Novita L. Sahertian. Url: http://www.ijsrp.org/research-paper-0416/ijsrp-p52104.pdf
(9) Milan Homola. Unitarian relational leadership: the myth! (2008) Url: http://consumingjesus.org/wp-content/uploads/milan_homola_-_trinitarian_leadership.pdf
(10) Sigit Setyawan. Menyusun leadership training untuk remaja. Yogyakarta: Andi Offset, 2017
(11) Gary Goodell. Cara Yesus memimpin: sebuah studi dalam meneladani kepemimpinan Yesus yang chaordic. Yogyakarta: Andi Offset, 2017
(12) Benjamin Agustinus Abednego. Pak Abed Berbicara. Surabaya: Penerbit Berderaplah satu, 2011


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Jumat, 01 September 2017

Milenial

Milenial

Tanggal: 2 september 2017
Topik: Prolog untuk lokakarya penjangkauan kaum muda generasi Milenial
Teks: Lukas 24:13-31

Pendahuluan
Selamat sore, bapak ibu dan adik-adik terkasih. Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersama-sama memikirkan tanggung-jawab gereja dalam melayani kaum mudanya. Tanggung-jawab ini tentu bukan saja demi keperluan regenerasi kepemimpinan gerejawi, namun juga karena alasan yang lebih esensial, yaitu perintah Yesus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
Dan generasi kini sungguh haus akan sapaan dari gereja yang ramah dan mampu memahami dunia mereka. Tentu banyak masalah yang dihadapi gereja, bukan saja faktor kurangnya pemahaman akan dunia teknologi komunikasi yang begitu mendominasi dunia orang muda, namun juga gereja sering tidak memiliki arah yang jelas.

Gereja yang gamang melayani orang-orang muda?
Seperti kita ketahui bersama, gereja-gereja arus utama akhir-akhir ini merasakan menurunnya partisipasi pemuda dalam aktivitas gerejawi. Mengapa demikian? Sebagian mencoba menyalahkan gereja-gereja gelombang ketiga yang begitu aktif menjangkau pemuda, namun saya kira persoalan yang ada lebih mendalam dari itu. Kalau mau jujur, gereja seringkali kurang tanggap dalam memahami kebutuhan remaja dan pemuda saat ini, sehingga mereka mungkin lebih suka hang out bersama teman-teman mereka di kafe atau melaluI gawai yang begitu responsif dalam menyediakan segala macam konten.
Lalu apa yang dapat dilakukan oleh gereja?
Berikut ini adalah suatu perenungan dari salah satu tokoh pelayan pemuda di Gereja Katolik, kiranya membantu.(1)

Permasalahan orang muda
- Identitas diri
Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri. Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi permasalahan ini.
Tahun 1992 Keuskupan Agung Jakarta membuat suatu penelitian dengan hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang muda:
Orang muda yang ber umur 13-17 tahun, masalah terbesarnya adalah soal identitas diri. Sedang yang berumus 17-25 tahun umumnya menghadapi permasalahan menentukan karier. Dan mereka yang berumur 25 tahun. plus umumnya bergulat dengan masalah perjodohan.

- Aktualisasi diri
Kecuali kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, orang memerlukan kemudahan dan pendampingan dalam mengaktualisasikan dirinya. Secara sederhana orang muda butuh waktu dan tempat serta teman untuk dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal. Orang dewasa sebetulnya lebih dibutuhkan kehadiran dan keberadaannya lebih sebagai teman daripada sebagai penasihat.

- Pendampingan
Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri. Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping. Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain, maka bila pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya justru dengan aktualisasi dirinya.

Namun, selain ketiga hal tersebut yang memang baik dan perlu, rasanya ada hal yang justru lebih fundamental, yakni bagaimana memperkenalkan orang muda dalam suatu pengalaman perjumpaan yang nyata dengan Tuhan. Hal ini jauh lebih penting daripada sekadar 10 seri pertemuan KTB yang hanya mencekoki mereka dengan informasi namun tanpa pengalaman perjumpaan. Mari kita lihat teks berikut.

Belajar dari Perjumpaan di Emaus
Mari kita lihat teks yang sangat terkenal ini, Lukas 24:13-31

13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

Apa yang kita baca dari teks di atas? Kedua orang ini sedang berbicara tentang peristiwa-peristiwa penting di sekitar Yerusalem, namun mereka gagal memahami makna peristiwa itu dalam terang Alkitab. Bukankah orang-orang muda juga kerap membicarakan berbagai peristiwa yang tampak menakjubkan bagi mereka? Namun, seperti kata-kata bijak berikut: "orang-orang biasa membicarakan orang-orang, orang-orang cerdas membicarakan peristiwa, namun orang-orang besar membicarakan konsep-konsep." Namun kata-kata bijak itu masih kurang satu tahap lagi, yakni orang-orang benar menjumpai Yesus Kristus yang Hidup.
Jadi di sinilah Yesus masuk dalam percakapan mereka, dan Ia menjelaskan kitabsuci kepada mereka, sampai akhirnya mereka mengalami hati yang berkobar-kobar dan pada titik puncak, tabir yang menghalangi mereka diangkat, dan mereka mengenali sang Guru dan Mesias yang dari tadi mereka bicarakan.
Itulah salah satu tugas Gereja yang sesungguhnya, yakni mengantar generasi Z dan milenial agar mereka juga mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus secara personal. Sudahkah kita memikirkan hal ini?

Tantangan Gereja: Membuat ruang bagi Tuhan bersama generasi Milenial(2)
Don Postema mengatakan,"Allah membuat ruang bagi kita dalam komunitas kovenan. Kita dirangkul sebagai anak. Kita menjadi bagian di dalamnya. Kita menanggapinya dengan membuat ruang bagi Allah dengan menjadi terbuka dalam hidup kita, dan dengan hidup dalam rasa syukur."
Tuhan telah membuat ruang bagi kita dan Dia memanggil kita untuk membuat ruang bagi Dia. Dia juga menggerakkan kita untuk menciptakan ruang bagi anak-anak muda agar mereka bisa terlibat di dalamnya. Kita menciptakan ruang itu dengan meneladani penerimaan Allah terhadap diri kita, memberi mereka kasih yang mengatakan: "Engkau adalah milik Allah."
Kita menciptakan ruang itu dengan membentuk kesempatan bagi anak-anak muda kita untuk menjumpai Allah secara pribadi dan langsung. Kita menciptakan ruang itu dengan membimbing anak-anak muda kepada kedewasaan yang seharusnya dimiliki orang dewasa dan melalui itu mereka belajar membuat ruang mereka sendiri bagi Allah.
Lily Endowment mendanai Youth Ministry and Spiritually Project, suatu eksperimen "membuat ruang" bagi anak-anak muda postmodern. Disponsori bersama oleh Youth Specialties dan San Fransisco Theological Seminary, proyek ini berfokus pada membiasakan 16 kelompok anak muda di Amerika Serikat dalam praktik kontemplasi - "praktik untuk menghasilkan kepekaan yang lebih dalam akan kehadiran Allah." praktik kontemplasi ini di dalamnya merenungkan pembacaan Kitab Suci, doa yang berfokus pada mendengarkan Allah, pengekspresian seni lewat puisi dan lukisan, dan disiplin rohani yang lebih tradisional seperti menenangkan diri dalam keheningan, kesendirian, berpuasa, dan berdoa.
Model-model yang dipakai di masa lalu dalam mendekati Alkitab dan doa seperti "lectio divina", kepekaan terhadap Allah yang dipakai oleh kaum Ignatian dalam bentuk examen, dan doa yang berpusat pada kepekaan akan Allah juga dipakai.
Mark Yaconelli menjelaskan alasan di balik diadakannya proyek itu: "Mereka membutuhkan kita untuk memperlengkapi mereka dengan keahlian yang dapat mengembangkan relasi yang intim dan mengubahkan antara mereka dengan Allah."
Seperti kata Jen Butler, seorang asisten pendeta di Oregon: "Kita seharusnya tidak perlu terkejut ketika program seperti ini berjalan dengan baik. Ini sangat sederhana. Jika Anda membuat ruang, Roh akan hadir."
Dengan perkataan lain, para pembimbing rohani kaum muda adalah para pembuat ruang.

Penutup
Mari kita sebagai pembina atau pengurus badan pelayanan belajar untuk mendekati anak-anak muda bukan dengan segunung aktivitas yang dijejalkan, namun dengan menawarkan keramahan dan persahabatan serta mengajak mereka untuk menciptakan ruang bagi Tuhan.
Pertanyaan untuk direnungkan: "Bagaimana kita membuat ruang yang kudus bagi anak-anak muda postmodern ini?"

versi 1.0: 31 agustus 2017, pk. 12:59
VC

Referensi:
(1) Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Url: http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/
(2) Richard R. Dunn. Membentuk kerohanian anak muda di era postmodern. Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2012.


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Sabtu, 05 Agustus 2017

Sekularisme

Sekularisme

Shalom, selamat malam saudaraku. Izinkan saya kali ini menulis sedikit tentang sekularisme dalam pendidikan dan juga dalam gereja. Sekularisme (atau sekulerisme) dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.(1) Bagaimana menurut pendapat Anda, cocokkah paham sekularisme diterapkan di negeri Pancasila ini?

Sekularisme dalam Pendidikan
Sekilas hal ini tampak baik-baik saja, namun implikasinya sungguh luas, misalnya dalam bidang pendidikan tampak ada indikasi di beberapa kampus ke arah menghilangkan matakuliah pendidikan agama. Bahkan saya mendengar bahwa di kota kami, ada kampus swasta yang cukup terkenal tidak mengizinkan aktivitas persekutuan mahasiswa di lingkungan kampus dengan berbagai alasan.
Kira-kira sebulan lalu saya membaca berita online bahwa ada politisi yang memang menganjurkan agar pelajaran agama dihapuskan dalam kurikulum sejak sekolah dasar, dengan alasan agar bangsa ini lebih cepat maju seperti Singapura atau Australia.
Pada hemat saya, negeri ini telah menetapkan dasar negara yakni Pancasila yang berarti mengakui sila keTuhanan yang Maha Esa, dengan kata lain asas tersebut merupakan jalan tengah di antara dua ekstrem yakni negara agama dan negara sekuler.
Memang di negara-negara maju, paham sekularisme kerap diterapkan bahkan hingga ke titik ekstrem. Misalnya dalam film berjudul "God is not dead seri 2", dikisahkan tentang seorang guru SMA yang menjawab pertanyaan dari seorang siswanya tentang apakah gerakan yang dipelopori Gandhi dan Martin Luther King, Jr. memang terinspirasi dari Khotbah di atas Bukit yang diajarkan Yesus? Guru tersebut menjawab dengan antusias bahwa memang gerakan aksi tanpa-kekerasan mereka terinspirasi dari ajaran Yesus, namun karena jawaban tersebut dia harus menghadapi sidang yang panjang yang mempertanyakan pandangan religiusnya.(2)
Seorang profesor yang saya kenal bercerita hal yang serupa, yakni seorang guru SMA yang menolak mengajarkan teori evolusi karena dia adalah seorang kristen yang taat. Dan pengadilan mengatakan bahwa dia dibayar untuk mengajarkan Ilmu alam, termasuk di dalamnya teori evolusi.
Mungkin permasalahan tidak akan sebegitu rumit, jika guru tadi juga diijinkan untuk mengajar teori evolusi melainkan juga bagaimana pandangan iman kristennya tentang penciptaan, sehingga siswa dapat memilih pandangan mana yang lebih baik. Persoalannya, seringkali guru dilarang bercerita tentang pandangan imannya dan kitab suci, kecuali di kelas agama.
Hal ini juga merupakan salah satu keprihatinan yang disampaikan oleh Rabbi Jonathan Cann dalam pidatonya menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden. Rabbi tersebut antara lain mengatakan bahwa selain Israel, hanya Amerika negara yang menjadi besar karena membawa nama Tuhan dalam konstitusinya.(3) Bahkan matauang Amerika bertuliskan: "Dalam Tuhan kami percaya." Namun ironis sekali, situasi pendidikan di AS sangat mengkhawatirkan, karena sepertinya hukum negara mengesahkan untuk mengeluarkan Tuhan dari ruang-ruang kelas dan perguruan tinggi.
Cahn mengimbau agar Trump dapat mengijinkan kembali diskusi mengenai Tuhan dan penciptaan oleh para guru dan dosen tanpa harus takut dibawa ke pengadilan. Tentu maksudnya adalah agar teori penciptaan diberikan ruang sebagaimana dengan teori evolusi.
Dalam tradisi ilmiah modern, khususnya dalam bidang sosiologi dan antropologi, juga dikenal prinsip sekularisasi yang sama, yang dikenal sebagai "ateisme metodologis." (4) Prinsip ini diperkenalkan oleh Peter L. Berger, seorang sosiolog terkemuka. Intinya, kajian dan penelitian tentang kepercayaan suku-suku kuno tidak boleh melibatkan unsur iman yang bersifat irasional.
Dalam ilmu sejarah, juga dikenal prinsip bahwa sejarah mesti dipelajari sebagai proses yang sepenuhnya bersifat ilmiah dan rasional. Jadi semua unsur mitologi mesti dikeluarkan dari diskusi sejarah. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa teolog-teolog abad 18 dan 19 seperti F.C. Baur mengajarkan teori dialektika sejarah untuk menjelaskan sejarah gereja perdana. Juga Bultmann menganjurkan untuk melakukan "demitologisasi" terhadap narasi-narasi PB.
Dalam ilmu-ilmu alam seperti biologi dan fisika, prinsip ateisme metodologis juga tampaknya merupakan aturan meski tidak tertulis. Karena itu ilmuwan ateis fundamentalis seperti Richard Dawkins sering mengatakan bahwa menjadi seorang ateis merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi ilmuwan yang serius. Benarkah demikian? Cobalah membaca buku Prof. Alister McGrath: The Dawkins delusion.(5)

Sekularisme dalam Gereja
Proses sekularisasi tampaknya juga terjadi dalam praktek gerejawi kita. Yang saya maksudkan tidak hanya dampak negatif dari teologi kemakmuran, teologi sukses dan lain-lain dalam kerangka berpikir kharismatik. Namun, juga tampaknya ada praktek sekularisasi dalam hidup bergereja di gereja-gereja arus utama.
Salah satu contoh, gereja-gereja arus utama tampaknya menghindari diskusi tentang kesembuhan Ilahi, dan mengklaim bahwa teknologi medis merupakan cara yang digunakan Tuhan untuk menyembuhkan manusia. Tampaknya ini agak dipengaruhi oleh rasionalisme barat. Walaupun demikian, penulis dari Fuller Seminary seperti C. Peter Wagner (alm.) telah menulis buku tentang munculnya pelayanan kesembuhan di gereja-gereja gelombang ketiga.
Hal lain yang patut dicermati adalah gereja-gereja arus utama agak alergi untuk membicarakan tentang pertumbuhan jemaat. Entah bagaimana dengan gereja Anda, namun di gereja tempat saya bernaung, istilah yang digunakan adalah "pembangunan jemaat."
Mesti diakui, bahwa istilah PJ pada awalnya dikenal dengan istilah Pembangunan Gereja ("kerkopbouw") di kalangan Nederlandse Hervormde Kerk pada awal tahun 1930an.(6)
Memang istilah PJ kerap dipertentangkan dengan gerakan pertumbuhan gereja yang antara lain dimotori oleh Donald McGavran dan Rick Warren, namun saya memperoleh jawaban yang agak berbeda ketika menanyakan hal ini kepada seorang pendeta senior: Dr. Joas Adiprasetya.* Beliau memang sempat memposting di fb tentang ketidaksetujuan akan konsep pembangunan jemaat karena diwarnai oleh sekularisme di gereja-gereja Belanda, namun beliau juga tidak sependapat dengan model pertumbuhan gereja. Demikian jawaban beliau via sms:

"Saya tidak suka dengan church growth. Yang saya usulkan lebih ke model-model yang muncul dari congregational studies."

Sejauh ini penulis hanya menemukan sebuah paper yang membahas tentang studi kongregasional, dari John Williams.(7) Mungkin studi-studi kontemporer tentang kongregasional bisa dibandingkan juga dengan pemikiran tentang kesehatan gereja.(8)

Penutup
Ada beberapa hal yang kiranya layak untuk dicatat bagi para pemimpin di gereja-gereja:
a. Para pimpinan gereja maupun lembaga pendidikan kristen hendaknya lebih peka akan praktek-praktek sekularisme dalam institusi mereka, yang mungkin tidak cocok dengan semangat kristiani.
b. Para pimpinan sinode kiranya lebih peka akan dampak sekularisme yang merupakan warisan gereja-gereja induk ketika proses Zending dahulu, termasuk penggunaan konsep pembangunan jemaat (PJ) dalam tata gereja.
c. Para pimpinan gereja, baik dari denominasi arus utama, karismatik-pentakostal, maupun gelombang ketiga dan keempat, kiranya membuka diri akan perkembangan pemikiran seputar pertumbuhan kongregasional dan kesehatan gereja, berdasarkan studi-studi yang lebih cocok untuk kondisi di negara dunia ketiga dan Asia.
Kiranya tulisan ini dapat sedikit menyumbang ke arah diskusi yang lebih sehat seputar pertumbuhan dan kesehatan gereja.

versi 1.0: 5 agustus 2017, pk. 21:56
VC

*Catatan: terimakasih atas tanggapan dari bp. Pdt. Dr. Joas Adiprasetya

Referensi:
(1) https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekularisme
(2) https://en.m.wikipedia.org/wiki/God%27s_Not_Dead_2
(3) https://harituhan.wordpress.com/2017/01/28/kata-kata-nubuat-atas-obama-dan-amerika-pada-hari-pelantikan-donald-trump/
(4) http://www.academia.edu/8634356/Must_a_Scholar_of_Religion_Be_Methodologically_Atheistic_or_Agnostic
(5) http://svetlost.org/podaci/the_dawkins_delusion.pdf
(6) Purboyo W. Susilaradeya. Pertumbuhan gereja atau pembangunan jemaat? dalam Bergumul dalam warisan tradisi, editor: Natanael Setiadi.
(7) John Williams. Congregational studies as resource for mission-shaped church. Url: https://biblicalstudies.org.uk/pdf/anvil/26-3_243.pdf
(8) Scott B. McKee. The relationship between church health and church growth in evangelical presbyterian church. Url: http://place.asburyseminary.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1185&context=ecommonsatsdissertations&sei-redir=1


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Selasa, 18 Juli 2017

Prepper

Prepper

Teks: Matius 24:23
"Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan kata "prepper"? Prep artinya: yang berhubungan dengan persiapan. Jadi prepper maksudnya adalah sekelompok orang yang sangat antusias untuk melakukan berbagai persiapan untuk menyongsong segala macam bentuk bencana. Bencana yang dimaksud agak bervariasi, ada yang mengkhawatirkan bencana nuklir, bencana finansial, kelaparan, virus, banjir dsb. Bahkan beberapa waktu lalu ada serial khusus, kalau tidak salah di NatGeo TV, tentang para prepper ini.
Bagaimana dengan negeri ini? Sepertinya tidak banyak orang di sini yang sibuk menimbun bahan makanan karena memang tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hal-hal yang tidak jelas. Dan akan hal ini saya sangat setuju, seperti kalimat Yesus yang sangat terkenal:

"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat. 6:34)

Elenin atau ISON?
Di antara video-video setengah ilmiah yang beredar di youtube, ada yang membahas tentang kemungkinan komet sebesar patung Liberty menabrak lokasi tertentu di bumi sekitar bulan september. Di antaranya disebut tentang komet Elenin yang ditemukan oleh astronom Rusia, Leonid Elenin.(4)
Tidak hanya itu saja, ada lagi ramalan tentang komet ISON atau bahkan planet misterius yang kerap disebut Nibiru. Lihat (5).
Barangkali para peramal dadakan itu lalu menghubungkan kemungkinan bencana dari luar orbit bumi tersebut dengan pengangkatan umat pilihan. Bahkan seorang teman memberikan tautan Youtube yang berisi pesan dari Yusak Elisha yang mengabarkan bahwa pengangkatan akan terjadi tgl 23 september. Dan pesan itu menjadi viral dan menghebohkan banyak umat Tuhan di gereja tertentu.
Kalau Anda mau percaya akan hal itu ya terserah saja, namun yang jelas NASA telah mengkonfirmasi bahwa tidak akan ada peristiwa kataklismik apapun pada bulan september dan oktober tahun ini. (1)
Jika Anda memang punya teleskop dan berniat mengamati benda-benda langit, cobalah lacak sendiri komet-komet yang baru ditemukan sejak 2015. (6)
Sebagai catatan, ada beberapa belas ramalan yang beredar di internet sejak 2007-2015 yang bahkan berani menyebut tanggal terjadinya kiamat, namun semuanya itu meleset.(2)
Sekte Mormon juga percaya bahwa kiamat akan terjadi tgl 28 september tahun ini, dan mereka melakukan persiapan khusus untuk itu.(7)
Memang tahun 2017 ini bertepatan dengan tahun 5777 dalam kalender Yahudi dan memang akan terjadi banyak perubahan besar, tapi bukan dalam artian karaklismik.

Hal-hal yang dinubuatkan akan berubah
Tahun ini adalah 2017, seperti yang dinubuatkan oleh Cindy Jacobs angka 17 berarti kemenangan yang lengkap (8). Termasuk perubahan dalam gereja, dalam keluarga, dalam masyarakat, bangsa maupun hubungan internasional.
Berikut kutipan nubuat dari Cindy Jacobs:

"This John 17 move will extend to families as well as there is a "focus on the family" where longstanding breaches between siblings, and between parents and their children are healed. God is calling for families to pray together and "light" the family altar. Strongholds in family systems are going to be broken in powerful and supernatural ways. This will even extend to strongholds of poverty, disease, alcoholism, and drug abuse.
The John 17 movements will align against injustice and religious strongholds as they decide together that they want a new move of the Holy Spirit.
We are hearing the words, New Wine, New Wine!"

Ada beberapa hal yang jelas dinyatakan oleh Tuhan kepada saya hari ini setelah saya berdoa memohon petunjuk Tuhan, dan saya kira hal-hal ini selaras dengan nubuat yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan yang memiliki karunia itu seperti Cindy Jacobs:(8)
a. Tahun ini bertepatan dengan peringatan 500 tahun gerakan Reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther, dan telah ada yang menulis buku bahwa setiap 500 tahun gereja sebagai Tubuh Kristus akan mengalami pembaharuan secara dramatis
b. Tahun ini memang akan terjadi perubahan besar namun lebih ke arah sistem finansial. Dalam artikel Cindy Jacobs: "There will be many, many changes in this coming year. Changes in locations, houses, buildings, and the breaking off of generational systems of debt."(8)
c. Tahun ini anak-anak Tuhan akan dinyatakan. Lihat juga (3).
d. Tahun ini kuasa-kuasa gelap akan dipatahkan.
e. Tahun ini Injil akan diberitakan kepada segala makhluk tanpa halangan yang berarti.

Apa yang harus kita lakukan?
Jika kita percaya dengan segenap hati akan janji pemulihan dari Tuhan akan bangsa yang mau belajar untuk mendengarkan suara Tuhan dan taat akan perintah-perintah-Nya:

1 "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.
2 Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:
3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. (Ul. 28:1-3)

Maka janji di atas juga berlaku kini dan di sini untuk bangsa ini, karena itu kepada para pemimpin baik di gereja-gereja maupun pemimpin bangsa berusahalah sungguh-sungguh agar berkenan di hadirat Tuhan, serta memperoleh karunia untuk mendengar suara Tuhan. Ini bukanlah hal yang aneh atau hanya terjadi di zaman dahulu, namun dapat terjadi juga sekarang bagi Anda dan saya yang hidup dalam kekudusan dan bergaul akrab dengan Tuhan seperti Musa, Nuh, Abraham, Elia dll.
Setelah itu belajarlah untuk berdoa syafaat secara tekun sedemikian rupa sehingga doa-doamu menjadi doa yang berkenan di hadirat Tuhan dan penuh kuasa.
Untuk mempelajari bagaimana mendengar dan memberitakan suara Tuhan serta bagaimana memiliki doa yang berkuasa, lihatlah 2 buku Cindy Jacobs (9)(10).

Penutup
Tahun ini memang tahun perubahan-perubahan besar, namun ke arah yang lebih baik khususnya bagi gereja sebagai Tubuh Kristus, karena itu stop kecemasan yang tidak menentu dan perasaan tidak berdaya, sebab itu semua datangnya dari si Jahat.
Jangan mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.
Jika Anda ingin mendengar pesan Tuhan untuk tahun ini, maka berdoalah dan mintalah petunjuk langsung dari Roh Kudus, atau setidaknya dengarlah nubuat-nubuat dari orang-orang yang memang memiliki karunia untuk itu.
Tuhan memberkati Anda semua. Amin.

versi 1.0: 18 juli 2017, pk. 15:41
VC

Referensi:
(1) http://www.ibtimes.co.in/nasa-says-worlds-not-coming-end-september-dismisses-asteroid-apocalypse-prediction-635529
(2) http://www.religioustolerance.org/end_wrl18.htm
(3) https://www.hiskingdomprophecy.com/i-will-elevate-you/
(4) https://en.m.wikipedia.org/wiki/C/2010_X1
(5) https://www.nasa.gov/content/goddard/timeline-of-comet-ison-s-dangerous-journey/
(6) http://www.ast.cam.ac.uk/~jds/coms15.htm
(7) http://www.inquisitr.com/2420612/mormons-have-scheduled-the-apocalypse-for-sept-28-but-theyre-probably-wrong/
(8) Cindy Jacobs. Word of the Lord for 2017. Url: https://www.generals.org/articles/single/word-of-the-lord-for-2017/
(9) Cindy Jacobs. Suara Tuhan: bagaimana mendengar dan mengucapkan perkataan dari Tuhan. Light Publishing, 2016
(10) Cindy Jacobs. Kuasa dari doa yang tekun. Light Publishing, 2011


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Senin, 17 Juli 2017

George Foreman

GEORGE FOREMAN,,

Tuhan berkata :
"SAYA tidak mau uangmu George, SAYA menginginkan engkau...!"

Shalom..😇
Waktu saya kecil, keluarga kami sangat miskin. Maka untuk makan saja, saya sengaja bertamu ke tetangga pada jam-jam makan, berharap mereka mengundang saya untuk makan bersama mereka.

Tumbuh dalam kemiskinan membuat kebencian dan amarah tumbuh subur dalam hati saya, sehingga semuanya itu saya salurkan dengan berlatih tinju secara keras. Tidak lama, hasil latihan itu membuat saya mendapatkan medali emas olimpiade kelas berat pada tahun 1968.

Pindah ke jalur profesional, kemarahan dan kebencian membuat saya bagaikan binatang buas menghancurkan siapa saja yang melawan, kebanyakan lawan saya 'KO' sebelum ronde ketiga. Rekor 32 kali menang tanpa pernah kalah, membuat saya dengan cepat meroket menjadi penantang bagi Joe Frazier. Saat itu Joe Frazier bagaikan "dewa tinju", tidak seorang pun saat itu terpikir bahwa dia bisa kalah.

Saya ingat, saat bel tanda ronde pertama dimulai, masih jelas terngiang di telinga saya bagaimana Joe dengan cepat datang dengan nafsu membunuhnya. Namun hal itu tidak membuat saya takut, saya membalas setiap pukulannya dengan sekuat tenaga, sehingga dia pun bertekuk lutut, 'KO'. Itu adalah peristiwa paling membahagiakan dalam karier bertinju saya.

Tahun 1974, di Zaire (Afrika), saya harus berhadapan dengan Muhammad Ali, pertarungan yang diberi nama "Rumble in the Jungle". Ali mengetahui kemarahan adalah kunci kelemahan saya. Ali pun memanfaatkan hal tersebut dengan terus membuat pernyataan yang merendahkan saya di berbagai media. Hal itu membuat saya gelisah dan murka, ingin segera rasanya menghajarnya di atas ring.

Kepercayaan diri saya saat itu terlalu besar karena saya baru saja menghajar 'KO' Ken Norton, orang yang menghajar Ali dengan 'KO' dalam 2 ronde. Bagaimana bisa Ali sesumbar seperti itu...? 

Saya begitu marah dan telah meremehkannya. Pada pertandingan tersebut, saya terus memukulnya dengan sekuat tenaga dan ingin mengakhiri Ali secepat mungkin.

Namun Ali terus bertahan dan tidak bergeming, sehingga membuat saya kehabisan tenaga. Pada ronde kedelapan, saat saya memukulnya di bagian lambungnya, Ali menyadari pukulan saya sudah lemah. Dia bertanya,

 "Hanya itu yang kau miliki George..?" 

Kemudian dia langsung membalas dengan cepat, dan yang saya ingat hanyalah suara wasit menghitung saya.

Tapi bukan pertarungan itu yang mengubah hidup saya. Pertarungan tinju paling penting dalam kehidupan saya adalah saat melawan Jimmy Young di Puerto Rico, 17 Maret 1977. Saat itu, saya sedang berusaha merebut gelar juara dunia kembali. Tapi pertarungan saat itu paling berat, berakhir 12 ronde dengan keputusan wasit saya kalah.

Saya dibawa masuk ke ruangan ganti dengan setengah pingsan, lambung saya terasa sakit karena pertarungan tadi. Saya duduk bersandar di locker dikelilingi pelatih dan para official sambil berteriak-teriak,

 "Rematch! Rematch...!" (pertandingan ulang).

Saat keributan terus berlangsung di sekitar saya, pandangan dan pendengaran saya menjadi kabur perlahan, dan semuanya menjadi gelap gulita. Dalam kegelapan itu, saya mendengarkan sebuah suara berkata:

 "Kalau engkau percaya pada Tuhan, mengapa engkau begitu takut...?"

Saya kaget mendengar suara itu. Kemudian dengan marah saya menjawabnya:

 "Siapa bilang saya takut...? 
Siapa yang menyebut-nyebut Tuhan..?"

Lalu saya mengatakan pada suara itu, bagaimana saya harus keluar dari kemiskinan ini. Hanya dengan usaha keras saya sendiri dan bagaimana saya harus berjaya dengan kekuatan saya.

Suara itu diam dan perlahan muncul ketakutan dalam hati saya, sebuah perasaan kematian. Saya merasa akan mati, ini adalah akhir dari semuanya.

Saya mencoba tawar-menawar dengan suara itu, 

"Saya adalah George Foreman, biarkanlah saya hidup, maka saya akan banyak menyumbang untuk amal."

Suara itu menjawab; "Saya tidak mau uangmu George, saya menginginkan engkau..!"

Saya bertambah takut karena saya tidak pernah tahu, ada orang yang menganggap uang tidak berharga.

Kegelapan itu menarik saya semakin dalam, semakin gelap, dan semakin dalam lagi. Suara itu mengatakan, inilah rasanya maut itu, gelap ..., kosong ..., sendirian ..., dan itu akan berlangsung selamanya ....

Kemudian saya mendengar suara-suara berbisik, orang-orang yang berteriak-teriak. Semakin lama semakin jelas, perlahan pandangan saya melihat orang-orang di sekitar saya. Ternyata saya sudah kembali ke ruangan ganti. Banyak orang mengelilingi saya sambil bertanya dengan nada cemas, 

"Kamu baik-baik saja, Jagoan..?"

Saya menjawab, 
"Apakah saya baik-baik saja..? Saya adalah orang yang baru!" 

Saya merasa diri saya berubah, saya merasa diri saya orang lain, perasaan ini sungguh luar biasa, tidak dapat saya jelaskan dengan kata-kata. Saya merasa dibebaskan, dilepaskan, tubuh saya terasa sangat ringan. Saya dilepaskan dari kemarahan dan kebencian yang selama ini merasuki saya.

Saya mengerti sekarang apa hidup itu. Ini tidak ada hubungannya dengan tinju, tidak ada hubungannya dengan mengejar gelar juara. Ini semua mengenai Tuhan. Tentang cinta-Nya dan pengampunan-Nya. Saya langsung mencium semua orang di situ sambil berkata, 

"Saya mengasihimu, Tuhan mengasihimu..!" 

Ada sebuah perasaan kasih yang besar keluar dari hati saya bagaikan gelombang, membuat saya tidak bisa diam untuk tidak mengatakannya.

Tiga puluh delapan tahun setelah hari itu, saya lebih terkenal sebagai koki daripada mantan juara dunia tinju. Saya memiliki acara masak sendiri di televisi, dan 55 juta peralatan panggang dengan merek nama saya laku terjual di seluruh dunia. Itu belum termasuk kaos, saus, krim cukur, pembersih rumah tangga, dan berbagai peralatan lain. Semua dengan merek nama saya. Orang berpikir saya kaya karena bertinju. Mereka salah, seluruh penghasilan saya dari bertinju seumur hidup jauh lebih kecil dengan nilai kontrak peralatan panggang yang saya buat.

Tuhan memberkati saya melimpah justru saat saya bertobat, undur dari dunia tinju, dan melayani-Nya sepenuh hati.

Sejak hari pertarungan dengan Jimmy Young itu, saya menggantung sarung tinju saya dan mulai rajin ke gereja. Awalnya, saya hanya duduk bersembunyi di pojok gereja, tidak ingin siapa pun tahu saya ada di situ. Namun saat mereka menyadari kehadiran saya, mereka menyuruh saya bersaksi di depan jemaat. Saya yang terbiasa bertinju ditonton oleh jutaan orang, kali ini berbicara di depan sedikit jemaat. Kaki saya gemetar.

Tidak lama setelah itu, saya melayani sepenuh waktu dengan menjadi pendeta, membangun gereja di lingkungan tempat saya dibesarkan. Saya kini memiliki pertarungan yang berbeda, yaitu melawan kemiskinan, rumah tangga yang hancur, kenakalan remaja, penyakit mematikan, tekanan mental, dan banyak problem lain. Setiap kali berhasil menang terhadap masalah itu, rasanya jauh luar biasa daripada menang 'KO'.

Pada tahun 1993, saudara saya mendirikan tempat latihan tinju dan dia mengundang saya untuk datang ke sana. Namun, saya selalu menolaknya karena saya tidak ingin jemaat melihat saya dekat dengan ring tinju.

Suatu kali, tidak sengaja saya harus singgah di gym itu. Di sana, saya melihat seorang ibu dan anak remajanya yang berusia sekitar 15 tahun. Mereka melihat dengan penuh harap dan ingin berbicara dengan saya. Saya tahu akan ke mana arah cerita mereka karena saya melihat diri saya sendiri dan ibu saya dalam diri mereka. Ibu itu pasti akan bercerita bagaimana miskinnya hidup mereka dan mengenai anaknya yang selalu terlibat dalam masalah. Ia pasti ingin agar saya melatih anaknya bertinju dan mengarahkannya.

Saya berusaha menghindar bercakap-cakap dengan mereka, dan saya pun pergi meninggalkan mereka dengan sebuah perasaan bersalah. Tidak lama setelah itu, saya menelepon Roy untuk menanyakan keadaan anak itu. Roy berkata bahwa anak itu sudah masuk penjara.

Saya merasa dihajar dengan pukulan yang sangat keras dan membuat 'KO' ketika mendengar berita tersebut. Ya Tuhan ..., trauma saya pada ring telah membuat satu jiwa tersesat. Sejak melayani Tuhan, saya mau pergi ke mana saja Tuhan utus, ke penjara, rumah sakit, pedalaman, sampai ujung dunia pun saya mau pergi, kecuali satu tempat ring tinju. Pada saat itu, saya mendengar Tuhan berkata, 

"Sekarang saatnya George, bawa Aku ke sana ...."

Dunia menjadi gempar ketika saya kembali ke ring tinju. Mereka menahan napas saat saya bertarung dengan anak-anak muda yang memiliki kecepatan dan kekuatan, yang jauh berbeda dari orang seumur saya. Bagi mereka, mustahil seorang tua berumur 40-an tahun mampu bertinju lagi.

Tapi saya membuktikan bahwa semua perhitungan dunia adalah salah. Pada usia hampir 50 tahun, saya kembali merebut gelar juara dunia dan dinobatkan sebagai petinju tertua yang pernah meraih gelar juara dunia. Saya menekuk Michael Moore dengan 'KO' pada ronde ke-10, padahal dia baru menaklukan Evander Holyfield. Dan saya menyatukan seluruh gelar juara badan dunia, yaitu WBA, WBC, dan IBF.

Selanjutnya, gelar juara itu tidak pernah direbut dari saya, tapi saya sendirilah yang menyerahkan sabuk itu, yaitu pada orang yang telah saya kalahkan (Axel Schultz). Saya lalu mengundurkan diri dari dunia tinju.

Mereka tidak habis pikir bagaimana orang setua saya bisa melakukannya, saat seharusnya tidak ada lagi kekuatan orang muda tersisa dalam diri saya ini.

Hanya satu jawabnya, hanya satu kekuatan yang membuat tubuh tua ini bangkit menjadi pemenang, yaitu "KEKUATAN DARI TUHAN YESUS ". Bukan kuat dan gagah saya, melainkan karena Roh Tuhan ada dalam diri saya. Amin

Tuhan Yesus Memberkatimu teman

Sumber :  majalah: SUARA edisi 79 -- FGBMFI, 2005
Penulis: George Foreman
Penerbit: Communication Department - Full Gospel Business Men's Fellowship Internasional - Indonesia, Jakarta Halaman: 5 -- 9

Kamis, 06 Juli 2017

Tetragrammaton

Tetragrammaton

Shalom selamat pagi saudaraku. Menyambung artikel sebelumnya tentang berbagai varian Alkitab berbahasa Indonesia (1), tiga hari kemarin diskusi menghangat kembali dalam grup WA kami khususnya menyangkut bagaimana penyebutan yang benar akan nama TUHAN.
Berikut adalah komentar saya beserta tanggapan dari pak Agna, seorang rekan diskusi:

"Saya mencoba memahami argumen pak Agna begini:

1. Memang bagi mereka yang belajar bahasa Ibrani, tetragrammaton itu bisa dibaca sebagai Yahweh.* Itu satu kemungkinan, namun bagaimanapun juga itu ada unsur guessing (menebak) yaitu mengisi tanda vokal di antara konsonan.

A**: Dulu Israel selama beberapa generasi memang melafalkan, dan Musa yang mengajarkan bagaimana melafalkan nama diri TUHAN. Setelah hilangnya Tabut perjanjian, mereka tidak lagi melafalkan nama suci YHWH, kecuali nama-nama suci lainnya.

2. Bagaimanapun juga kita tidak pernah akan tahun bagaimana orang-orang pada zaman Adam, Nuh, Henokh, Seth memanggil nama YHWH.*** Jadi tradisi Yahweh lebih banyak karena konvensi.

A: Tradisi Yahweh ada pada komunitas Yahudi yang mana saya belum menemukan dan masih dalam pencarian. Kalau ada yang mengetahui mohon disampaikan dakam grup ini, bahwa ada komunitas Yahudi yang memiliki tradisi Yahweh. Kami tahu ada komunitas yang mendewakan Yahweh, tetapi tidak ada hubungannya dengan YHWH.****

3. Di kalangan para ahli, ada yang mengkhususkan diri untuk menekuni nama Tetragammaton ini. Dua di antara kemungkinan pelafalan adalah: Yahwiyu dan YaHuWaH. Lihat (4). Bandingkan juga dengan artikel lain tentang "pronounciation" dari YHWH (5)(6).

A: Berikut adalah kemungkinan-kemungkinan, jika 4 huruf suci: YHVH dibubuhi vokal, kita akan menemu aneka ragam kominasinya.*****

Yahavah - Yahaveh - Yahavih - Yahavoh - Yahavuh
Yahevah - Yahevah - Yahevih - Yahevoh - Yahevuh dst

4. Jika kita menerima bahwa nama Ibrani dari Yesus adalah Yahoshua atau Yahushua, maka agaknya nama diri untuk Yang Maha Tinggi itu mungkin lebih tepat adalah: YaHuWaH.

A: Banyak yang hanya menebak atau menduga bahwa empat huruf ini dibunyikan Yahavah, Yehuwa, Yaheveh, Yahuwah, Yahaveh dst, jadi semuanya hanya menduga sehingga akhirnya baik Yehovah, Yahuwah maupun Yahweh hanyalah merupakan nama "dugaan."

5. Namun semua ini perlu disikapi dengan penuh kerendahan hati, bukan kesombongan. Wong kita juga hanya bisa "guessing." Lebih baik energi dan waktu yang singkat ini digunakan untuk menjangkau orang-orang yang masih belum diselamatkan.

A: betul sekali. Karena itu janganlah Yahweh diproyekkan. Hal seperti ini tidak memuliakan nama Tuhan. Mari kita umkris Indonesia menghasilkan buah-buah iman sesuai tanggungjawab dan talenta masing-masing.

Penutup
Dari diskusi selama beberapa pekan ini, sepertinya memang ada sekelompok penerjemah Alkitab yang ngeyel, meski dengan alasan hang cenderung eisegesis ketimbang ekegesis. Mungkin mereka baru mengambil kursus bahasa Ibrani dari Yerusalem, saya juga tidak tahu. Saya pernah menulis bahwa aliran pemujaan nama Yahweh ini cenderung ke arah Christian Judeo Unitarian Modalism.(2)
Dalam sejarah, memang selalu ada sekte-sekte yang berusaha menjadi yang paling puritan di antara kaum Yahudi, bisa disebut misalnya sekte Esseni atau seke Ebionit.
Apakah kelompok pemuja nama Yahweh ini memang berniat meng-ebionisasikan umat Kristen di Indonesia?
Saya kira gejala itu yang perlu dicermati, karena saya juga mendengar bahwa ada gereja-gereja tertentu yang beruaha mengembalikan tradisi Yahudi ke dalam liturgi gerejawi.
Saya menghimbau kepada para gembala sidang di seluruh Indonesia: boleh saja kalian menyuruh umat kalian untuk kembali ke asal (back to basics), tapi janganlah menciptakan kerohanian yang bersifat legalistik dan ragawi (jasmaniah) saja. Itu hanya akan membuat sekelompok umat Kristen Farisi.
Lihat perjuangan para rasul untuk membebaskan Gereja Perdana dari tuntutan legalisme Yahudi, dalam Kis. 15

versi 1.0: 30 juni 2017, pk. 11:32
VC

catatan:
* lihat misalnya kamus di belakang Alkitab versi LAI 1974
** komentar dari pak Agna. Terimakasih ya pak atas konentarnya.
*** diduga sebelum masa Musa, orang pada waktu itu menggunakan bahasa Israel kuno, yang disebut Ancient Pictographic Hebrew. Lihat diskusi di (3)
**** sekadar usul, mungkin cara terbaik untuk melacak bagaimana umat Yahudi waktu itu memanggil nama Tuhan, adalah dengan melihat temuan-temuan prasasti pada waktu itu, termasuk misalnya Dead Sea Scrolls.
***** untuk permainan kombinatorik tentang nama YHWH ini, lihat misalnya novel detektif karya Umberto Eco, judulnya Foucault Pendulum. Lihat (7)

Referensi:
(1) http://sabdaspace.org/jglt
(2) http://sabdaspace.org/pagar
(3) http://sabdaspace.org/paku
(4) http://yahushua.net/YHWH.htm
(5) http://yhvh.name/?w=710
(6) https://broduaneblog.wordpress.com/2017/03/02/is-yahuah-the-correct-way-of-pronouncing-yhwh-and-is-yahusha-the-correct-name-of-his-son/
(7) Umberto Eco. Url: http://www.goodwin.ee/ekafoto/tekstid/Eco%20Umberto%20-%20Foucault%27s%20Pendulum.pdf


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

JGLT

JGLT

Shalom, selamat siang saudaraku. Beberapa bulan yang lalu, seorang sahabat di gereja memberikan saya sebuah oleh-oleh dari perjalanannya.* Oleh-oleh tersebut berupa buku yang cukup penting karya W.R. Telford berjudul the New Testament.(1)
Sejujurnya, hingga sekarang saya baru membaca beberapa lembar dari buku tersebut.

Nama YHWH
Namun buku tersebut baru terasa sangat berguna akhir-akhir ini, terutama karena dalam 2 minggu terakhir ini ada diskusi yang cukup hangat dalam sebuah grup di whatsapp berkisar tentang bagaimana cara terbaik untuk menyebut the Supeeme God: apakah Allah, YHWH, atau Yahweh. Diskusi ini lalu dihubungkan dengan pertanyaan: manakah terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia yang paling dapat dipertanggungjawabkan baik secara teologis maupun penafsiran literal?***
Di antara para peserta diskusi, ada yang menyatakan bahwa terjemahan LAI 1974 agak kompromistis, dan mereka merasa bahwa terjemahan yang paling baik adalah yang disebut ILT, ILT3 atau MILT (modified indonesian literal translation). Namun tidak kurang juga yang menyanggah bahwa terjemahan LAI justru sudah tepat, malahan versi ILT justru memasukkan kata Yahweh dalam teks PB, yang sulit untuk dipertanggungjawabkan secara literal. Dengan kata lain, ILT atau MILT meski bersumber dari Alkitab terjemahan Jay Green almarhum, namun justru dalam Alkitab versi Jay Green tidak ada kata Yahweh dalam PB. Alkitab Jay Green kerap disebut KJ3.
Kalau mau lebih tajam, tampaknya tim MILT yang kalau tidak keliru dipimpin oleh Pdt. Yakub Sulistyo justru telah bersikap tidak konsisten, yaitu dengan cara melibatkan pra-anggapan dengan cara memasukkan Hebrew New Testament sebagai rujukan mereka dalam menerjemahkan PB. Bukanlah ini sama saja dengan melakukan "eisegesis," ketimbang eksegesis?

Respon
Namun karena saya merasa bahwa itu bukan bidang kompetensi saya, maka saya menahan diri untuk tidak berkomentar dalam diskusi yang ramai tersebut, sampai kemarin malam baru akhirnya saya memutuskan untuk mulai menyuarakan pendapat saya kira-kira sebagai berikut (sudah diedit sedikit):

"Shalom rekan-rekan yang baik, izinkan saya urun rembug sedikit. Saya memang bukan ahli bahasa Ibrani, tapi pernah ikut dalam proyek penerjemahan Alkitab. Saya sependapat bahwa secara teknis tidak masalah jika ILT ingin mengembalikan TUHAN menjadi YHWH sesuai teks ibrani. Tapi itu hanya untuk PL.
Kalau untuk PB, jika ILT mau menggunakan YHWH untuk menggantikan Kurios, itu hanya berdasarkan "asumsi" bahwa dulu teks PB ditulis dalam bahasa Ibrani. Namun diduga bahwa sebagian PB ditulis dalam Aramaik, dan sebagian lagi dalam Greek Koine.
Lagipula itu merupakan bagian dari kontekstualisasi Injil untuk kebutuhan saat itu. Bukankah kita membaca:
a. Yesus memanggil Bapa dalam bahasa Aram
b. Yesus berseru: Eloi, Eloi lama sabakhtani
c. Paulus memperkenalkan YHWH bangsa Israel kepada orang athena menggunakan konsep yang sudah mereka kenal: Agnostos Theos... Bukan YHWH.
Sekali lagi, bukan bermaksud lancang kepada para senior, namun sebaiknya kita belajar dari Rasul Paulus, jangan mengibranikan orang Indonesia, namun mari menyeberangkan konsep YHWH ke dalam alam berpikir Indonesia. Mungkin nama panggilan: "Gusti Romo" cukup memadai."

Penutup
Pembaca dipersilakan memutuskan sendiri dari diskusi di atas, mana terjemahan yang lebih pas. Hanya saja hendaknya pilihan tersebut diambil berdasarkan pertimbangan akal sehat dan hati nurani yang murni, bukan untuk kepentingan menjual buku senilai $7-$10.
Dan bagi tim penerjemah LAI yang kabarnya sedang menggodok versi revisi terhadap Alkitab LAI edisi 1974, mungkin sebaiknya juga mempertimbangkan terjemahan edisi JGLT/KJ3 dan juga NET Bible yang memasukkan ribuan catatan kaki tentang sumber-sumber yang masih diperdebatkan.
Kebetulan saya menyimpan naskah NET Bible dalam versi MS Word, jika ada yang berminat silakan menghubungi, nanti saya akan emailkan.*
Sebagai catatan penutup, sebaiknya kita tidak terlalu terjebak dalam diskusi yang berkepanjangan tentang mana terjemahan yang paling benar. Justru kita mesti memperhatikan bahwa generasi Z dan milenial bisa hilang jika tidak dikembangkan Alkitab yang sesuai untuk dunia mereka.
Salah satu langkah yang bisa saya usulkan adalah menerjemahkan beberapa edisi Alkitab Manga ke dalam bahasa Indonesia. Kiranya itu akan membantu menjembatani jurang komunikasi antar generasi.

Versi 1.0: 27 juni 2017, pk. 12:52
VC

Catatan:
*terimakasih buat mas Rudeng.
**kebetulan penulis pernah ikut sebagai salah satu editor dalam suatu proyek penerjemahan Alkitab, tapi bukan MILT.
***terimakasih kepada para peserta diskusi di grup Iluminasi yang telah memperluas wawasan penulis.

Referensi:
(1) W.R. Telford. The New Testament. 2nd ed. London: Oneworld publications, 2014.
(2) https://dedewijaya.wordpress.com/2016/05/16/11-alkitab-indonesia-yang-perlu-anda-tahu/


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation