Rabu, 15 Februari 2017

La La Land

La La Land

La la land: untuk para pemimpi

Teks: Kej. 39:20-23
20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.
21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

Shalom saudaraku, selamat pagi. Izinkan kali ini saya menulis untuk orang-orang yang nyaris putus asa dan frustrasi, namun yang tetap berani bermimpi.
Untuk merekalah film La La Land ini dirancang.

La La Land
Film drama musikal yang memenangkan berbagai penghargaan ini memang sangat bagus, karena bukan sekadar kisah cinta biasa, namun lebih tepat disebut kisah kemenangan harapan.
Film dibuka dengan kemacetan jalan raya, lalu beberapa pengemudi mendengarkan musik di mobil. Bukankah ini hal yang lumrah di jalanan kota-kota di negeri ini?
Lalu dikisahkan tentang seorang barrista* perempuan yang merangkap sebagai aktor drama. Di sudut lain dikisahkan seorang pianis muda yang bermimpi memainkan lagu-lagu ciptaannya sendiri, alih-alih hanya memainkan repertoar usang yang membosankan.
Di saat malam natal, sang pianis nekat berimprovisasi di sebuah klub, dan tidak memainkan lagu natal standar seperti jingle bells. Alhasil dia diusir oleh manajer klub. Nah tepat di titik itulah, dia berpapasan dengan si barrista tadi, meskipun mereka tidak bertegur sapa...di sinilah kisah sebenarnya dimulai.
Keduanya sering mengalami kegagalan, namun akhirnya si barrista berhasil memperoleh audisi yang ditunggu-tunggunya, lalu ia menyanyikan: To the fools who dream.(1) Itulah yang menjadi tag line film ini: untuk orang-orang bodoh yang terus bermimpi.
Pertanyaan untuk direnungkan: beranikah kita terus bermimpi akan berbagai perubahan dramatis dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, kota, dan negara ini?Ditengah-tengah situasi yang membuat frustrasi dan seperti tanpa harapan?
Mari kita lihat kisah Yusuf.

Korban?
Pagi ini saya membaca renungan Spirit, yang mengangkat tema: Pemain atau korban? Teks diambil dari Kej. 39:4. Meski saya mengamini pesan teks ini, namun teks yang saya kutip di atas agak bergeser sedikit.
Mungkin ada banyak orang di sekitar kita termasuk Anda dan saya yang seperti dilahirkan dengan nasib apes, alias sering tertimpa kemalangan. Agaknya drama alam semesta hanya menaruh kita menjadi kerikil-kerikil kecil yang mudah tersingkirkan. Benarkah kita lalu menjadi korban yang tidak dapat berbuat apapun?
Perasaan menjadi korban atau dikorbankan oleh orang lain yang lebih berkuasa, mungkin juga dialami oleh Yusuf. Ia yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, lalu menjadi pelayan di rumah Potifar, namun ternyata nasibnya mesti berakhir di penjara.
Jika ia tidak memiliki iman yang teguh, ketika perjalanan hidup mengantar dia dalam usia yang muda masuk penjara, mungkin ia akan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja. "Hopeless" kata orang.

Namun apa kata Alkitab?
Tuhan ternyata memberkati Yusuf dan menyertai dia bahkan selagi dia ditimpa kemalangan. Akhir kisah Yusuf ini telah kita ketahui bersama: ia diangkat sebagai penguasa atas tanah Mesir, hanya setingkat lebih rendah dari Firaun sendiri.
Yang lebih menarik adalah ketika Yusuf berjumpa dengan saudara-saudaranya, ia tidak membalas kejahatan mereka. Namun malah ia menghibur mereka, bahwa semua itu adalah dalam rancangan Tuhan yang ingin menyelamatkan keturunan Abraham.

Pelajaran
Lalu pelajaran apa yang kita dapat petik dari kisah Yusuf di Mesir dan juga dari film La La Land?
Mungkin sederhana saja: jika kita terus berusaha keras sambil bermimpi dan beriman kepada Tuhan, maka Ia akan menyertai kita. Dan pada akhirnya alam semesta akan mendukung kita.
Itulah inti dari teori Mestakung (semesta mendukung) yang digagas oleh Prof. Yohanes Surya. Dan dua tahun lalu, saya sempat menulis buku spiritual berjudul Teologi Gundukan Pasir yang mencoba menerapkan wawasan Mestakung ini untuk membaca berbagai kisah PL di Alkitab.
Ternyata memang itulah rumus keberhasilan menurut jalan Tuhan.

Ada sebuah lagu bagus yang liriknya antara lain berbunyi:

tangan Tuhan sedang merenda,
suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti,
Kau lihat pelangi kasih-Nya

To the fools who dream...

Versi 1.0: 16 februari 2017, pk. 11:18
VC

*note: barrista = ahli pembuat kopi di kafe.

Referensi: http://www.azlyrics.com/lyrics/lalalandcast/auditionthefoolswhodream.html


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013
Phone: (62) 812-30663059
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
Http://gospel.16mb.com
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar