Sabtu, 05 Agustus 2017

Sekularisme

Sekularisme

Shalom, selamat malam saudaraku. Izinkan saya kali ini menulis sedikit tentang sekularisme dalam pendidikan dan juga dalam gereja. Sekularisme (atau sekulerisme) dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.(1) Bagaimana menurut pendapat Anda, cocokkah paham sekularisme diterapkan di negeri Pancasila ini?

Sekularisme dalam Pendidikan
Sekilas hal ini tampak baik-baik saja, namun implikasinya sungguh luas, misalnya dalam bidang pendidikan tampak ada indikasi di beberapa kampus ke arah menghilangkan matakuliah pendidikan agama. Bahkan saya mendengar bahwa di kota kami, ada kampus swasta yang cukup terkenal tidak mengizinkan aktivitas persekutuan mahasiswa di lingkungan kampus dengan berbagai alasan.
Kira-kira sebulan lalu saya membaca berita online bahwa ada politisi yang memang menganjurkan agar pelajaran agama dihapuskan dalam kurikulum sejak sekolah dasar, dengan alasan agar bangsa ini lebih cepat maju seperti Singapura atau Australia.
Pada hemat saya, negeri ini telah menetapkan dasar negara yakni Pancasila yang berarti mengakui sila keTuhanan yang Maha Esa, dengan kata lain asas tersebut merupakan jalan tengah di antara dua ekstrem yakni negara agama dan negara sekuler.
Memang di negara-negara maju, paham sekularisme kerap diterapkan bahkan hingga ke titik ekstrem. Misalnya dalam film berjudul "God is not dead seri 2", dikisahkan tentang seorang guru SMA yang menjawab pertanyaan dari seorang siswanya tentang apakah gerakan yang dipelopori Gandhi dan Martin Luther King, Jr. memang terinspirasi dari Khotbah di atas Bukit yang diajarkan Yesus? Guru tersebut menjawab dengan antusias bahwa memang gerakan aksi tanpa-kekerasan mereka terinspirasi dari ajaran Yesus, namun karena jawaban tersebut dia harus menghadapi sidang yang panjang yang mempertanyakan pandangan religiusnya.(2)
Seorang profesor yang saya kenal bercerita hal yang serupa, yakni seorang guru SMA yang menolak mengajarkan teori evolusi karena dia adalah seorang kristen yang taat. Dan pengadilan mengatakan bahwa dia dibayar untuk mengajarkan Ilmu alam, termasuk di dalamnya teori evolusi.
Mungkin permasalahan tidak akan sebegitu rumit, jika guru tadi juga diijinkan untuk mengajar teori evolusi melainkan juga bagaimana pandangan iman kristennya tentang penciptaan, sehingga siswa dapat memilih pandangan mana yang lebih baik. Persoalannya, seringkali guru dilarang bercerita tentang pandangan imannya dan kitab suci, kecuali di kelas agama.
Hal ini juga merupakan salah satu keprihatinan yang disampaikan oleh Rabbi Jonathan Cann dalam pidatonya menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden. Rabbi tersebut antara lain mengatakan bahwa selain Israel, hanya Amerika negara yang menjadi besar karena membawa nama Tuhan dalam konstitusinya.(3) Bahkan matauang Amerika bertuliskan: "Dalam Tuhan kami percaya." Namun ironis sekali, situasi pendidikan di AS sangat mengkhawatirkan, karena sepertinya hukum negara mengesahkan untuk mengeluarkan Tuhan dari ruang-ruang kelas dan perguruan tinggi.
Cahn mengimbau agar Trump dapat mengijinkan kembali diskusi mengenai Tuhan dan penciptaan oleh para guru dan dosen tanpa harus takut dibawa ke pengadilan. Tentu maksudnya adalah agar teori penciptaan diberikan ruang sebagaimana dengan teori evolusi.
Dalam tradisi ilmiah modern, khususnya dalam bidang sosiologi dan antropologi, juga dikenal prinsip sekularisasi yang sama, yang dikenal sebagai "ateisme metodologis." (4) Prinsip ini diperkenalkan oleh Peter L. Berger, seorang sosiolog terkemuka. Intinya, kajian dan penelitian tentang kepercayaan suku-suku kuno tidak boleh melibatkan unsur iman yang bersifat irasional.
Dalam ilmu sejarah, juga dikenal prinsip bahwa sejarah mesti dipelajari sebagai proses yang sepenuhnya bersifat ilmiah dan rasional. Jadi semua unsur mitologi mesti dikeluarkan dari diskusi sejarah. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa teolog-teolog abad 18 dan 19 seperti F.C. Baur mengajarkan teori dialektika sejarah untuk menjelaskan sejarah gereja perdana. Juga Bultmann menganjurkan untuk melakukan "demitologisasi" terhadap narasi-narasi PB.
Dalam ilmu-ilmu alam seperti biologi dan fisika, prinsip ateisme metodologis juga tampaknya merupakan aturan meski tidak tertulis. Karena itu ilmuwan ateis fundamentalis seperti Richard Dawkins sering mengatakan bahwa menjadi seorang ateis merupakan salah satu prasyarat untuk menjadi ilmuwan yang serius. Benarkah demikian? Cobalah membaca buku Prof. Alister McGrath: The Dawkins delusion.(5)

Sekularisme dalam Gereja
Proses sekularisasi tampaknya juga terjadi dalam praktek gerejawi kita. Yang saya maksudkan tidak hanya dampak negatif dari teologi kemakmuran, teologi sukses dan lain-lain dalam kerangka berpikir kharismatik. Namun, juga tampaknya ada praktek sekularisasi dalam hidup bergereja di gereja-gereja arus utama.
Salah satu contoh, gereja-gereja arus utama tampaknya menghindari diskusi tentang kesembuhan Ilahi, dan mengklaim bahwa teknologi medis merupakan cara yang digunakan Tuhan untuk menyembuhkan manusia. Tampaknya ini agak dipengaruhi oleh rasionalisme barat. Walaupun demikian, penulis dari Fuller Seminary seperti C. Peter Wagner (alm.) telah menulis buku tentang munculnya pelayanan kesembuhan di gereja-gereja gelombang ketiga.
Hal lain yang patut dicermati adalah gereja-gereja arus utama agak alergi untuk membicarakan tentang pertumbuhan jemaat. Entah bagaimana dengan gereja Anda, namun di gereja tempat saya bernaung, istilah yang digunakan adalah "pembangunan jemaat."
Mesti diakui, bahwa istilah PJ pada awalnya dikenal dengan istilah Pembangunan Gereja ("kerkopbouw") di kalangan Nederlandse Hervormde Kerk pada awal tahun 1930an.(6)
Memang istilah PJ kerap dipertentangkan dengan gerakan pertumbuhan gereja yang antara lain dimotori oleh Donald McGavran dan Rick Warren, namun saya memperoleh jawaban yang agak berbeda ketika menanyakan hal ini kepada seorang pendeta senior: Dr. Joas Adiprasetya.* Beliau memang sempat memposting di fb tentang ketidaksetujuan akan konsep pembangunan jemaat karena diwarnai oleh sekularisme di gereja-gereja Belanda, namun beliau juga tidak sependapat dengan model pertumbuhan gereja. Demikian jawaban beliau via sms:

"Saya tidak suka dengan church growth. Yang saya usulkan lebih ke model-model yang muncul dari congregational studies."

Sejauh ini penulis hanya menemukan sebuah paper yang membahas tentang studi kongregasional, dari John Williams.(7) Mungkin studi-studi kontemporer tentang kongregasional bisa dibandingkan juga dengan pemikiran tentang kesehatan gereja.(8)

Penutup
Ada beberapa hal yang kiranya layak untuk dicatat bagi para pemimpin di gereja-gereja:
a. Para pimpinan gereja maupun lembaga pendidikan kristen hendaknya lebih peka akan praktek-praktek sekularisme dalam institusi mereka, yang mungkin tidak cocok dengan semangat kristiani.
b. Para pimpinan sinode kiranya lebih peka akan dampak sekularisme yang merupakan warisan gereja-gereja induk ketika proses Zending dahulu, termasuk penggunaan konsep pembangunan jemaat (PJ) dalam tata gereja.
c. Para pimpinan gereja, baik dari denominasi arus utama, karismatik-pentakostal, maupun gelombang ketiga dan keempat, kiranya membuka diri akan perkembangan pemikiran seputar pertumbuhan kongregasional dan kesehatan gereja, berdasarkan studi-studi yang lebih cocok untuk kondisi di negara dunia ketiga dan Asia.
Kiranya tulisan ini dapat sedikit menyumbang ke arah diskusi yang lebih sehat seputar pertumbuhan dan kesehatan gereja.

versi 1.0: 5 agustus 2017, pk. 21:56
VC

*Catatan: terimakasih atas tanggapan dari bp. Pdt. Dr. Joas Adiprasetya

Referensi:
(1) https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekularisme
(2) https://en.m.wikipedia.org/wiki/God%27s_Not_Dead_2
(3) https://harituhan.wordpress.com/2017/01/28/kata-kata-nubuat-atas-obama-dan-amerika-pada-hari-pelantikan-donald-trump/
(4) http://www.academia.edu/8634356/Must_a_Scholar_of_Religion_Be_Methodologically_Atheistic_or_Agnostic
(5) http://svetlost.org/podaci/the_dawkins_delusion.pdf
(6) Purboyo W. Susilaradeya. Pertumbuhan gereja atau pembangunan jemaat? dalam Bergumul dalam warisan tradisi, editor: Natanael Setiadi.
(7) John Williams. Congregational studies as resource for mission-shaped church. Url: https://biblicalstudies.org.uk/pdf/anvil/26-3_243.pdf
(8) Scott B. McKee. The relationship between church health and church growth in evangelical presbyterian church. Url: http://place.asburyseminary.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1185&context=ecommonsatsdissertations&sei-redir=1


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar