Rabu, 06 September 2017

Kepemimpinan

Kepemimpinan

Shalom, selamat sore saudaraku yang terkasih. Memang sudah banyak buku yang diterbitkan tentang topik yang satu ini, baik untuk kepemimpinan dalam organisasi bisnis dan pemerintahan, dan juga kepemimpinan dalam lembaga rohani seperti misi atau gerejawi. Namun toh topik ini sepertinya tetap aktual untuk dibahas.

Definisi kepemimpinan
Kepemimpinan adalah sebuah konsep yang sangat beragam dan luas. Namun, para penulis masalah-masalah kepemimpinan pada umumnya mengaitkan konsep ini dengan pengaruh. John C. Maxwell misalnya, menuliskan hal itu dalam bab pertama yang dengan jelas diberinya judul: The definition of leadership: influence (1993). Peter Northouse merumuskan agak berbeda, yaitu bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses ketika seseorang memengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama.(10)
Namun agaknya kedua definisi tersebut dipengaruhi oleh pemikiran di barat yang terlalu menumpukan proses perubahan pada diri seorang pemimpin yang kharismatik. Peter Senge memberikan definisi yang mungkin lebih sehat dan lebih tepat dalam konteks Asia yang lebih menekankan harmoni dalam masyarakat, sebagai berikut: "Kepemimpinan adalah kapasitas suatu komunitas untuk mewujudkan realitas-realitas baru menjadi kenyataan." (Leadership is the capacity of community to bring forth new realities.) Pada hemat saya pendapat Senge ini lebih dekat dengan corak kepemimpinan gereja perdana yang mencerminkan gaya kepemimpinan Trinitarian.(1)
Lalu bagaimana dengan kepemimpinan gerejawi di banyak lembaga rohani kristen saat ini?

Kepemimpinan gerejawi
Sebenarnya, cukup lama saya menghindari untuk menulis artikel tentang kepemimpinan, karena saya merasa masih muda untuk membahas topik yang "berat" ini. Namun kira-kira satu bulan lalu saya menjadi tertarik dengan isyu bagaimana kepemimpinan gerejawi dikembangkan sejalan dengan pemikiran kontemporer tentang Allah Tritunggal?
Terpicu oleh sebuah percakapan gerejawi dalam forum persidangan klasis di gereja kami sekitar bulan Juni lalu, saya jadi mulai terpikir, mungkinkah selama ini kita agak keliru membaca gaya kepemimpinan Yesus?
Barangkali sebagian kita ketika membaca sekilas kitab Injil, mendapat kesan bahwa Yesus menggunakan gaya kepemimpinan kharismatik yang cenderung agak otoriter. Dan persepsi itu agaknya ikut mempengaruhi gaya kepemimpinan yang kerap kita jumpai dalam (maaf) kebanyakan gereja kharismatik-pentakostal. Mengapa saya berpendapat demikian?
Karena format kepemimpinan yang diadopsi kerap seperti ini: "Senior Pastor-Junior Pastor-Penatua-Diaken," dengan kata lain hampir semua keputusan penting diarahkan oleh kepemimpinan tunggal yaitu pastor senior. Mungkin saya keliru, namun di gereja-gereja arusutama, kepemimpinan lebih bersifat kolektif-kolegial, dengan menekankan fungsi majelis (penatua+pendeta) sebagai pengambil keputusan secara kolektif.
Saya tidak bermaksud mengatakan gaya kepemimpinan yang satu lebih unggul dari yang lain, karena masing-masing pola memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun mari kita bertanya: adakah gaya alternatif kepemimpinan yang bercorak Trinitarian, dan barangkali lebih dekat dengan gaya kepemimpinan Yesus dan juga para rasul dalam gereja perdana?
Saya sempat menanyakan hal ini via sms kepada seorang pendeta dan teolog senior yang juga saya anggap sebagai salah satu mentor saya, yaitu Pdt. Dr. Joas Adiprasetya dari STT Jakarta, dan jawaban sms beliau adalah seperti berikut:

"Kepemimpinan trinitarian sedang saya kembangkan lewat kepemimpinan sahabat. Cuma saya tidak ingin paksakan masuk ke tager."*

Karena itu, kali ini izinkan saya merangkum beberapa ciri yang bisa kita pelajari dari gaya kepemimpinan sahabat yang diterapkan Yesus, setidaknya sejauh yang saya pahami.

7 ciri kepemimpinan sahabat dengan meneladani Yesus

a. Dialogis (partisipatif)
Jika kita membaca Keempat Injil sebagai satu kesatuan, banyak sekali terjadi dialog yang terbuka dan jujur, misalnya antara Yesus dan Petrus, antara Yesus dan pemuda kaya, antara Yesus dan Nikodemus, antara Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub. Tampaknya, Yesus senang menggunakan gaya dialogis seperti ini ketimbang memerintahkan sesuatu. Atau jika meminjam Martin Buber, gaya kepemimpinan Yesus adalah I-Thou, atau dalam bhs Jawa kerap disebut "ngewongke" (memanusiakan).

b. Mengutamakan pengalaman (experiential)
Alih-alih mengajar kelas intensif selama 14 hari, tampaknya Yesus lebih suka berjalan-jalan di bukit, naik perahu dan ikut membantu para murid menjala ikan. Ia tercatat beberapa kali mengajar langsung dari perahu, menyembuhkan 10 orang kusta, bahkan membangkitkan Lazarus yang sudah masuk kubur 3 hari, hanya supaya para murid "belajar percaya."
Sungguh suatu pengalaman belajar yang sungguh asyik dan hidup bagi para murid, itu sebabnya dikatakan bahwa para nabi begitu iri akan para murid yang bisa begitu dekat hidup bersama Sang Mesias. Pengalaman langsung seperti ini menurut psikologi jauh lebih efektif dalam menanamkan pesan ketimbang menjejalkan informasi tanpa melihat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Bayangkan jika para dosen dan profesor mengajar ilmu ekonomi bukan di ruang kelas, melainkan langsung di pasar tempat orang berdagang misalnya. Atau mengajar kelas teologi langsung dengan bertanya jawab di jalanan. Bisa jadi dampaknya akan dahsyat juga seperti pengajaran Yesus.

c. Chaordik (spontan)
Menurut Gary Goodell, Yesus meneladankan kepemimpinan dengan hidup dan berjalan bersama para murid-Nya, orang-orang yang Dia jumpai sehari-hari, dan para pemimpin agama pada zaman-Nya. Para pemimpin gereja saat ini seharusnya dapat meniru Dia dengan gaya kepemimpinan yang lebih mengutamakan hubungan. Gaya kepemimpinan ini lebih bersifat "chaordik" (kacau tapi teratur), atau lebih spontan. Gaya chaordik ini bukan sekadar berdasarkan pada naskah, teks, atau khotbah formal yang disampaikan dari mimbar, melainkan interaksi dua arah yang dapat membantu para murid bertumbuh dan berkembang dalam karunia mereka melalui pemuridan sederhana. (11)

d. Berorientasi pada aksi
Yesus sungguh memberikan penekanan pada aksi nyata, sebagai bagian dari proses pembelajaran yang hidup. Termasuk ketika Ia mengubah air menjadi anggur, ketika Ia memberi makan 5000 orang laki-laki, ketika Ia mendatangi para murid saat badai, bahkan ketika Ia sedang cemas menyongsong masa penderitaan-Nya. Saya tidak tahu apakah para guru tentang kepemimpinan seperti John Maxwell pernah memberi contoh berjalan di atas air? Rasanya kok tidak.
Maksud saya tentu bukan mengecilkan peran para guru kepemimpina kontemporer, namun ada seni mengajar yang hilang dalam sejarah gereja.
Seingat saya, dalam sejarah gereja hanya ada beberapa orang Kristen yang hidup begitu dekat dengan alam dan mengajar sambil berjalan keliling dari desa ke desa, di antaranya Franciskus dari Asisi dan Sadhu Sundar Singh.

e. Lembut namun juga lugas dan tegas
Yesus senantiasa bersikap lembut secara konsisten, seperti kepada Lazarus, Nikodemus, dan kepada perempuan yang pendarahan dan lancang menyentuh jubah-Nya. Ia tidak marah ketika diurapi oleh perempuan tidak dikenal, dan juga ketika dikerubuti anak-anak yang mungkin agak lusuh. Namun Ia juga bisa tegas ketika melihat bagaimana Bait Suci dijadikan pasar hewan dan penjual riba.

f. Dipimpin Roh Kudus
Teks berikut dalam Lukas kiranya menggambarkan dengan jelas bahwa keteladanan dan semua aksi yang dilakukan Yesus senantiasa diilhami oleh Roh Kudus yang senantiasa tinggal di dalam diri-Nya.

"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara..." (Yes. 61:1)

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda membiarkan Rob Kudus berkarya dengan bebas melalui hidup Anda, atau Anda lebih sering berupaya memadamkan roh?

19 Janganlah padamkan Roh,
20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (I Tes. 5:19-20)

g. Dalam relasi intens dengan Sang Bapa
Ciri yang terakhir dan bahkan yang terpenting adalah hubungan yang begitu intens yang dibangun dengan doa setiap subuh dan malam. Yesus senantiasa hidup dalam penghayatan yang tulus bahwa hidup-Nya tidak lama di dunia, dan Ia persembahkan seluruh hidup untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa-Nya, yaitu menyelamatkan seisi dunia.

Penutup
Demikian sekelumit pemaparan tentang kepemimpinan Trinitarian yang bercorak dialogis-persahabatan, kirnya bergun bagi kita semua.
Tentunya ketujuh ciri kepemimpinan sahabat yang diteladankan Yesus ini masih dalam tahap eksplorasi awal penulis. Namun kiranya dapat menjadi bahan pemikiran bagi pengembangan gaya kepemimpinan yang lebih bercorak Trinitarian, ketimbang model otoriter yang kerap diadopsi pemimpin gereja masa kini"
Bagaimana dengan gaya kepemimpinan Anda?

versi 1.0: 5 september 2017, pk. 22:02
versi 1.0: 6 september 2017, pk. 16:07
VC

catatan:
*Terimakasih kepada bp Pdt. Dr. Joas Adiprasetya.
*Artikel ini ditujukan kepada kolega saya yang sedang menulis disertasi tentang kepemimpinan, Pdt. Philipus.

Referensi:
(1) Len Hjalmarson. Trinitarian nature of leadership. Crucible 5:2. Url: http://www.ea.org.au/site/DefaultSite/filesystem/documents/Crucible/5-2%20November%202013/Hjalmarson%20-%20Trinitarian%20Nature%20of%20Leadership%20-%20Crucible%205-2%20November%202013.pdf
(2) http://www.nextreformation.com/wp-admin/resources/Trinitarian_Leadership.pdf
(3) Gregory Baxter. A leadership training manual for 21st century church. Url: http://digitalcommons.liberty.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1478&context=doctoral&sei-redir=1
(4) Uche Anizor. Url: https://rdtwot.files.wordpress.com/2010/07/anizor-uche_a-spirited-humanity-the-trinitarian-theology-of-colin-gunton.pdf
(5) Elmer M. Colyer. Url: http://www.vaumc.org/ncfilerepository/AC2014/Colyer3.pdf
(6) Nicholas Jesson. Url: https://www.ecumenism.net/archive/jesson_volf.pdf
(7) Ian T. Douglas. Url: http://www.gemn.org/documents/Missiongoal_docs/MATheology.pdf
(8) Novita L. Sahertian. Url: http://www.ijsrp.org/research-paper-0416/ijsrp-p52104.pdf
(9) Milan Homola. Unitarian relational leadership: the myth! (2008) Url: http://consumingjesus.org/wp-content/uploads/milan_homola_-_trinitarian_leadership.pdf
(10) Sigit Setyawan. Menyusun leadership training untuk remaja. Yogyakarta: Andi Offset, 2017
(11) Gary Goodell. Cara Yesus memimpin: sebuah studi dalam meneladani kepemimpinan Yesus yang chaordic. Yogyakarta: Andi Offset, 2017
(12) Benjamin Agustinus Abednego. Pak Abed Berbicara. Surabaya: Penerbit Berderaplah satu, 2011


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Jumat, 01 September 2017

Milenial

Milenial

Tanggal: 2 september 2017
Topik: Prolog untuk lokakarya penjangkauan kaum muda generasi Milenial
Teks: Lukas 24:13-31

Pendahuluan
Selamat sore, bapak ibu dan adik-adik terkasih. Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersama-sama memikirkan tanggung-jawab gereja dalam melayani kaum mudanya. Tanggung-jawab ini tentu bukan saja demi keperluan regenerasi kepemimpinan gerejawi, namun juga karena alasan yang lebih esensial, yaitu perintah Yesus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
Dan generasi kini sungguh haus akan sapaan dari gereja yang ramah dan mampu memahami dunia mereka. Tentu banyak masalah yang dihadapi gereja, bukan saja faktor kurangnya pemahaman akan dunia teknologi komunikasi yang begitu mendominasi dunia orang muda, namun juga gereja sering tidak memiliki arah yang jelas.

Gereja yang gamang melayani orang-orang muda?
Seperti kita ketahui bersama, gereja-gereja arus utama akhir-akhir ini merasakan menurunnya partisipasi pemuda dalam aktivitas gerejawi. Mengapa demikian? Sebagian mencoba menyalahkan gereja-gereja gelombang ketiga yang begitu aktif menjangkau pemuda, namun saya kira persoalan yang ada lebih mendalam dari itu. Kalau mau jujur, gereja seringkali kurang tanggap dalam memahami kebutuhan remaja dan pemuda saat ini, sehingga mereka mungkin lebih suka hang out bersama teman-teman mereka di kafe atau melaluI gawai yang begitu responsif dalam menyediakan segala macam konten.
Lalu apa yang dapat dilakukan oleh gereja?
Berikut ini adalah suatu perenungan dari salah satu tokoh pelayan pemuda di Gereja Katolik, kiranya membantu.(1)

Permasalahan orang muda
- Identitas diri
Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri. Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi permasalahan ini.
Tahun 1992 Keuskupan Agung Jakarta membuat suatu penelitian dengan hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang muda:
Orang muda yang ber umur 13-17 tahun, masalah terbesarnya adalah soal identitas diri. Sedang yang berumus 17-25 tahun umumnya menghadapi permasalahan menentukan karier. Dan mereka yang berumur 25 tahun. plus umumnya bergulat dengan masalah perjodohan.

- Aktualisasi diri
Kecuali kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, orang memerlukan kemudahan dan pendampingan dalam mengaktualisasikan dirinya. Secara sederhana orang muda butuh waktu dan tempat serta teman untuk dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal. Orang dewasa sebetulnya lebih dibutuhkan kehadiran dan keberadaannya lebih sebagai teman daripada sebagai penasihat.

- Pendampingan
Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri. Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping. Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain, maka bila pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya justru dengan aktualisasi dirinya.

Namun, selain ketiga hal tersebut yang memang baik dan perlu, rasanya ada hal yang justru lebih fundamental, yakni bagaimana memperkenalkan orang muda dalam suatu pengalaman perjumpaan yang nyata dengan Tuhan. Hal ini jauh lebih penting daripada sekadar 10 seri pertemuan KTB yang hanya mencekoki mereka dengan informasi namun tanpa pengalaman perjumpaan. Mari kita lihat teks berikut.

Belajar dari Perjumpaan di Emaus
Mari kita lihat teks yang sangat terkenal ini, Lukas 24:13-31

13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

Apa yang kita baca dari teks di atas? Kedua orang ini sedang berbicara tentang peristiwa-peristiwa penting di sekitar Yerusalem, namun mereka gagal memahami makna peristiwa itu dalam terang Alkitab. Bukankah orang-orang muda juga kerap membicarakan berbagai peristiwa yang tampak menakjubkan bagi mereka? Namun, seperti kata-kata bijak berikut: "orang-orang biasa membicarakan orang-orang, orang-orang cerdas membicarakan peristiwa, namun orang-orang besar membicarakan konsep-konsep." Namun kata-kata bijak itu masih kurang satu tahap lagi, yakni orang-orang benar menjumpai Yesus Kristus yang Hidup.
Jadi di sinilah Yesus masuk dalam percakapan mereka, dan Ia menjelaskan kitabsuci kepada mereka, sampai akhirnya mereka mengalami hati yang berkobar-kobar dan pada titik puncak, tabir yang menghalangi mereka diangkat, dan mereka mengenali sang Guru dan Mesias yang dari tadi mereka bicarakan.
Itulah salah satu tugas Gereja yang sesungguhnya, yakni mengantar generasi Z dan milenial agar mereka juga mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus secara personal. Sudahkah kita memikirkan hal ini?

Tantangan Gereja: Membuat ruang bagi Tuhan bersama generasi Milenial(2)
Don Postema mengatakan,"Allah membuat ruang bagi kita dalam komunitas kovenan. Kita dirangkul sebagai anak. Kita menjadi bagian di dalamnya. Kita menanggapinya dengan membuat ruang bagi Allah dengan menjadi terbuka dalam hidup kita, dan dengan hidup dalam rasa syukur."
Tuhan telah membuat ruang bagi kita dan Dia memanggil kita untuk membuat ruang bagi Dia. Dia juga menggerakkan kita untuk menciptakan ruang bagi anak-anak muda agar mereka bisa terlibat di dalamnya. Kita menciptakan ruang itu dengan meneladani penerimaan Allah terhadap diri kita, memberi mereka kasih yang mengatakan: "Engkau adalah milik Allah."
Kita menciptakan ruang itu dengan membentuk kesempatan bagi anak-anak muda kita untuk menjumpai Allah secara pribadi dan langsung. Kita menciptakan ruang itu dengan membimbing anak-anak muda kepada kedewasaan yang seharusnya dimiliki orang dewasa dan melalui itu mereka belajar membuat ruang mereka sendiri bagi Allah.
Lily Endowment mendanai Youth Ministry and Spiritually Project, suatu eksperimen "membuat ruang" bagi anak-anak muda postmodern. Disponsori bersama oleh Youth Specialties dan San Fransisco Theological Seminary, proyek ini berfokus pada membiasakan 16 kelompok anak muda di Amerika Serikat dalam praktik kontemplasi - "praktik untuk menghasilkan kepekaan yang lebih dalam akan kehadiran Allah." praktik kontemplasi ini di dalamnya merenungkan pembacaan Kitab Suci, doa yang berfokus pada mendengarkan Allah, pengekspresian seni lewat puisi dan lukisan, dan disiplin rohani yang lebih tradisional seperti menenangkan diri dalam keheningan, kesendirian, berpuasa, dan berdoa.
Model-model yang dipakai di masa lalu dalam mendekati Alkitab dan doa seperti "lectio divina", kepekaan terhadap Allah yang dipakai oleh kaum Ignatian dalam bentuk examen, dan doa yang berpusat pada kepekaan akan Allah juga dipakai.
Mark Yaconelli menjelaskan alasan di balik diadakannya proyek itu: "Mereka membutuhkan kita untuk memperlengkapi mereka dengan keahlian yang dapat mengembangkan relasi yang intim dan mengubahkan antara mereka dengan Allah."
Seperti kata Jen Butler, seorang asisten pendeta di Oregon: "Kita seharusnya tidak perlu terkejut ketika program seperti ini berjalan dengan baik. Ini sangat sederhana. Jika Anda membuat ruang, Roh akan hadir."
Dengan perkataan lain, para pembimbing rohani kaum muda adalah para pembuat ruang.

Penutup
Mari kita sebagai pembina atau pengurus badan pelayanan belajar untuk mendekati anak-anak muda bukan dengan segunung aktivitas yang dijejalkan, namun dengan menawarkan keramahan dan persahabatan serta mengajak mereka untuk menciptakan ruang bagi Tuhan.
Pertanyaan untuk direnungkan: "Bagaimana kita membuat ruang yang kudus bagi anak-anak muda postmodern ini?"

versi 1.0: 31 agustus 2017, pk. 12:59
VC

Referensi:
(1) Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Url: http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/
(2) Richard R. Dunn. Membentuk kerohanian anak muda di era postmodern. Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2012.


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at:
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
Http://id.linkedin.com/pub/victor-christianto/b/115/167
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://www.amazon.com/Jesus-Christ-Evangelism-Difficult-ebook/dp/B00AZDJCLA
http://www.kenosis4mission.tk
http://www.twelvegates.tk
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation