Selasa, 10 Oktober 2017

Prewangan?

Prewangan?

Teks: Markus 11:28
dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?"

Shalom, selamat malam saudaraku terkasih. Hari minggu kemarin, ibadah di gereja kami dipimpin oleh seorang pendeta senior dari salah satu kota di Jawa Timur.* Ia menegaskan bahwa orang-orang Kristen saat ini jangan mau berpuas diri menjadi orang Kristen biasa-biasa saja, melainkan hendaklah kita berani berjalan dalam iman dan dalam kuasa Roh Kudus.
Saya agak tertegun sekaligus terharu mendengar khotbah yang blak-blakan itu. Sudah begitu lama tidak ada yang berani berkhotbah menekankan berjalan dengan iman dan dalam kuasa Tuhan, mungkin karena di gereja kami segala sesuatu cenderung diukur melalui rasio. Bahkan kalau mau menggunakan ungkapan yang tajam, "spiritualitas seringkali direduksi menjadi rasionalitas."
Tidak hanya itu, beliau juga menyatakan bahwa sudah cukup lama mengalami kegalauan dan frustrasi karena banyak rekan-rekan sejawatnya, para pendeta, yang menuduhnya menggunakan "prewangan."
Mengenai istilah prewangan, demikian penjelasan singkat beliau melalui pesan elektronik: "Prewangan itu roh halus, tuyul, gendruwo, jin, dsb. Banyak orang memanfaatkan hal itu untuk bantu supaya orang itu menjadi cepat sukses."

Kuasa
Padahal beliau hanya berdoa dan terus berdoa tiap kali ada jemaat yang sakit, dan satu per satu mujizat dan kuasa Tuhan dinyatakan.(1)
Kini ia mengadakan khotbah penyembuhan seminggu sekali di gerejanya, dan selain itu beliau mengucap syukur bahwa anak-anaknya juga dikaruniai berbagai kemampuan supernatural yang luar biasa. Misalnya, anaknya yang bungsu dapat memerintahkan kepada galon air isi ulang untuk pergi ke sana atau ke sini, hanya dengan mengatakan,"Dalam nama Yesus, pergi ke sana!"
Bukankah hal-hal ini memang pernah dinubuatkan oleh Yesus bahwa para murid akan melakukan hal-hal yang jauh lebih besar?

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yoh. 14:12)

"Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Mat, 17:20)

Seusai dari ibadah, kami sempat berbincang-bincang sejenak, dan saya sempat menyinggung bahwa seringkali gereja masa kini terlalu mengandalkan kemampuan rasional manusia khususnya otak kiri, padahal spiritualitas yang sejati seringkali melampaui rasio. Tentu itu tidak berarti menjadi anti-rasio, melainkan "supra-rasional."

Penutup
Kiranya artikel ini dapat menguatkan iman pembaca sekalian. Seperti ditulis oleh John Ortberg, jika Anda ingin mengalami kuasa Tuhan dan berjalan di atas air, langkah pertama adalah Anda mesti melangkah keluar dari "perahu" Anda. (2)(3)
Perahu itu bukan hal-hal fisik seperti gereja atau kantor atau pabrik, namun batasan yang Anda buat dalam pikiran Anda sendiri.
Selamat berjalan dalam iman.

Versi 1.0: 10 oktober 2017, pk. 17:22
Versi 1.1: 10 oktober 2017, pk. 18:14
VC

*Terimakasih kepada Pdt. Untung Irwanto.

Referensi:
(1) Ken Blue. Authority to Heal. Jakarta: Yayasan Pancar Pijar Alkitab, 2010
(2) John Ortberg. If you want to walk on water..., url: http://www.zumbrolutheran.org/uploads/worship/sermons/2011-worship/3.9.11-walkonwater1.pdf
(3) John Ortberg. Jika anda ingin berjalan di atas air, keluarlah dari perahu. Surabaya: Literatur Perkantas, 2016.





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Singkong

Singkong

Teks: 1 Tesalonika 5:18
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Shalom, selamat malam saudaraku yang terkasih. Mulai pekan lalu di gereja kami sedang berlangsung bulan keluarga. Lalu sabtu pagi tempo hari (7/10) staf gereja mencabut sebatang pohon singkong yang ditanamnya beberapa bulan lalu.*
Ternyata umbinya lumayan besar, lalu kami foto bersama dan saya mengunggah foto itu di akun IG saya dengan tagline "panen singkong di gereja." Ternyata banyak juga yang menyukai foto sederhana itu.
Tentu bukan maksud saya untuk pamer singkong yang tidak seberapa itu, namun kami belajar mensyukuri berkat dari Tuhan, sekecil apapun itu. Bukankah sebagai gereja kadang kita terlalu sering menggerutu akan berbagai hal: khotbah yang tidak menyapa umat, pejabat gerejawi yang melakukan kesalahan ini itu, lalu sesama jemaat yang melukai hati kita, atau ucapan seorang pengunjung yang kurang enak, dst.
Pokoknya selalu saja ada 100 alasan untuk menggerutu, lalu kita jadi mirip seperti bangsa Israel ketika keluar dari perbudakan Mesir. Padahal, selalu ada 1000 alasan untuk mengucap syukur. "Hitunglah berkatmu setiap hari," demikian syair sebuah lagu.
Tuhan begitu rindu untuk melimpahkan berkat-Nya setiap hari, terutama kepada umat-Nya yang tahu mengucap syukur atas segala berkat yang mereka terima dari Tuhan.
Tuhan yang kita sembah bukan saja Tuhan atas peristiwa-peristiwa besar, namun juga Tuhan atas berkat-berkat kecil. Ia tidak hanya berbicara dalam badai dan tiang api, namun juga melalui angin sepoi-sepoi, artinya melalui hal-hal kecil setiap hari.

Sola Gratia + Soli Deo Gloria.

Versi 1.0: 10 oktober 2017, pk. 18:32
VC

*Terimakasih kepada pak Andreas.







Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Kamis, 05 Oktober 2017

Michelin

Michelin

Teks: Lukas 9:25
"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?"

Shalom, selamat malam saudaraku. Michelin adalah sejenis bintang penghargaan bagi restoran-restoran berkualitas di Perancis. Bintang 1 sudah bagus, bintang 2 artinya kualitas luar biasa, bintang 3 artinya chef kelas dewa. Ada link yang menyebut bahwa hanya ada 27 restoran di Perancis yang meraih bintang 3 Michelin. (1)
Yang unik dengan bintang Michelin ini adalah stres yang luar biasa bagi chef yang menyandangnya.
Begitu stresnya, sampai-sampai ada chef bintang 3 bernama Sebastien Bras yang baru-baru ini menjadi berita lantaran meminta Michelin untuk mengambil kembali ketiga bintangnya.(2)
Mungkin saja, meski belum pasti, bahwa langkah Sebastien itu terinspirasi dari film tentang chef di Perancis, berjudul The Hundred-Foot Journey.(3) Kebetulan kemarin film ini ditayangkan ulang di salah satu saluran tv kabel.

Kisah ringkas
Film ini dibuka dengan Hassan dan keluarganya yang baru tiba di Perancis, namun mobilnya mengalami kerusakan rem di sebuah desa. Mereka berasal dari India. Dan peristiwa ini menjadi inspirasi bagi ayah Hassan untuk membuka restoran India di desa itu.
Ternyata lokasi restoran yang mereka buka berhadapan dengan resto Perancis yang dimiliki oleh seorang wanita Perancis yang sangat konservatif (dimainkan dengan sangat apik oleh Helen Miller).
Tentu saja terjadi persaingan baik terbuka maupun tersembunyi antara pemilik maupun pegawai-pegawai kedua restoran itu. Namun akhirnya, Hassan membantu restoran Perancis di seberang resto ayahnya itu sehingga meraih dua bintang Michelin.
Selanjutnya, Hassan ingin menjajal keahliannya sebagai chef di Paris, kota idaman para chef kelas dunia. Dia bergabung dengan sebuah resto modern, yang menerapkan ilmu gastronomi (bukan astronomi) untuk mengembangkan cita rasa yang spektakuler. Akhirnya Hassan berhasil menjadi chef terkemuka di seluruh Perancis, dan mendapat Michelin ketiga.
Namun, suatu kali ia teringat kembali dengan masakan India, dengan keluarganya, dan akhirnya ia memutuskan kembali ke desa dan restoran tempat ia dulu meraih bintang Michelinnya.

Komentar
Memang ini film tentang bagaimana suka dukanya meraih bintang Michelin, namun saya kira ada pesan yang sangat penting juga disisipkan dalam film ini, yakni: betapapun kerasnya persaingan antara dua restoran yang berhadapan, namun lebih indah kerjasama dan persahabatan. Lihat juga (4).
Pesan penting lainnya, menjadi orang yang berprestasi cemerlang dan dikagumi orang banyak itu memang bagus, tapi lebih bagus lagi menjadi diri sendiri dan hidup dalam sukacita bersama keluarga dan orang-orang yang kita kasihi.
Pada akhirnya, film ini merupakan kisah yang baik tentang filsafat "anti-utilitarianisme," yang sangat berbeda dengan utilitarianisme (Benthamism) yang sangat mewarnai teori-teori ekonomi modern.(5)(6)
Bagi penulis, ajaran-ajaran Yesus sangat bernuansa anti-utilitarian(7), lihat misalnya perumpamaan berikut:

15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk. 12:15-21)

Penutup
Film The Hundred-Foot Journey ini sangat direkomendasikan untuk disaksikan sekeluarga, karena banyak pelajaran berharga tentang nilai-nilai kehidupan dan persahabatan.

Versi 1.0: 5 oktober 2017, pk. 11:07
VC

Referensi:
(1) https://www.eater.com/maps/the-27-michelin-three-star-restaurants-of-france
(2) https://www.nytimes.com/2017/09/21/world/europe/sebastien-bras-michelin-star.html
(3) http://www.imdb.com/title/tt2980648/
(4) Samuel Bowles & Herbert Gintis. A cooperative species. Princeton: Princeton University Press, 2011.
(5) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Utilitarianism
(6) http://www.efm.bris.ac.uk/het/sidgwick/bentham0.htm
(7) http://commons.cc/antropi/wp-content/uploads/2013/02/Anti-utilitarianism-Economics-and-the-Gift-paradigm.pdf



Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation