Senin, 25 Desember 2017

Menyambut keramahan Tuhan

Menyambut keramahan Tuhan

(sebuah renungan Natal)

Teks: Lukas 2:14
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Shalom, selamat malam saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus. Sebagian besar dari Anda tentu lumayan sibuk hari ini, mungkin sejak pagi Anda mengikuti ibadah Natal dilanjutkan dengan saling berkunjung ke rumah saudara-saudara sekota. Kini mungkin Anda baru pulang dari keliling dan bermacet-macet di jalanan, sebagaimana yang juga saya alami sejak tadi siang.
Di tengah segala aktivitas dan kemacetan, mungkin ada di antara Anda yang menanyakan: apa sebenarnya makna Natal? Apakah sekadar serangkaian aktivitas rutin dari tahun ke tahun?
Berikut ini izinkan saya menawarkan sebuah perenungan. Secara ringkas, peristiwa Natal dapat dipahami dalam beberapa aspek berikut ini:


a. Menyambut keramahan Tuhan
Jika kita membaca Alkitab dari Kejadian dengan teliti, kita akan menemukan di mana-mana tentang keramahan Tuhan yang begitu luar biasa. Ia menempatkan manusia pertama di sebuah taman yang indah. Ia memberikan semua buah untuk dimakan (Kej. 2). Dan bahkan ketika manusia pertama dan istrinya memberontak kepada Tuhan, Ia berjanji bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular (Iblis). Inilah yang disebut dengan proto-evangelion (Kabar baik mula-mula). Kej. 3.
Dan sekalipun sepanjang sejarah manusia senantiasa mengecewakan Dia, terutama Israel sebagai bangsa pilihan, namun Ia, Sang Pemilik Kebun Anggur, tetap setia menggenapi rencana penyelamatan manusia.
Caranya bagaimana? Tidak lain yaitu dengan cara Yesus, yang adalah Sang Firman yang kekal, berkenan nuzul mengambil rupa seorang bayi yang lemah.
Tuhan yang adalah "Sang Tuan Rumah," pemilik alam semesta dengan segala isinya, berkenan menjadi "tamu" kepada sebuah keluarga muda yaitu Yusuf dan Maria. Dan sepanjang hidup-Nya, Yesus senantiasa konsisten dalam menawarkan keramahan Sang Bapa, yang memulihkan hidup dari dosa dan penyakit. Namun tidak hanya itu, Ia juga bersedia menjadi penerima keramahan sesama-Nya.
Ia bersedia menerima uluran keramahan dari murid-murid-Nya, termasuk juga dari para perempuan yang melayani Dia dan rombongan-Nya (Luk. 8:1-3).
Dan memang Injil Lukas mengisahkan bahwa sepanjang kehidupan Yesus, ternyata justru banyak orang-orang terpandang pada zaman Yesus yang gagal menangkap pesan keramahan Tuhan yang sedang ber-incognito tersebut.
Justru orang-orang yang dianggap sebagai kaum tidak terpelajar, orang-orang yang tersisih, dan para perempuan yang kerap diremehkan masyarakat, merekalah yang justru membuka diri dan menerima keramahan Sang Firman tersebut.
Jadi Natal pertama-tama adalah kisah tentang keramahan Tuhan, dan bagaimana kita diundang untuk menyambut keramahan Tuhan tersebut.


b. Merayakan kehidupan yang biasa-biasa
Tidak jauh beda dengan kehidupan sosial saat ini, pada zaman Yesus hidup, masyarakat juga diwarnai dengan legalisme serta hidup agamawi yang semu (baca: tidak otentik). Merekalah yang haus akan penghormatan serta status sosial dan berusaha mencapai status sosial dengan berbagai cara.
Namun ternyata, Tuhan mengutus para malaikat untuk memberitakan Kabar Baik bagi sekelompok gembala di padang:

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Siapa yang dimaksud dengan manusia yang berkenan kepada-Nya?
Saya kira Injil Matius menyampaikan pesan yang sama dengan Lukas: yang disebut berkenan kepada-Nya adalah orang-orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya dan lapar dan haus akan Dia.

6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. (Mat. 5)

Rupanya, Lukas ingin menyampaikan pesan tersembunyi bahwa Tuhan berkenan akan orang-orang sederhana, tepatnya orang-orang biasa dengan kehidupan yang sangat biasa, seperti para gembala, Yusuf si pengrajin kayu, dan istrinya. Meski ada juga kisah tentang orang-orang bijak dari Timur (Majusi), namun mereka juga bersedia merendahkan diri di hadapan Sang Firman yang nuzul tadi.
Dengan kata lain, datang dan menyembah di kaki bayi Yesus yang lemah dan tampak tidak berdaya itu berarti kita bersedia melepaskan ambisi-ambisi kita akan sosok sang penyelamat yang serba wah dan gagah, seperti para superhero di serial Marvels. Sebaliknya, kita diundang untuk menerima dan menyambut suatu kehidupan yang serba biasa, dengan orang-orang biasa, bahkan di sebuah kandang yang jauh dari layak sebagai tempat menyambut kehadiran Sang Firman itu sendiri ke dalam dunia.
Mungkin hal ini juga bisa dibaca sebagai suatu kritik terhadap kehidupan banyak orang duniawi, termasuk orang-orang yang menyebut diri mereka Kristen saat ini. Banyak di antara kita yang mencari Tuhan dalam hal-hal yang spektakuler, dalam api yang menyala-nyala, dalam pelbagai tanda kebesaran Tuhan. Namun seringkali, Tuhan justru muncul dalam hal-hal biasa, seperti angin sepoi.
Hal ini juga terjadi pada nabi Elia:

1 Raja-raja 19:12
"Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa."

Ternyata Tuhan justru berbicara bunyi angin sepoi-sepoi basa. Dengan demikian Injil juga merupakan suatu sindiran dan sandungan kepada orang-orang yang menganggap diri mereka terpelajar dan berkedudukan terhormat: jika mereka tidak mau merendahkan diri di hadapan bayi Yesus yang lahir di palungan, maka mereka tidak layak bagi-Nya.
Akhirnya, Injil memang kebodohan bagi dunia ini, namun merupakan puncak hikmat Allah bagi mereka yang menerima Dia. Pdt. Joas Adiprasetya telah menulis artikel yang sangat bagus, bahwa kerapkali mengikut Yesus memanggil kita untuk menjadi bodoh dan bahan tertawaan bagi dunia.(1)

1 Korintus 1:27
"Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat."

Namun berbahagialah Anda yang tidak kecewa dan menolak Dia.


c. Berbagi keramahan Tuhan
Setelah kita menyambut keramahan Tuhan, Sang Pemilik Dunia ini, serta menerima kehidupan yang biasa-biasa, kini saatnya kita belajar makna Natal yang terakhir, yakni kita seharusnya juga tergerak untuk berbelaskasihan dan belajar berbagi keramahan Tuhan itu dengan sesama.(2)
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Kapan terakhir kali kita menyatakan belaskasihan dan keramahan kepada sesama yang membutuhkan? Kemarin? Bulan lalu? Atau tahun lalu?
Tentu berbagi keramahan itu memerlukan sikap penyangkalan diri, terutama karena dunia modern ini terus menuntut kita untuk menjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih tangkas dibandingkan orang lain. Akhirnya hidup kita berisi perlombaan demi perlombaan, adu cepat demi adu cepat, sampai kita mati kehabisan tenaga. Itulah tujuan sebenarnya dari "darwinisme sosial," yang membuat manusia kehilangan empati kepada sesamanya, dan akhirnya manusia menjadi "serigala bagi sesamanya," Hobbes. (3) Dengan kata lain, belajar berbagi keramahan Tuhan berarti kita mesti belajar mengembangkan masyarakat yang berkarakter "social un-darwinism."(4) Lihat misalnya ebook saya di Amazon kindle.(5)

Penutup
Sukacita Natal yang sejati akan kita rasakan jika kita telah belajar merendahkan diri dan menyambut hadirnya Sang Firman, Yesus Kristus, ke dalam hidup kita, lalu kita belajar berbagi keramahan Tuhan dengan sesama yang memerlukan. Pada akhirnya kita akan lebih berbahagia bukan ketika menerima hadiah ini itu dari seseorang, namun ketika kita memberi.

"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kis. 20:35)

Lalu, Natal akan merupakan saat yang tepat untuk bangkit dan mulai menjadi terang:

Ayat penutup: "Bangkitlah, menjadi teranglah sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu." (Yes. 60:1)

Versi 1.0: 25 Desember 2017, pk. 22:25
VC

Referensi:
(1) Joas Adiprasetya. Following Jesus the clown. Theology today, 69/4 (2013). Url: https://www.researchgate.net/publication/258197984_Following_Jesus_the_Clown
(2) http://www.suarakristen.com/2017/12/25/berbagi-kasih-natal/
(3) http://www.minerva.mic.ul.ie/vol6/hobbes.html
(4) Douglas Allchin. Social un-darwinism. American Biology Teacher. Url: http://douglasallchin.net/papers/undarwin.pdf
(5) V. Christianto. How social darwinism ruin America and the world. Amazon Kindle edition. Url: https://www.amazon.com/Jesus-Christ-social-darwinism-America-ebook/dp/B00AZDJJQI






Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar