Selasa, 23 Januari 2018

Dom Knigi

Dom Knigi


Shalom, selamat malam saudara-saudariku yang terkasih dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kalau JesusFreak bercerita tentang perbincangan di pantry, perkenankan saya bercerita sedikit tentang pengalaman saya dulu waktu sedang studi di Moskow sekitar 8-9 tahun lalu.
Karena agak frustasi disebabkan tidak bebasnya mengakses perpustakaan di kampus waktu itu (buku yang akan dipinjam hanya diambilkan, tidak boleh memilih sendiri), maka waktu itu saya berusaha mencari informasi dari galeri seni atau toko buku. Salah satu toko buku yang terkenal adalah Dom Knigi, yang artinya Rumah Buku (dom: rumah, knigi: buku). Lihat (1). Toko buku ini cukup besar di Rusia dan banyak cabangnya di berbagai kota.
Saya merasa sangat terbantu dengan toko buku tersebut,* meski jarang membeli buku yang mahal (waktu itu kurs 1 dolar AS setara 33.3 rubel). Jadinya ya sering ditegur oleh penjaga Dom Knigi.
Namun saya justru sempat melihat berbagai judul buku yang ada, paling tidak judulnya. Jika beruntung, saya sempat membaca kata pengantar dan daftar isi. Di antara yang menarik adalah karya penyair keturunan Rusia, Joseph Brodsky, yang kini bermukim di Amerika.(5)
Dan juga novelis Pelevin yang bukunya, P generation, sudah difilmkan.(4) Sepintas saya menyimak bab awalnya, buku itu menyoroti budaya post-mo di kalangan generasi muda kala itu, khususnya di Moskow. Novel ini secara garis besar berkisah tentang Tatarsky seorang desainer kreatif yang hidupnya berisi dunia gemerlap, penyalahgunaan obat, minuman keras, dan hal-hal lain yang khas generasi P yang dikisahkan oleh Pelevin. Memang saya menjumpai sebagian generasi muda Moskow memang lumayan dekat dengan gambaran seperti itu. Kalau dijabarkan dalam dua kata adalah: hedonisme dan banalitas.
Apakah ini juga mencerminkan generasi muda tahun 2000an hingga kini di pelbagai kota besar termasuk Jakarta? Entahlah, saya bukan pengamat atau ahli sosiologi.

Homo sovieticus
Namun yang menarik adalah tampaknya gejala ini agak berbeda dari yang diamati oleh Masha Gessen, jurnalis The New Yorker asal Rusia. Di antaranya Masha menemukan adanya "spesies" baru yang disebutnya "homo sovieticus." (2)(3)
Yang dimaksud Masha dengan homo sovieticus tampaknya adalah kaum muda (Moskow) yang tidak mengalami susahnya masa komunisme di Rusia, dan akibatnya secara tidak sadar mendukung pemerintahan semi-totalitarianisme saat ini. Apalagi Putin tampaknya cukup cerdik membangkitkan semangat akan kejayaan Rusia dahulu.
Ke mana arahnya semi-totalitarianisme itu saya tidak tahu, namun yang menjadi salah satu kekhawatiran saya adalah kebebasan berpendapat dan berserikat bisa jadi kian dibatasi, khususnya jika ada politikus muda yang berani terbuka dan berbeda pendapat dengan Putin.
Memang dalam diskusi tentang teori pembangunan, sering muncul perdebatan klasik, manakah yang mesti didahulukan: demokrasi liberal atau pemerintahan yang kuat? (8)
Dalam hal RRC tampaknya mereka memilih yang terakhir, artinya mereka sangat tegas terhadap para oposisi, termasuk para sastrawan dan gerakan mahasiswa.**
Yang lebih buruk, kabarnya ada beberapa gereja besar yang dibuldoser oleh pemerintah kota atas perintah Xi Jinping, termasuk gereja injili dengan tuduhan gereja itu beroperasi tanpa ijin resmi.
Apakah budaya represi ini akan melahirkan homo zapiens di RRC yang mirip dengan homo sovieticus di Rusia? Entahlah.

***
Kembali pada Dom Knigi, alasan lain mengapa saya suka "berselancar" di sana adalah karena selain misi formal untuk studi kosmologi di Moskow, ada keinginan tersembunyi untuk mencari jejak Cawan Suci Yesus (Holy Grail). Selain karena penggemar serial Indiana Jones, saya juga termotivasi oleh buku memoar seorang pelancong asal Indonesia yang kabarnya menemukan jejak Holy Grail di salah satu kapel di Moskow.(6)(7)
Namun selama lebih dari 4 bulan saya menjelajahi baik Dom Knigi dan belasan kapel di area kota Moskow bersama beberapa kawan, ternyata saya tidak menemukan petunjuk yang konklusif akan hal itu.

Pesan penutup
Sebagai penutup, ijinkan saya menghimbau kepada para manajer toko buku, agar memberikan kenyamanan khususnya kepada para pelajar dan mahasiswa (asing), karena mungkin toko buku itulah tempat yang nyaman bagi mereka untuk menggali informasi tentang kota Anda. Biarkanlah toko buku menjadi cagar budaya, tempat orang dapat menemukan sejarah kota mereka yang mungkin telah tergusur oleh gegap gempita mal.
Saya teringat beberapa tahun lalu ada sebuah toko buku di daerah Pondok Indah di Jakarta Selatan, yang pernah mengadakan nobar film berjudul Dr. Zhivago. Itu pertama dan terakhir saya melihat film tersebut. Sayang sekali kabarnya toko buku tersebut kini sudah tutup.

Versi 1.0: 23 Januari 2018, pk. 19:51
VC

Catatan:
* thank you so much to management of Dom Knigi to allow "studenski" like me to browse many book titles
** mengenai negeri ini agaknya demokrasi kita terlalu Western alias liberal banget, bahkan mungkin yang paling liberal di Asia. Apakah hal ini mendekati cita-cita para pendiri bangsa atau justru pengaruh Washington Consensus yang diselipkan dalam perjanjian utang LN kita? Silakan para ekonom yang mendiskusikan hal ini.

Referensi:
(1) http://www.moscow.info/shopping/books/moskovskiy-dom-knigi/


(2) Masha Gessen. The future is history. Url: https://www.amazon.com/dp/159463453X/?tag=thneyo0f-20
(3) Masha Gessen. The New Yorker. Url: https://www.newyorker.com/contributors/masha-gessen


(6) Indiana Jones and the Last Crusade. Url: http://www.metacritic.com/movie/indiana-jones-and-the-last-crusade


(7)  Holy Grail in moscow? Url: http://www.moscowid.net/tag/holy-grail/


(8) Marek Matusiak. Georgian dilemmas: between a strong state and democracy. url: http://aei.pitt.edu/58899/1/pw_29_en_1.pdf





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup

Senin, 15 Januari 2018

"... dan dengan segenap akal budimu."

"... dan dengan segenap akal budimu."

Teks: Matius 22:37
37 "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."

Shalom, selamat siang saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan. Baru-baru ini saya terlibat dalam suatu diskusi via surel dengan seorang profesor fisika asal Italia, namanya Prof. Adriano Orefice.
Saya lupa persisnya apa diskusi yang mengawali, kalau tidak salah saya menyinggung tentang perlunya semua orang bertobat, termasuk juga para ilmuwan. Saya lalu menyitir teks Mat.22:37, yaitu bahwa kita mesti mengasihi Tuhan "...dengan segenap akal budi."
Namun kemudian rekan saya tersebut mengajukan pendapat yang agak mengherankan. Kira-kira dia berpendapat begini, kata asli yang digunakan untuk "kasih" dalam teks Mat. 22:37 itu adalah "agapeisis," yang artinya adalah bersimpati atau menyambut. Jadi, menurut dia, dia dapat mencintai istrinya (yang sudah almarhum), dia mencintai anaknya, namun dia bersimpati kepada Tuhan. Dia tidak dapat mencintai Tuhan.
Lalu, saya membandingkan beberapa terjemahan teks Mat. 22:37 dalam bahasa Inggris, dan hampir semua menggunakan kata "love." Jadi saya sampaikan kepadanya memang itu maksudnya ayat ini, yaitu bahwa kita mesti mendahulukan Tuhan di atas rasio atau akal budi kita, bukankah Tuhan yang menciptakan semua kapasitas berpikir kita? Terlebih jika kita membandingkan teks ini dengan Ulangan 6:5. Ayat ini menggunakan kata Ibrani "aw-hab", yang menurut kamus Strong artinya adalah "to have affection to..."(1)
Dengan kata lain, saya tidak menemukan rujukan apapun baik untuk kata aw-hab atau agapeisis, yang dapat diterjemahkan sebagai "bersimpati."


A. Beberapa kisah Alkitab
Baiklah kita mengingat sejenak beberapa kisah tentang para sahabat Tuhan:

1. Simon Petrus. Kata "to have affection to" merupakan padanan dari kata "philia" (Yun.), dan itu dapat kita temukan dalam dialog antara Yesus dan Petrus dalam Yoh. 21.
Ketika Yesus menanyakan kepada Petrus: "Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?", Ia menggunakan kata agapas (ay. 15). Dan saya kira yang Yesus maksudkan adalah merujuk kepada Ulangan 6:5 (pada waktu dialog tersebut Injil Matius belum ditulis). Jadi frase "lebih dari semua ini" lebih menyatakan kualitas kasih itu mesti melampaui apapun, yakni Yesus menuntut kasih dengan segenap hati Petrus dan dengan segenap jiwa Petrus dan dengan segenap akal budi Petrus. Dan Petrus menjawab Dia dengan kata philo. Memang banyak tafsiran tentang ketiga pertanyaan Yesus ini, mengapa Dia bergeser dari agape menjadi philia dalam pertanyaan terakhir (ay. 17), namun penafsiran yang cukup bertanggung jawab adalah bahwa pertanyaan Yesus itu mengacu kepada Ul. 6:5 yang kemudian dikutip dalam Mat. 22:37.

2. Abraham. Demikian pula ketika Tuhan meminta Abraham mengurbankan anaknya, dan akhirnya itu dibatalkan setelah Tuhan melihat Abraham benar-benar akan melakukan hal itu. Jika kita membaca teks ini dalam terang Ul. 6:5, bukan persembahan anak-anak yang diminta Tuhan (seperti banyak terjadi dalam upacara penyembahan berhala tradisional), namun Tuhan menuntut Abraham meletakkan prioritas kasihnya yang terutama untuk Tuhan, bukan kepada anaknya yang diperoleh setelah penantian yang cukup lama.
Saya yakin Abraham juga berat hati ketika dalam perjalanan ke gunung bersama Ishak. Namun ternyata Abraham menunjukkan "aw-hab" kepada Tuhan di atas aw-hab kepada Ishak. Dan iman seperti itulah yang membuat Abraham diperhitungkan sebagai bapa orang beriman. Artinya Abraham menjadi teladan bagaimana kita semestinya menempatkan cinta kepada anggota keluarga kita tetap di bawah cinta kepada Tuhan.

3. Ayub. Dia diberkati dengan kekayaan yang berlimpah dan juga keluarga dan anak-anak yang banyak, namun Iblis menuntut untuk mencobai Ayub dengan mengambil semuanya itu. Ternyata kisah Ayub menunjukkan bahwa dalam keadaan tersulit dan berpenyakit parah pun Ayub tidak mau mengutuki Tuhan, bahkan saat istrinya menyuruhnya berbuat demikian.

Beberapa teladan tokoh Alkitab di atas kiranya menjadikan jelas apa maksudnya frase "lebih dari semua ini" yang diminta Yesus kepada Simon Petrus dan juga itu pertanyaan yang diajukan Yesus kepada kita semua yang mengaku pengikut Kristus.


B. "Dan dengan segenap akal budimu"
Dalam frase ini terletak perbedaan dengan Ul. 6:5 di mana kriteria ketiga adalah segenap kekuatan.

"Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."

Jika demikian, maka kiranya cukup masuk akal untuk melihat bahwa dalam Mat. 22:37 akal budi dianggap lebih penting daripada kekuatan (tubuh). Mungkin dengan pertimbangan bahwa tidak akan ada kekuatan tanpa kehendak yang kuat, dan kehendak senantiasa diawali oleh akalbudi. Coba misalnya Anda diminta mengangkat sekarung terigu seberat 20 kg. Mungkin ada kekuatan namun tanpa kehendak maka niscaya Anda tidak akan mengangkatnya.
Pertanyaan yang langsung menyergap kita adalah: bagaimana caranya mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi?
Izinkan saya memberikan 2 contoh:

1. Bagaimana kita menaati Firman Tuhan tanpa berusaha menundukkannya di bawah rasio. Memang kecenderungan dunia akademis modern terutama sejak era Pencerahan (Aufklarung) adalah segala hal maunya dirasionalisasikan. Misalnya dalam ilmu sejarah, para ilmuwan dilarang untuk memasukkan peran supranatural Tuhan ke dalam narasi sejarah.
Hal ini ikut berimplikasi pada bidang hermeneutik, yang disebut dengan metode "kritik historis"(2), intinya adalah mempreteli teks-teks Kitab Suci dan membedahnya seolah sebagai karya sastra biasa (menolak aspek supranaturalnya). Akibatnya? Ya lalu muncul bermacam teori serba aneh bin mustajab. Misalnya hipotesis JEDP untuk menjelaskan asal-usul 5 kitab Taurat, lalu proyek demitologisasinya Bultmann, dan juga proyek Yesus sejarah seperti yang digaungkan secara ekstrem oleh kelompok Jesus Seminar.(4)

2. Jika Kitab Taurat termasuk Kejadian dianggap merupakan hasil kerja tambal sulam dari kelompok-kelompok yang saling terfragmentasi (JEDP), maka narasi Kejadian lalu dianggap tidak lagi merupakan catatan yang secara historis akurat, melainkan sering disebut sebagai "narasi sakral" (lihat mis. artikel Dr. Anwar Tjen tentang Yerusalem dalam artikel di Kompas baru-baru ini), atau "mitologi sakral." Memang diakui sakralnya, tapi toh derajatnya diturunkan menjadi sekadar mitologi saja.
Kebetulan penulis lumayan menekuni bidang kosmologi, dan dalam salah satu paper terbaru kami (5), kami menunjukkan bahwa adalah mungkin menggagas model penciptaan awal tanpa melibatkan hipotesis titik singularitas di awal penciptaan (Georges Lemaitre). Paper-paper awal Lemaitre jika dibaca teliti lebih termotivasi oleh teori relativitas dan mekanika kuantum ketimbang bersumber dari penafsiran yang setia terhadap narasi Kej. 1:1-5.
Sementara itu, jika kita menafsirkan teks Kej. 1:2 dalam terang teologi Trinitarian, maka dimungkinkan untuk sampai pada hipotesis bahwa alam semesta dulunya memang sudah lama ada (meski tidak berbentuk dan kosong), namun mendadak mengambil bentuk yang mendekati bentuk saat ini (sudden burst into creation). Dengan kata lain, hipotesis "sudden burst creation" ini hendak menunjukkan bahwa penciptaan langit dan benda-benda penerang dalam waktu beberapa hari itu bukan hal yang tidak dapat dimodelkan secara matematis.

Penutup
Demikianlah beberapa contoh telah dipaparkan di atas seputar bagaimana kita semestinya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita. Dengan kata lain, segala bentuk asumsi atau teori yang berasal dari (rasio) mesti ditundukkan di bawah otoritas Firman Tuhan.

Tuhan mengasihi Anda semua.

Versi 1.0: 16 januari 2018, pk. 13:21
VC

Referensi:
(1) http://biblehub.com/lexicon/deuteronomy/6-5.htm
(2) https://christianpublishinghouse.co/2017/01/16/historical-criticism/
(3) https://timeincosmology.com/
(4) http://www.mychristianmind.com/2014/03/the-jedp-theory-is-wrong/
(5) V. Christianto & F. Smarandache. Lihat paper no. 4 dalam buku kami: 10. NEW book! Let the Wind blow: Physics of Wave and Only Wave. (January 2018). Bisa diunduh secara cuma-cuma di url: http://www.academia.edu/35627925/Let_The_Wind_Blows_PHYSICS_OF_WAVE_AND_ONLY_WAVE


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Mukjizat Tuhan di gurun Negev


Mukjizat Tuhan di gurun Negev

*Mukjizat…!!! Menyaksikan Proses Detik–detik Lahirnya Sungai di Padang Gurun Israel*

Kemarau Panjang Melanda Seluruh Wilayah Israel. Banyak Doa Yang Sudah Di panjatkan Dan Inilah Jawaban Atas Doa Mereka.

Pihak pemerintah Israel mengumumkan kondisi negara dalam keadaan darurat soal pasokan air. Level merah menunjukkan keadaan ini benar – benar membahayakan kehidupan. Hal itu diakibatkan oleh kemarau panjang yang tak kunjung berakhir. Hampir empat tahun, kemarau terus melanda Israel tanpa henti. Parlemen Israel menyatakan belum mampu menemukan solusi untuk mengatasi keadaan sulit ini. Berbagai upaya telah dilakukan namun tidak banyak memberikan hasil. Pasokan air terus menyusut dan semakin gawat darurat. Sungai–sungai seakan hilang ditelan bumi dan level air danau terus menyusut sangat drastis.

Pemerintah tidak tinggal diam. Banyak upaya telah dilakukan termasuk mengadakan "Doa Nasional" untuk meminta hujan. Semua warga Israel yang dikenal dengan sebutan negara Yahudi itu berkumpul di rumah–rumah ibadah seperti Sinagoga. Dan kegiatan doa yang dilakukan terpusat di "Tembok Ratapan". Doa dipimpin oleh para rabi–rabi Yahudi. Siang malam mereka berdoa di Tembok Ratapan dengan tiada henti.

Pada puncak acara doa, Ovadiacq Elihu, seorang Rabi Yahudi berusia sekitar 80 tahun meniup Sangkakala diselingi dengan doa dan nyanyian pujian penyembahan kepada Tuhan Allah Israel yang MahaKuasa. Sesekali ia mengangkat Sangkakalanya tinggi–tinggi, mengingatkan kita kepada Nabi Musa yang selalu mengulurkan tangannya ke atas pada saat menghadapi musuh dan yang selalu berbuah kemenangan. Ia secara terus menerus memanjatkan doa yang tidak biasa dan sulit dipahami. Mirip dengan Doa dalam bahasa Roh. Sambil tak henti–hentinya memanjatkan doa, ia memerintahkan beberapa orang untuk pergi ke sebuah sungai di tengah padang gurun yang ada di dekat bukit–bukit berbatu. Tujuannya untuk melihat apakah sungai itu sudah ada tanda–tanda akan terisi oleh air. Tapi orang suruhan itu segera kembali dan melaporkan bahwa sungai masih tetap kering dan tidak ada tanda–tanda akan datangnya hujan.

Sang Rabi mengajak semua jemaah dan segenap para tua–tua Israel untuk terus berdoa dengan tidak henti – henti sampai sesuatu terjadi. Suara riuh Sangkakala ditambah dengan lantunan doa dalam bahasa Roh yang tiada henti seakan merobek langit di atas kota Suci Tembok Ratapan di Jerusalem. Mukjizatpun terjadi, yang dinantikan pun segera tiba dengan amat mencengangkan. 

Sekumpulan benda putih seperti gumpalan-gumpalan kristal tampak bergulung–gulung dari arah hulu Sungai. Yah, gumpalan putih itu adalah sekumpulan air jernih dalam jumlah yang sangat besar mengalir dengan begitu deras membawa suka cita hingga ke hilir sungai.

Dalam sekejap, sungai itupun dipenuhi oleh air seakan–akan sedang di musim hujan, padahal ini adalah siang bolong di tengah kemarau panjang. Itulah bukti kuasa doa sekaligus memberitahukan kepada kita semua bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang MahaKuasa dan pembuat segala mukjizat seperti yang sudah diberitahukan di dalam kitab suci Alkitab. Yang tampaknya tidak mungkin tapi semuanya menjadi mungkin. *SEBAB, BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL (Lukas 1:37)*

GOD IS THE LORD WHO DOES MIRACLES


Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Senin, 08 Januari 2018

Relativity Theory against basic Logic


---------- Forwarded message ----------
From: Akira Kanda 


Einstein took another passage to God. He pushed this humane created
relativity theory which denies the absolute replacing it by relative.

Naturally he ended up with the problem of the Principle of Relativity
which was the last ditch effort to rescue the inevitable collapse of the
world view of Relativity. He reduced the relative motion to just constant
speed motion and yet, he ended up with the Time paradox and length
paradox. I debunked their last ditch effort to defend their relative
theory by showing that Einstein's proof for time dilation and length
contraction comes from a thought experiment which also contains a
contradiction. Einstein either did not see this or he deliberately ignored
it to make a case. In either way Physics must repent! [I am talking about
the train power pole thought experiment].

Naturally Time Dilation deduced the so called Twins paradox. Physicists
excuse was pathetic. They used acceleration to "debunk" this paradox. They
said, one of the twin goes out and come back and so he went through
acceperlation. According to them this prevents the paradox of each of the
twins see the other younger. What kind of brain the self-proclaimed King
of Science has? Their reasoning is much worse than elementary school
student's reasoning. I call it disgusting "freemason's reasoning".

1. Special Theory of Relativity works only under the assumption of no
acceleration. This is to protect the Principle of Relativity.

2. Granted it was possible to use acceleration accepting their STR
dynamics which is supposed to deal with accelerating frames without
violating the Principle of Relativity?! Use brain a little more. Again
even an elementary school science student will understand that when both
twins move away completely symmetrically and come back, we still have the
problem. Each will see the other younger.

3. They do not notice that this thought experiment has to discuss the
situation where two twins do not stop and meet. They have to assume that
they pass each other at very close distance.

I have no more time to baby sit these totally spoiled masonic morons who
take themselves too seriously. What kind of nerve do they have to call
themselves the King!? Enough is enough.

As a mathematical logician, I will tell these masonic morons exactly how
they reason and why it is all wrong.

They assume 8=1. From this they rightly conclude 7=0. Now they proceed,
1=0. Then they conclude x=0. Thus they make a stupid claim that all
numbers are equal to 0.


As a man of God, Newton knew all of this nonsense and so he completely
shut down the empiricism. Empiricists did not see anything wrong with this
kind of reasoning and they used it to get whatever they want. In most
cases, things like 8=0 was "induced" from incomplete and mostly invalid
experiments. All serious logicians know that we can don't conclude
anything from experiment. This was clearly warned by Popper and Kuhn. The
king of science had no intellectual capacity to understand the warning.

Another stupidest mistake of freemasons. It was the stupid Dutch man
called Lorentz who panicked when he discovered that the Galilean transform
of wave equation is not. Idiot, Galilean transform of a wave function is a
wave function. This is what led Lorentz to obtain this fake transformation
called Lorentz transformation, with which Einstein screwed up the entire
physics world. The reason why Galilean transformation failed to produce
wave equation when applied on a wave equation is simple. It is because
wave equations are not correct representation of waves.

It was Prof. Urquhart a mathematical logician, who said "Physicists have
no logic." So true! of course he refused to say it publically for the fear
of witch hunt by Physicists who controls Western Academia!

Akira



Selasa, 02 Januari 2018

Visiun sebelum pengangkatan


*BERTEMU YESUS - GEMPA BUMI DAN PENGANGKATAN ORANG PERCAYA KESAKSIAN SAVANNAH (9 TAHUN)*

Beberapa hari silam TUHAN memberi saya pesan bahwa akan ada *Gempa Besar* sebelum pengangkatan terjadi dan jutaan manusia akan terbunuh.

Bertemu Yesus – Gempa Bumi dan Pengangkatan orang percaya | Savannah. 9 Year Old Sees Jesus And This Is What He Told Her. Shalom, begini kisahnya:

Ibu Savannah:
Selamat sore semuanya. Saya ingin berbagi dengan saudara semua mengenai apa yang TUHAN telah wahyukan kepada anak perempuan saya yang berumur 9 tahun.
Anak saya berumur 9 tahun dan dia mendapatkan penglihatan atau mimpi dari TUHAN. Oke mari kita cermati sebagai berikut..."

Savannah :
Halo semuanya saya Savannah, waktu itu saya pergi ke kamar saya, berdoa dan TUHAN memberi saya sebuah visi. Dalam visi itu saya melihat TUHAN YESUS yang mengenakan pakaian serba putih dan selempang warna merah dan biru.

Dan DIA berkata kepada saya, 'Putri-KU ... AKU ingin kamu memberitahu semua orang bahwa : *AKU akan datang segera dan AKU ingin semua dari mereka untuk memintaKU masuk kedalam hati mereka dan percaya kepada-NYA.*'

Beberapa hari silam TUHAN memberi saya pesan bahwa akan ada gempa besar sebelum pengangkatan terjadi dan jutaan manusia akan terbunuh. Dan saya ingin berbagi dua ayat Alkitab favorit saya ....

Ibu Savannah :
Apa yang TUHAN katakan setelah gempa bumi itu terjadi ?

Savannah :
Setelah gempa bumi terjadi, pengangkatan terjadi dan semua orang yang percaya TUHAN YESUS akan diangkat.

Ibu Savannah :
Akan tetapi tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, seberapa cepat, tapi setelah gempa bumi ?

Savannah : "Ya". Ibu Svenna : "Ayat Alkitab mana yang ingin kamu sampaikan ?"

Savannah :

"Yohanes 3:16, Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan ANAK-NYA yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-NYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dan Yohanes 14:6, Kata YESUS kepadanya: "AKUlah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada BAPA, kalau tidak melalui AKU."

Ibu Savannah : "Terima kasih telah mendengarkan."

Savannah : "Saya akan ke sorga."

Ibu Savannah :
TUHAN memberkati saudara semua saya berharap bahwa pesan itu akan mendorong saudara. Dan saya hanya mendorong saudara untuk terus melihat keatas karena

RAJA akan datang kembali sangat segera dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. TUHAN memberkati saudara. TUHAN mengasihi saudara dan sampai ketemu lagi di lain waktu.


Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.